Cerpen Edna S (Singgalang, 17 Oktober 2021)
SENJA sudah melarut. Ia masih betah di tengah parak bersama makam Badriah. Cik Bidin datang menjelang.
“Besok kita rambah ini bersama, Bak. Aku pastikan tak ada satupun benalu yang tumbuh di pekarangan tempat amak dimakamkan.” bujuk Cik bidin.
“Baik, ayo tuntun abak menuju pulang, hari memang sudah kelam.”
Semenjak kepergian Badriah, Cik Bidin sangat risau melanjutkan ritual amburadulnya. Kepergian ibunya begitu menyakitkan baginya. Siapa yang mencucikan bajunya yang bercendawan? Menanakkan nasi serta membersihkan ranjangnya?
Ia lebih sadar diri, lebih sering di rumah daripada keluyuran dari pada menjadi sampah penduduk kampung. Ia juga risau dengan perangai Abak yang sudah semakin pikun rabun pula. Ia tak tega lagi membiarkan lelaki bungkuk itu ditinggal oleh belahan jantung hati yang sudah dibagi-bagi dan ada pula yang sudah mati.
Azan Magrib terus melantun mengabarkan tanda malam akan datang, salat akan didirikan. Pintu rumah yang kayunya sudah dikerubungi asai dan anai-anai berderit disingkap Acik Bidin. Rumah itu jua semakin tua, pelupuhnya sudah lapuk, gentengnya yang tiris jika hujan serta dinding kayu yang rompong-rompong digirik kumbang.
Semenjak kepergian Badriah pula, rumah itu disapu hanya sekali dua hari, kasur Imron dan anak bujangnya hanya dikibas-kibas dua hari dalam sepekan. Sarang laba-laba bergelantungan di loteng serta kamar mandi yang disikat dua kali dalam sepekan.
Imron dan Cik Bidin tentu membersihkannya. Namun, sebersih perempuan membersihkan tentu tidak. Mereka menyapu, menyikat, mengelap, memasak, mencuci, hanya sekadarnya. Sudah bisa digunakan kembali, berarti sudah cukup.
Sesekali Milah pulang ke rumah Imron dan Acik Bidin. Sesekali pulalah rumah itu disentuh tangan perempuan, tentu sesekali pula dengan masakan yang pas. “Tinggalah bersama kami kembali Uni. Tak ibakah dengan Abak. Rumah gadang ini tak kubawa pula kelak ke rumah calon biniku. Unilah yang seharusnya merawat rumah ini.” Pinta Acik Bidin pada kakak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara.
“Jika alasannya kamu tak mau mengurus Abak, baiklah, biar Abak tinggal saja di rumahku. Jangan pandai pula, kau membawa nama abak untuk menyuruhku tinggal di rumah ini. Kau lihat sendiri bagaimana keseharianku, Cik, aku juga punya suami yang aku urus. Pekerjaan yang tidak mungkin aku kerjakan serta mesin penumbuk padi yang aku kelola. Jika berat hatimu mengurus beliau, katakan saja!” begitu ketus Milah ketika Imron menawarkan uninya tinggal di rumah kembali. Sejak itu pulalah Cik Bidin tak menaruh harapan apa-apa pada kakak perempuannya itu.
Abaknya, Imron sudah menduga dengan pendirian anak perempuannya. Oleh sebab itu ia tak pernah meminta lebih, datang saja sesekali menjenguknya sudah mujur. Jikapun ia tinggal bersama Milah, pastilah tak seenak tinggal di rumah tua ini. Ia sadar pula dengan umur tua begini paling banyak menyusah daripada memudah.
***
SEMBARI menunggu Imron menunaikan Salat Magrib. Acik Bidin menuju dapur, memanaskan air untuk dipindahkan ke termos. Siapa tau pula abaknya Imron, mau mengopi selesai Salat Magrib. Ia juga mencuci piring yang sudah kotor sedari pagi. Ya, sekedar bersih sudah cukup. Remang senja benar-benar sudah kelam, jalan pulang memang tak nampak lagi. Lagi pula siapa yang akan bertamu di malam kelam ke rumah?
Busa-busa sabun menyembul di tangannya, lagi-lagi mata Si Bidin rindu kehadiran perempuan yang sering ia susahkan berkepanjangan, Amaknya, Badriah. Ia rindu segala hal tentanngya. Baru kini pulalah terlintas dalam pikirannya untuk beristri. Ternyata tangan perempuan memang sangat multifungsi. Ia usap matanya yang berair itu, kecipak air leding begitu mengucur, begitu jua dengan air matanya.
Ia kembali menoleh ke bilik Imron. Lelaki bungkuk itu tengah menengadahkan tangan ke langit, memintalkan doa-doa pada Tuhan. Mengadukan nasibnya yang tak karuan.
“Ya Allah, Tuhan yang merenggut nyawa Badriah, yang sudah memikunkan pendengaranku, juga yang sudah merabunkan mataku. Bantulah aku menuju pulang, jangan jalanku semakin kelam seperti jalan yang ditempuh anak-anakku. Ya Allah, tolong sampaikan kepada kepingan jantung hatiku yang berserak di dada Badur, Munir, Milah agar mereka segera menetap tinggal di rumah ini. Aku tak sanggup meminta pada buah cintaku itu. Dayaku tak sampai menyuruh mereka pulang seperti mereka sibuk bermain sewaktu bocah dulu.”
Mendengarkan ratap lelaki tua itu tersentak pula Cik Bidin ingin menunaikan salat Magrib di biliknya.
Sejak ia lahir hingga mengecap umur 30 tahun, baru sekali inilah Cik Bidin menunaikan salat dengan sangat khusuk. Hatinya tergerak begitu menyaksikan orang tua itu bersedekap dalam ratapannya pada Sang Khalik. Selesai berwudu, ia menggelar sajadah lusuh yang sangat sering dipakai mendiang ibunya, Badriah. Air mukanya kembali teringat bayang-bayang mandeh.
Takbir pertama sudah membayang genangan air, beseraklah saat mengucapkan salam, salam kepada Allah. Ia tak mampu mengisak dengan kata-kata. Ia tengedahkan tangan, tapi yang berderai hanyalah air mata. Entah ia menangis karena begitu sungguh dalam berdoa atau menangis akan malangnya kehidupan di dunia.
Abak sudah mengopi di Palanta rumah, rumah tua itu semakin redup ketika Abak mereguk kopi dan memanggil Cik Bidin untuk dibawa bercerita.
“Manusia memang begitu Cik, mereka lupa yang paling kaya dari dirinya, yaitu cinta keluarga. Mereka menafsirkan kaya dengan uang selilit pinggang, mentereng dengan gelar yang mengkelakar, lebih baik masyur di mata tetangga daripada di mata keluarga.”
Cik Bidin yang mendengarkan tentu tersinggung kurap lamanya ketika ia berkeliaran tidak berketentuan menyemak mata orang.
“Aku mengira kaulah yang tak tau diri, tapi lebih tak tau diri saudara-saudaramu. Mata mereka memang sudah gelap dengan kekayaan dunia yang sekejap. Lebih tak menyangka lagi, kau buruk, tak punya pekerjaan, dihina orang kampung, tetapi dengan kau jualah aku bertanggang dan mengibakan nasib.”
Pandangan Imron kemudian jauh terpental ke pohon rambutan. Cik Bidin tidak mengiyakan, juga tidak membantahan omongan Imron. Cik Bidinpun terbuai dengan lamunan.
***
SEBULAN yang lalu, Imron dihubungi Angah Puyan. Ia tak mengerti mengapa Angah Puyan yang sibuknya berbisnis bumbu di Tanah Abang menghubunginya via telepon. Firasatnya lebih tak mengerti lagi, ia menduga ini akan berkaitan dengan salah seorang saudaranya, Badur dan Munir, yang pernah dibawa bekerja ke tanah Jawa bersama Angah Puyan.
Lama ia akan menyentuh tanda hijau di layar androidnya. Ia terpikir apalagi urusan Angah Puyan dengan keluarganya. Sudah mengajak dua orang saudaranya, tiga tahun putus kontak. Kali ini membawa berita lain pula. Namun itu bukan suara Angah Puyan.
“Iya, Cik Bidin. Ini Uda Munir. Uda Munir, anak amak dan abakmu.”
Kalimat itu sungguh membuat jantung Cik Bidin seperti kesentrum listrik begitu lama. Mimpi apa pula Munir yang katanya sudah menjadi mantu orang kaya dan nasibnya yang sudah wah, tetiba tergerak untuk menghubungi keluarga yang sudah terkatung sepuluh tahun semenjak kepergiannya ke rantau orang.
“Bagaimana kabar Amak? Sudah lama tak mendengar ocehan beliau.”
Sungguh menggigil jantung si Bidin, mukanya ikut memerah, tangannya mengepalkan tinju yang tau diantukkan kemana.
“Uda Munir? Ia sudah lama mati dirantau orang. Aku sudah berkali-kali berencana membuat makam kematiannya di samping pusara amak. Namun, aku berpikir lagi, terlalu mulia Uda Munir dimakamkan berdampingan dengan amak. Amak yang meratap hingga sakaratul maut menunggu kedatangan Uda Munir dan Uda Badur, tak sudi mendapat tempat di makam keluarga!” Naik-turun napas Cik Bidin mengupat, berkobar-kobar kata berapi yang ingin ia serapahi pada Uda Munir.
“Ampunkan Uda, Cik. Ampunkan Uda.” Berkali-kali dua lelaki dewasa itu memecahkan tangis yang mengiris-iris tajam, mengoyakkan luka-luka kehidupan. Begitu banyak yang ingin Cik Bidin beri tau dan begitu sedikit yang terucap dari mulut Munir, lebih banyak dengan cucuran air mata.
“Uda akan pulang dan akan menetap di rumah kita, bersama mantu dan cucu-cucu Abak dan Amak. Kabari pada Abak, berita baik ini. Tunggulah dua bulan lagi di ranah minang.”
“Jangan menyebut rumah kita. Tak pantas keluar dari mulut anak durhaka seperti Uda. Cuih! Persetan dengan anak dan istrimu!” Pekik Cik Bidin dan menutup dengan keras percakapan itu.
***
PAGI, selesai Salat Subuh Cik Bidin sudah lebih dulu bergegas ke belakang rumah, menebas semak parak yang sudah setinggi tagak. Ia sudah berjanji tidak akan membiarkan sehelai rumput liarpun yang hidup di parak itu. Ia akan pastikan mata Abak tak perlu susah menyibak semak untuk menatap makam Amak yang juga berada di parak itu. Ia berjanji untuk memudahkan Imron pulang ke rumah dengan mudah tanpa perlu meraba-raba yang akan dipijak.
Sebelum pergi ke Parak ia sudah memberitahu Imron, bahwa ia akan lebih dulu ke Parak. Imron hanya mengangguk dan melayangkan senyum tanpa beban kepada Cik Bidin. Cik Bidin juga heran dengan senyum itu, lebih lagi lega melihatnya.
“Abak ingin berbaring dulu sebentar. Pagi buta memang segar dan dingin untuk ke Parak. Golok, tajak, sabit abak taruh di dalam katang. Nanti abak akan menyusul.”
Namun matahari sudah semakin meninggi. Imron masih belum jua menuju parak. “Ah, mungkin Abak ingin beristirahat lebih lama lagi. Jika sejam lagi belum datang, barulah aku jemput.” Gumam Cik Bidin sambil mengayunkan tajaknya.
Sudah sejam berlalu, peluh Cik Bidin sudah membasahi punggung. Ia pun berencana untuk pulang menjemput Imron sekaligus untuk makan pagi. Ia lihat Imron masih berbaring di kasurnya. Cik Bidin menuju bilik Imron, “Bak, mari makan.” ujarnya sambil mengoyangkan badan Imron. Namun Imron tak membalas sahutan. ***
.
Jalan Kelam Menuju Pulang. Jalan Kelam Menuju Pulang. Jalan Kelam Menuju Pulang.