KERBAU KALANG

Sajak-sajak Novan Leany (Jawa Pos, 16 Oktober 2021)

LEMANG

.

Menyerbak ke hidungmu;

wangi santan yang dilupakan

dari rasa hambar di pangkal lidah

sebab sungai katamu, sejak lama

memberikan kota tanpa sejarah

.

Panggil saja aku Lemang,

lahir dari rahim lubang bambu

yang dibedong daun pisang

tatakkan waktu acil jalan Sebatik

yang dikelambui derita

dan mata lentera

.

Di hulu subuh tahun 90

tatkala perut para perantau

serupa tungku

ciumlah bau hangitku tuan,

saat zaman mendidihkan luka pelan-pelan

macam gemeretak lengan sangkak

menanak beras ketan;

(jangan aku dikitip dengan asinmu)

.

Dikaukah tepianku?

Minang atau Melayu

yang merentangkan

segala batang dan akar

tumbuh di tubuh

sebagai nyiur tak bertunas

.

Maka, sebelum ingatan

dibentangkan sebagai kepuhunan

jadikan saja potongan hidupku

santap hantaran panai atau tanaikan

ke surau sunyi, dari

sebat rotan di batis santri

yang tak bisa mengaji

.

.2021

.

.

.

TERMINAL SUNGAI KUNJANG

.

Sekadar perpisahan

di terminal Sungai Kunjang,

seperti bintang sendiri yang menantang

sorot mata pagi di ubun malam

.

Kita tahu; kata terakhir dari janji bujang

hanyalah senyum wajah pedagang asongan

yang tidak bisa mudik di hari Lebaran

.

Lekas kemas kopermu, barangkali

berisi kemeja terakhir, alamat buta,

atau tumpukan map kumal

sebagai musim derita

tanah kelahiran kita

.

Kata Tuhan, kita perlu percaya

segala puing kesedihan

pasti terhitung dan tercatat

bahkan kalut yang tampak

di saku celanamu, sekalipun

.

Berangkatlah kamerad,

tidak ada makna lagi yang kau tangkap

selain bus tua yang berangkat dan datang

sebising tangis masa kecilmu di pemakaman

atau bagasi barang yang mulai terbuka

bagai penampungan dingin

romusa Balikpapan

.

2021

.

.

.

KERBAU KALANG

.

Persetan kemu mereka sayang,

aku pastikan kau selamat

sampai ke kalang

.

Kusematkan cinta di ujung tandukmu

sembari memburu segala letih penantian

aku penggembala bisu yang menyesatkan

rindu dalam rawa-rawa awakmu

maka, jangan seruduk aku

.

Di bukit petilasan Melintang pasang

engkaukah yang membenamkan wajah?

.

Seperti tenggelam dalam keragu-raguan

melarungkan berawai dengan dayung sampan

.

Siapa yang mengikat betis di pohon dan batu

siapa yang menyemat kepala di dinding rumah kayu

siapa yang menyerat-nyerat kulit di emperan toko baju

.

O, dosa di tubuh bagai

daun luruh di sungai keruh!

.

Sesungguhnya kita juga terantuk kaku sayang,

bagai penjelajah terjerat masa lalu

dari mungkar sejarah yang acap kali

mencemooh kampung halaman kita

.

Umpati aku dalam barisan

bukit timur sayang,

aku pastikan kau selamat

sampai ke kalang

tetapi, sebelum maut mengintai

selami lambung lukaku

dengan kemumu

.

2021

.

.

.

NOVAN LEANY. Lahir di Samarinda, Kalimantan Timur. Pegiat seni dan pencinta kopi. Buku pertamanya Eufolina (2019). Kini bergiat di komunitas Macandahan.

.

KERBAU KALANG

Arsip Cerpen di Indonesia