Cerpen Dewi Sukmawati (Radar Banyumas, 08 Maret 2020)

Lelah rasanya bekerja ketar-ketir seperti ini. Tidak ada bedanya aku dengan kuda sekarang. Kuda dan aku sama-sama bekerja keras. Seandainya kuda itu manusia, lebih baik aku menikah dengan kuda. Setidaknya ia bisa cukup bekerja keras untukku. Karena menikah itu bukan hanya perihal basa-basi tentang cinta. Menikah itu perihal uang, uang, dan uang. Mati sudah pernikahan bila uang saja tidak bisa dilahirkan.
Statusku sekarang seperti daun kering yang gugur di musim hujan. Lalu, disapu oleh petugas kebersihan. Beruntung saja daun itu diolah menjadi pupuk. Setidaknya ia tidak mati seperti daun lain yang dibakar.
“Yung. Ayo ke warung. Narti sudah lapar.”
Beginilah resiko bekerja membawa anak kecil. Uang saja belum berhasil aku dapatkan. Dia sekarang kelaparan. Seandainya daun-daun yang aku sapu ini bisa dimakan, mungkin ia akan kuberi saja dia daun-daun yang jatuh dari takdirnya ini.
“Yung. Ayo kita makan.”
***
“Yem. Kalau mau hutang jangan di sini. Hutang kamu itu sudah menumpuk. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Sampai aku rugi dan bangkrut hah?,” bentak pemilik warung makan dekat tempat kerjanya.
Tuyem dan putrinya pergi dari warung itu. Anaknya memegangi erat baju Tuyem sembari satu tangannya memegang perut kecilnya. Mungkin ia benar-benar lapar. Atau mungkin sangat lapar. Tuyem selalu saja lupa memberinya waktu makan. Dan saat sampai kembali ke tempat ia bekerja, ia baru menyadari bahwa anaknya tidak bersamanya. Dengan penuh rasa khawatir ia mencari anaknya. Kakinya yang tidak memakai alas kali dengan lincahnya berlari -kembali menelusuri jalan yang mengarah pada warung makan yang tidak mau memberikannya kesempatan.
“Narti, Biyung itu tidak punya uang kenapa kamu di sini? Ayo Narti. Lebih baik kita pulang. Nanti kita minum air putih sama-sama yang banyak. Pasti kenyang,” bujuk Tuyem pada Narti yang sedang melihat ibu-ibu memakan bubur ayam dengan begitu nikmat.
“Dari kemarin Narti sudah minum Yung. Narti lelah minum terus Yung. Biarlah Narti sebentar di sini. Narti tidak masalah walaupun melihat orang makan saja. Biarkan Narti kenyang berhayal bisa makan bubu ayam ini Yung.”
Air matanya jatuh dan tidak bisa dibendung lagi. Ia sangat terpukul atas apa yang dikatakan anaknya. Ia memeluk anaknya. Membujuk anaknya untuk pulang. Tapi anaknya tidak mau. Ia masih ingin menikmati halusinasinya. Sampai akhirnya ia menggendong anaknya dengan paksa. Anaknya masih saja memberontak. Bahkan menangis dengan kerasnya. Orang-orang melihatnya dengan begitu sengit karena sarapan pagi mereka terganggu. Narti memang sangat menginginkan bubu ayam sejak dulu. Tapi apa daya, Ibunya hanya petugas kebersihan sukarela. Bayarannya tidak pasti. Ia harus bisa membagi uang serta menentukan hari apa ia dan anak-anaknya bisa makan. Dan di hari apa ia dan anak-anaknya harus kenyang dengan minum air putih.
“Sudah jangan menangis. Kita duduk di taman yah. Nanti Biyung ceritakan satu kisah biar laparmu hilang.”
“Sungguh Yung?”
Tuyem mengangguk. Sekarang Narti sudah tidak lagi memberontak. Ia duduk di samping Ibunya dengan tangan masih memegangi perut kecilnya.
“Tolong ceritakan KHONG GUAN Yung.”
Tuyem mengangguk. Ia mencoba duduk dengan nyaman. Karena cerita ini pasti akan membuatnya sirih dan gerah. Tapi apa boleh buat. Dia harus menjadi serbuk pemanis atas anaknya yang kelaparan.
***
Setiap lebaran, Ibu selalu menyediakan makanan enak dan cemilan yang banyak. Aku dan Ibu bahagia menikmati suasana ini. Usia Ibu memang sudah tidak muda lagi. Di wajahnya sudah banyak disinggahi garis-garis keriput. Garis keriput Ibu yang paling jelas ada di keningnya. Mungkin Ibu sering marah dulu pada diriku, kaka, dan Bapak. Tidak. Di kamus keluarga kami tidak ada kata Bapak. Kata Ibu, Bapak hanya pelengkap yang hilang dan tidak bisa melengkapi.
“Mak, usiamu sudah tua sekarang.”
“Tapi, Mak tidak mau pergi kemana-mana. Mak bahagia di sini?”
Kurang lebih itu yang biasa membuat garis keriput Ibu bertambah. Ia sungguh keras kepala. Ia sejak dulu sangat terhipnotis pada gambar di toples cemilan yang selalu ia sandingkan saat lebaran. Menurutnya, keluarga ini adalah keluarga yang sempurna. Keluarga Khong Guang. Ada Ibu, anak laki-laki, dan anak perempuan yang gemar menikmati roti dan teh bersama. Berulangkali aku membantah Ibu. Berulangkali pula Ibu marah dan menambah parah kerutan di wajah Ibu.
“Mak, Bapak masih hidup. Aku harus menikah. Dan Bapak yang harus menjadi wali nikahku Mak.”
“Pamanmu bisa. Kakekmu juga bisa. Atau Pak Pengulu juga bisa. Tidak harus Bapakmu,” jawab Ibu yang sedang duduk menikmati roti Khong Guan.
“Tapi Mak,”
“Kamu anak Mak apa Bapak? Kalau anak Mak, kamu harus diam dan nurut. Kemari, duduklah. Nikmati rotinya bersama. Adik kamu saja nurut. Sudahlah, tentang pernikahanmu biar Mak yang mengurusnya. Ini secangkir teh untukmu.”
Aku akhirnya menyerah dan menerima seduhan teh dari Ibu. Kami duduk bersama menikmati teh dan roti sambil menunggu para tamu datang untuk merayakan lebaran. Aku kira lebaran sekarang akan berjalan baik-baik saja. Tapi. aku telah berbuat dosa pada Ibu. Aku telah membentaknya di hari yang penuh maaf ini. Semoga di hari raya ini Ibu ikhlas memaafkanku dan juga Bapak yang tidak pernah aku temui sejak kecil.
***
Sekarang, aku telah dinikahkan oleh Pamanku. Bapak benar-benar tidak hadir. Mungkin benar kata Ibu, Bapak telah mati tertabrak kereta api dan badannya hancur remuk seketika. Lalu menjelma menjadi tanah. Untung saja suamiku tidak mempertanyakan segala hal tentang Bapakku. Jadi, aku tidak harus repot menjelaskannya dengan berbagai serbuk-serbuk kebohongan.
Pernikahanku dengan Guan baik-baik saja. Saat melahirkan anak pertama pernikahan kami masih baik-baik saja. Dua tahun kemudian aku melahirkan anak kedua. Dan pernikahan kami mengalami masalah serius. Kondisi pernikahan ini mulai kritis dan hampir koma. Saat anak kedua itu sudah bisa bicara dan berjalan, pernikahan aku dan Guan telah mati.
“Mati kenapa Yung? Bapaknya di tabrak kereta api? Lalu keluarga itu jadi keluarga Khong Guan Yung?”
Aku hanya mengangguk. Ketika aku akan melanjutkan cerita. Jiwa cerewet anakku muncul. Ia kembali bertanya padaku.
“Berarti Bapak Narti pula ditabrak kereta yah Yung? Terus Bapak mati? Bila Narti sudah besar dan akan menikah, siapa yang akan menjadi walinya Yung? Kakek sudah mati, Bapak juga mati, Paman ndak ada, Uwa ndak tahu di mana, bagaimana ini Yung?”
“Berdoa saja Bapakmu selamat dari tabrakan kereta api itu. Biyung tidak ingin menjadikan keluarga ini keluarga Khong Guan.”
Tidak lama kemudian Narti tertidur dipangkuanku. Ia telah kenyang. Aku bergegas membaringkan tubuhnya lurus di kursi panjang ini. Setelah itu, aku kembali bekerja agar bisa membelikannya bubur ayam setengah porsi untuk makan siangnya nanti.