Cerpen Aiko Miyuhara (Pontianak Post, 10 Februari 2019)

“Udinnn!” teriak Pak Gundul memanggil salah satu bawahannya.
“Iya, Pak!” Udin lari tergopoh-gopoh menghampiri Pak Gundul.
“Sini, duduk dulu. Saya mau ngomong sesuatu,” kata Pak Gundul sambil mempersilakan Udin duduk di kursi sampingnya.
“Bapak mau ngomong apa?” tanya Udin penasaran.
“Udin, kamu sudah ikut bekerja dengan saya cukup lama. Bahkan kamu sudah tahu kebiasaan buruk saya mengupil sehari lima kali.”
“Ya, lalu Bapak mau ngomong apa? Jangan bilang sekarang Bapak mau panen upil lagi,” tukas Udin.
“Bukan itu! Saya sudah mengupil lima menit yang lalu. Sekarang saya mau ngomong serius sama kamu,” ujar Pak Gundul dan memosisikan duduknya menghadap Udin.
“Serius amat, Pak. Santai aja, enjoy. Bapak terlalu serius entar stroke!”
“Gundulmu strok! Ini soal pekerjaanmu tahu,” sungut Pak Gundul.
“Jangan bilang Bapak mau berhentiin saya. Aduh, Pak tega banget sih. Saya masih jomlo, kalau saya jadi pengangguran mana ada yang mau sama saya,” melas Udin.
“Alah! Kamu udah bekerja pun masih jomlo, Din. Sebenarnya saya itu mau menugaskan kamu ke Sambas, menyelesaikan proyek bangunan di sana. Nanti kamu bisa pergi sama Ucup, Jajang, Birah, Gogon dan Mamat,” jelas Pak Gundul.
“Kok cuma enam orang, Pak?”
“Di sana sudah ada 10 pekerja lainnya, dan mereka memang orang asli sana. Kalian hanya pekerja tambahan, kebetulan di sana kekurangan orang.”
“Tinggalnya nanti di mana, Pak?”
“Ya kalian bisa tinggal di bangunan sana. Kebetulan ada ruangan yang sudah jadi. Tinggal bawa bantal aja, atau selimut. Soal makandan rokok, semua ditanggung. Gimana?”
“Oke, saya mau. Asal makan sama rokok gratis. He he. Ngomong-ngomong kapan berangkatnya?”
“Besok siang, dan ini uang saku buat kalian naik bus sama makan di jalan. Satu juta cukup kan?” tanya Pak Gundul sambil menyerahkan uang dalam amplop.
“Cukup, Pak. Ya sudah, saya pamit dulu. Mau beres-beres. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
***
Udin dan kawan-kawannya sudah berdiri di depan bus. Mereka membawa tas yang berisi perlengkapan masing-masing. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Tapi mereka harus menunggu Jajang, pria paling tampan di kampungnya yang memiliki hobi jam karet.
“Aduh itu anak ke mana sih? Katanya udah di jalan, kok enggak nyampe-nyampe,” keluh Ucup yang bergigi tongos dan berkulit sawo matang.
“Bentar lagi kali. Sabar,” jawab Birah, sang pejantan tangguh yang memiliki dua istri.
Tak lama kemudian, Jajang datang diantar oleh Zainab, salah satu wanita yang tergila-gila padanya. Jajang turun dari motor dan langsung menyuruh Zainab pulang setelah mengucapkan terima kasih. Wanita itu hanya tersipu malu, lalu pergi meninggalkan Jajang dengan motor matic-nya yang berwarna hitam metalic.
“Cie… udah jadian aja nih kayaknya,” goda Mamat sembari menyisir rambutnya yang gondrong lalu mengikatnya dengan getah karet.
“Idih, siapa yang jadian. Tadi enggak sengaja ketemu dia di perempatan, daripada ngojek mending numpang aja, uangnya bisa buat beli kuota,” jawab Jajang.
“Udah, udah kita berangkat sekarang aja. Telat ini. Semua masuk ke bus,” perintah Udin.
“Let’s go!” sahut mereka kompak.
Sepanjang perjalanan, mereka asyik mengobrol. Jajang dan Birah yang sama-sama pencinta wanita tak bosan-bosannya menggosipkan Jamilah, janda muda tanpa anak yang sering berkeliling kampung menjual kue-kue. Sedangkan Udin dan Gogon yang sama-sama jomlo sibuk chatting dengan wanita yang mereka kenal di jejaring sosial Facebook. Hanya Mamat dan Ucup yang sedikit waras, mereka asyik membicarakan pekerjaan dan UMR yang seharusnya didapat. Walaupun sesekali Mamat sibuk bercermin dan mengacuhkan Ucup, memecahkan jerawatnya yang sudah hampir panen.
Sesampainya di tempat yang mereka tuju, Udin dan kawan-kawan hanya bisa menganga lebar. Tak percaya apa yang ada di depan matanya.
“Ini kita enggak salah tempat kan?” tanya Jajang sambil mendekap tasnya.
“Kayaknya enggak salah deh. Tapi kenapa Pak Gundul enggak bilang apa-apa, ya?” Udin melangkahkan kakinya masuk ke dalam bangunan.
“Mending kita pulang aja deh, Din. Ini bangunannya serem banget. Walaupun bersih dan enggak kayak di film-film horor sih, tapi auranya bikin bulu kuduk merinding,” kata Mamat yang merasakan bulu kuduknya berdiri semua.
“Alah dasar penakut. Bangunan bagus gini di bilang serem. Rambut aja kau panjangin, Mat. Muka sangar tapi hati hello kitty,” ucap Ucup lalu menyusul Udin yang sudah lebih dulu masuk ke bangunan.
“Udah ah, yuk masuk. Atau kalian mau di sini aja?” tanya Jajang.
“Ya udah, kalau kamu maksa mah. Aku emang suka dipaksa,” ujar Birah lenggang kangkung.
Udin dan kawan-kawan sudah masuk ke dalam bangunan. Di sana ada beberapa pekerja lain yang sedang istirahat makan siang. Udin lalu memperkenalkan diri dan kawan-kawannya. Mereka kemudian disuruh untuk beristirahat, dan bisa bekerja esok harinya. Tejo,yang sudah dianggap ketua dan memang paling tua menunjukkan ruangan untuk mereka bisa beristirahat. Di sana ada lemari kosong juga sebuah kursi dan meja. Ruangan itu sangat besar, dengan lantai keramik berwarna putih tulang, juga terdapat toilet beserta kamar mandi di dalamnya. Udin dan kawan-kawan segera antrean untuk membersihkan diri.
“Aku duluan ya mandinya,” kata Jajang lalu memaksa masuk ke kamar mandi.
“Ah dasar! Padahal aku duluan yang mau mandi,” gerutu Birah.
“Sabar… bisa gantian kok,” ujar Udin mengingatkan.
Tiba-tiba Tejo masuk ke dalam ruangan dan berkata, “Kami izin pulang dulu, ya? Kalian baik-baik di sini. Oh iya kalau jalan-jalan di bangunan ini, saran saya jangan sampai malam.”
“Lah, emang napa? Ada penghuni lain, ya?” tanya Mamat takut.
“Gelap soalnya, Mas,” jawab Tejo.
“Yah… bercanda aja nih,” sahut Ucup.
“He he. Ya sudah aku pulang dulu. Hati-hati kalian. Jangan macam-macam.” Tejo berpamitan lalu pulang bersama pekerja yang lain.
“Maksudnya macam-macam tadi itu apa, ya?” tanya Gogon penasaran.
“Tahu. Mungkin maksudnya jangan sentuh barang-barang di bangunan ini,” jawab Udin.
“Iya, iya bener juga sih.” Gogon manggut-manggut.
“Eh makan malam kita gimana? Enggak dikasih ini?” tanya Birah.
“Udah ada nasi bungkus kok. Tuh di pojokkan, tadi Tejo yang bawa. Emang kamu enggak liat?” Udin menunjuk kardus di pojok kanan yang berisi nasi bungkus.
“Alhamdulillah. Kirain bakal kelaparan nanti malam.”
“Ada apaan sih berisik banget?” Jajang keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Kagak ada apa-apa. Minggir, giliran aku yang mandi.” Birah berjalan ke arah kamar mandi dengan lenggang kangkung.
“Heran. Yang kayak gitu bininya bisa dua, ya?” Udin menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Cewek itu suka cowok yang lucu, Din. Tapi kalau diajak serius bisa bikin meleleh. Birah paling pinter bikin cewek klepek-klepek,” jawab Jajang.
“Enggak ada macho-nya sama sekali itu cowok. Apanya yang lucu, geli iya.” Udin menggidikkan bahunya geli.
“Bilang aja kamu iri kan? Sampe sekarang masih jomlo. Ha ha.” Tawa Mamat dan disambut yang lain.
***
Malam harinya Gogon tidak bisa tidur. Ia hanya men-scroll timeline Facebook-nya, berharap matanya bisa segera mengantuk dan tertidur. Tiba-tiba ia mendengar suara benda terjatuh tak jauh dari ruangan tempat Udin dan kawan-kawan tidur.
“Suara apaan tuh? Jangan-jangan pencuri.”
Gogon yang penasaran berusaha mencari tahu. Ia keluar dan mengecek setiap ruangan. Tapi tidak ada tanda-tanda barang yang pecah atau pencuri yang berusaha masuk. Saat ia akan kembali ke ruangan, ia melihat Udin berjalan ke luar gedung.
“Udin! Mau ke mana?” teriak Gogon lantas mengejar Udin. Sesampainya di luar gedung ia tak melihat Udin. Hanya ada suara kodok bersahutan.
“Kok jadi merinding, ya?”
Gogon membalikkan badannya dan ia melihat seorang perempuan menunduk dengan rambut panjang kusut, pakaiannya berwarna putih berlumur darah juga bau busuk yang menyengat. Perempuan itu menengadah menatap Gogon. Wajahnya hancur, bola matanya hampir keluar, dan dari mulutnya keluar darah segar beserta belatung.
“Ha-ha-hantuuu!” Gogon pingsan di tempat.
Mamat yang tak sengaja bangun pergi mencari Gogon dan mendapatinya terjatuh di luar bangunan.
“Astagfirullah. Ini anak kenapa?” Mamat menggotong tubuh Gogon masuk ke ruangan. Ia membangunkan Udin dan lainnya.
“Ini anak kenapa, Mat?” tanya Jajang.
“Enggak tahu. Tadi dia pingsan di luar,” terang Mamat.
“Ya udah, tolong yang ada minyak kayu putih bawa ke sini,” perintah Udin.
Ucup dengan cepat merogoh saku tas ranselnya lalu mengambil minyak kayu putih. “Ini. Tapi jangan banyak-banyak. Entar habis. Mahal soalnya.”
“Ah dasar pelit!” Jajang menjewer telinga Ucup.
“Sakit woi! Lagian aku bukannya pelit, tapi irit.”
“Irit sama pelit itu beda tipis,” jawab Jajang.
“Udah, udah jangan bercanda! Mending kalian ambil air sama selimut.” Udin meninggikan bantal Gogon dan mendekatkan minyak kayu putih ke hidungnya.
Ucup manyun lima senti. “Iya, iya. Lagian Si Jam Karet ini yang mulai duluan. Eh tapi ngomong-ngomong Gogon kenapa, ya? Kok dia bisa ada di luar?”
“Kita tunggu sampai dia sadar. Baru kita tanya langsung ke orangnya,” jawab Mamat.
Beberapa menit kemudian Gogon mulai siuman. Udin segera memberikan air putih lalu berkata, “Kamu istirahat aja dulu. Mukamu pucat.”
“Makasih banyak, Bro. Aku udah enggak apa-apa kok.” Gogon berusaha duduk dan dibantu Mamat.
“Sebenarnya kamu kenapa? Kok bisa ada di luar?” tanya Ucup penasaran.
Gogon lantas menceritakan kejadian yang baru saja ia lihat. Udin, Jajang, dan Ucup tidak percaya. Mereka menganggap apa yang Gogon lihat hanya halusinasi.
“Mungkin aja yang Gogon lihat itu bener. Dari awal aku juga udah enggak nyaman dengan bangunan ini.” Mamat merasa ketakutan dan memeluk lengan Jajang.
“Jangan jadi banci! Pake peluk-peluk segala. Lepas!” Jajang melepaskan tangan Mamat.
“Kita omongin besok lagi aja. Sekarang baru jam 11 malam. Kita lanjut tidur lagi,” kata Udin.
“Iya. Besok kita harus kerja, jangan sampai kita kurang tidur,” balas Ucup.
Mereka kemudian melanjutkan tidurnya dan berusaha melupakan kejadian yang dialami oleh Gogon.
***
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Udin mendadak bangun lalu pergi ke toilet.
“Ah lega. Lagi enak-enak tidur malah kebelet kencing.”
Tok! Tok! Tok!
Udin mendengar pintu toiletnya diketuk oleh seseorang. “Siapa itu?”
Tak ada jawaban. Udin lantas membuka pintu dan mendapati semua teman-temannya masih tidur dengan nyenyak.
“Tolong … hu hu hu.”
Udin mendengar suara seorang perempuan meminta tolong dan menangis. Ia keluar dan mencari tahu asal suara tersebut.
“Kayaknya tadi dari arah belakang bangunan deh.”
Udin memeriksa bangunan belakang. Tidak ada apa-apa. Hanya ada tumpukan kayu dan seng juga sebuah pondok yang terlihat sangat rapuh dan tua.
Udin yang penasaran mendekati pondok itu. “Aneh. Masa di belakang bangunan ada pondok sih? Kenapa enggak dibongkar, ya? Semua pintu dan jendelanya juga dipasang papan, gimana masuknya coba.”
Udin berusaha membuka papan yang terpasang di pintu masuk. Tapi tiba-tiba sebuah bayangan melintas di belakang. Udin mencoba membalikkan badannya.
“Tolong saya.”
Udin melirik ke samping, ia melihat seorang perempuan dengan rambut panjang, persis seperti yang diceritakan Gogon. Bau busuk dan amis darah menyengat dengan cepat, membuat Udin merasa mual. Bulu kuduknya merinding seketika, dengan langkah cepat ia berlari masuk ke bangunan dan membangunkan semua teman-temannya.
“Gawat. Ini gawat,” kata Udin terengah-engah.
“Gawat apaan sih? Baru aja tidur udah dibangunkan. Padahal tadi kamu yang nyuruh tidur.” Jajang menggosok-gosok matanya.
Udin berusaha mengatur napasnya. “Ternyata benar apa yang dibilang Gogon. Barusan aku lihat dengan mata kepalaku sendiri perempuan itu di belakang gedung.”
Prang!
Suara piring yang pecah membuat Udin dan teman-temannya terkejut. Lalu sebuah tapak darah segar masuk ke ruangan mereka, membuat seisi ruangan ketakutan lalu berhambur keluar.
Mereka lari pontang-panting ke luar menjauhi bangunan, meninggalkan semua tas dan barang-barang yang mereka bawa.
“Udah aku bilang, bangunan itu angker! Kalian enggak ada yang percaya sih,” kata Mamat lalu duduk di sebuah pos ronda tak jauh dari bangunan.
“Iya. Kami salah. Tapi sekarang kita harus cari tahu, ada apa dengan bangunan itu, dan kenapa dia mengganggu kita? Sebelumnya aku juga mendengar perempuan itu meminta tolong.” Udin duduk di samping Mamat sembari membuang napas kesal.
Gogon menarik kerah baju Udin dan berkata, “Jangan bilang kalau kamu mau mengajak kita semua menolong hantu kuntilanak itu? Gila! Aku udah enggak mau berurusan dengan hantu. Kalau kamu mau nolong, ya tolong sendiri aja.”
“Terserah kalau kamu enggak mau ikut! Tapi jangan salahkan aku kalau sampai kuntilanak itu mengikuti kamu,” jawab Udin sambil melepaskan tangan Gogon.
“Udah cukup! Kita duduk dulu di sini sambil nenangin diri. Jangan sampai karena hantu kita jadi bertengkar.” Jajang berusaha menenangkan keadaan.
“Ada apa ini? Kenapa kalian di sini?” Seorang laki-laki tua dengan senter kecil di tangannya mendekati Udin dan teman-temannya.
“Bapak siapa?” tanya Ucup.
“Saya warga kampung sini. Kebetulan tadi sarung dan dompet saya ketinggalan di pos ronda. Karena takut ada yang ambil, ya saya datang lagi ke sini,” jawab laki-laki tua itu sambil memeriksa pos dan mendapati dompet juga sarung yang terletak di pojok kanan samping Mamat.
“Kalau Bapak asli kampung sini, berarti Bapak tahu asal usul bangunan yang akan dijadikan sebuah kantor itu?” tanya Jajang sambil menunjuk bangunan angker.
“Memangnya apa yang terjadi?”
Udin segera menceritakan kejadian yang mereka alami di bangunan angker tersebut. Laki-laki tua itu hanya manggut-manggut lalu berdeham.
“Ya, seharusnya kalian tidak menginap di sana. Sebenarnya di bangunan itu ada seorang gadis desa kami yang diperkosa lalu dibunuh dengan keji. Ia disekap dalam pondok selama berhari-hari. Tidak ada yang dapat menemukannya, karena pondok itu letaknya juga di belakang. Setelah seminggu pencarian, barulah warga desa menemukan jasadnya yang tergantung di pondok, dengan kepala terpuntir ke belakang, lidah menjulur, juga bola matanya yang hampir keluar, mungkin dicungkil. Lebih parahnya lagi, sampai saat ini pelakunya belum ditemukan. Polisi juga tidak menemukan apa-apa di tubuh korban, termasuk sidik jari. Setelah kejadian itu bangunan menjadi angker, tapi tetap saja konstruksi dilakukan,” jelas laki-laki tua itu.
Astagfirullah. Pantas saja perempuan itu gentayangan,” sahut Mamat.
Laki-laki tua itu hanya tersenyum. “Benar, sayang sekali. Polisi tidak bisa menemukan bukti apa pun dari laki-laki tua sepertiku.”