Cerpen Sriwiyanti (Pontianak Post, 27 Januari 2019)

Dua tahun sejak tinggal dan berkarir di ibukota, aku mulai merasa asing dengan diriku. Kata teman lama ketika berkunjung ke kontrakan, “kamu engga kenal tetanggamu? Apatis banget sih, dulu kamu paling suka basa-basi.”
Aku hanya menanggapinya dengan lambaian tangan, mengelak bahwa memang di kompleks ini semua orang tidak saling kenal. Rumah-rumah dengan pintu gerbang besi, tetangga yang saban hari hanya keluar untuk melangkah ke jalan raya, menyetop angkot lalu kembali berpapasan ketika sore hari, dengan wajah kucel dibaluri bedak murah bercampur minyak, parfum imitasi bercampur bau keringat.
Tak ada waktu beramah-tamah, semua serba lelah lalu masuk gerbang rumah masing-masing. Sibuk dengan beranda media sosial yang diabaikan sejak pagi.
Aku bekerja di sebuah badan usaha milik negara, sebuah pekerjaan yang selalu dibanggakan orangtuaku di kampung. Putri semata wayang mereka bekerja di ibukota, di sebuah gedung menjulang tinggi, mengurusi bandara, pesawat terbang, pramugari, pilot dan semua hal yang mereka kaitkan dengan urusan penerbangan.
Meski di kantor, aku hanya mengurusi operasional bandara, berupa draft yang dikirim dari setiap cabang. Tak ada sangkut pautnya dengan pilot yang sering diimpikan Ibuku sebagai calon menantunya.
Dan tetangga desa yang selalu menanyakan rahasia kecantikan pramugari. Padahal, saban hari ke kantor aku hanya bertemu tumpukan kertas, memfotokopi, meminta tanda tangan, melengkapi data.
Di tengah kejenuhan ibukota, aku mengambil cuti untuk berlibur ke sebuah desa yang sangat kukenal. Di kantorku, nama desa itu disebut-sebut setiap hari. Kata mereka, penduduk desa Anggrek bodoh, tidak berpendidikan, tidak tahu kemajuan teknologi, mau diajak membangun bandara kok susah, dasar kampungan dan banyak hal negatif yang tidak ada benarnya.
Terkadang, wajahku merah menahan marah mendengar kata-kata mereka. Hingga aku memutuskan sendiri untuk pergi, menaiki kereta api yang melesat ke arah timur.
Desa Anggrek sudah jauh berbeda sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki. Empat tahun yang lalu, aku menjalani KKN di sana, tinggal di rumah pak RT dan berncengkrama dengan warga setiap hari. Rumah-rumah penduduk sangat sederhana, tak ada pagar besi atau garasi, hanya halaman bersih dengan irigasi yang mengalir di depan rumah berlantai semen.
Setiap sore, mereka duduk di depan rumah tetangga, berkumpul di surau atau di sungai, desa itu dipenuhi canda tawa khas daerah, mereka menertawakan apa saja, dimana saja asalkan bersama. Ah, desa Anggrek adalah tempat yang sempurna untuk pulang.
Kini, aku tengah menginjakkan kaki di tanah itu. Sayup-sayup suara azan Ashar terdengar dari surau.
Bunga-bunga anggrek di depan rumah warga sudah tak terlihat lagi. Pot-pot dari ember plastik yang digantung telah jatuh ke tanah, menyatu dengan rumput liar, lalu kalah saing berebut air, anggrek-anggrek itu telah mati, mengering dan menunggu petugas pemerintah untuk datang membakarnya, berikut rumah-rumah penduduk yang atas nama pembangunan harus dirobohkan.
Aku membuka pagar kayu setinggi pinggang, berderit pilu menampakkan bagian depan rumah pak RT yang tak lagi kukenali. Pohon kelengkeng yang dulu berbuah lebat, manggis yang selalu diincar anak-anak TPA sepulang dari surau, dan anggrek bulan yang selalu kami rawat setiap pagi, kini mengering diterpa panas menyengat. Dengan ragu, kuketuk pintu rumah pak RT sambil mengucapkan salam.
“Ya ampun, Nak, kamu masih ingat rumah ini?” bu RT yang membukakan pintu, menutup mulut menahan tangis. Aku langsung berhamburan memeluknya.
“Saya lihat di TV bu, pemerintah mau membuat bandara baru di sini. Semua warga terpaksa dipindahkan” aku berbohong, mengusap pundak bu RT yang telah ringkih. Barangkali usianya enam puluh tahun, tapi kesedihan di wajahnya membuat ia nampak lebih tua dan tak berdaya.
“Di mana Bapak dan Aldi, Bu?” aku menanyakan pak RT dan anak laki-lakinya yang dulu masih SMP. Aldi adalah anak yang cerdas, pemikirannya jauh berbeda dari teman-temannya. Ia selalu menjadi ketua geng dan memimpin anak desa dalam banyak hal. Bahkan, mereka pernah memenangkan acara festival kemerdekaan di provinsi, hanya berbekal ide cemerlang pemuda desa.
“Aldi tidur, Nak,” bu RT tersenyum, lalu menunduk menatap keset yang usang, bahunya berguncang seolah menahan tangis.
“Di kamar, Bu?” Aku mengernyitkan dahi tak mengerti.
“Tidak, Nak, Aldi menginap di rumah Anto,” tangis bu RT kini memenuhi dinding-dinding rumah. Aku semakin tak paham maksudnya. Saat itu, ingatan tentang Aldi berputar begitu saja. Aldi yang selalu membuntuti kami, seolah ia mengerti apa yang kami diskusikan untuk program pemberdayaan.
Ikut mengajar TPA, sosialisasi kesehatan, posyandu, rapat hingga larut malam dan banyak kegiatan lain. Aldi juga lah yang mengajak kami menyusuri sungai di perbatasan Desa Anggrek dan Turi, memungut sampah lalu mendaur ulangnya menjadi mainan yang bisa dijual.
Aldi memang berbeda dari teman-temannya, termasuk surat cinta yang pernah kutemukan di balik bantalku. Aku terbahak-bahak membacanya, Aldi kagum dan selalu merasa gugup setiap bertemu kak Dinda, begitu tutur polosnya.
Sejak saat itu, aku selalu tertawa setiap melihat Aldi, sengaja berjalan mendekati lalu mengacak rambutnya, dan Aldi hanya bisa tersenyum salah tingkah.
Terakhir kali bertemu Aldi, pada malam perpisahan KKN. Dengan baju koko kebesaran, lungsuran dari salah satu teman KKN kami, ia berjalan ke panggung rakyat, membacakan sebuah puisi berjudul Doa karya Chairil Anwar yang fenomenal. Aldi selalu bercita-cita menjadi kepala desa, sebab hanya itu cara yang ia tahu untuk melindungi desanya.
Aldi mencintai buah manggis, kelengkeng, bunga anggrek dan bau bunga melati selepas hujan. Semua itu, tidak akan pernah ia dapatkan di tempat lain, selain di sawah mereka.
“Ayo masuk dulu, Nak, duduk di dalam,” bu RT memecahkan ingatanku, lalu kami masuk perlahan, menyaksikan barisan kardus bekas minuman kaleng dan mie instan yang telah penuh dengan pakaian, piring, gelas dan apa saja yang bisa diselamatkan dari keserakahan pembangunan.
“Aldi kelas berapa sekarang, Bu?” Aku bertanya penuh ragu, memperbaiki posisi duduk di tikar yang lusuh. Tapi tak ada jawaban, wajah sendu bu RT semakin bertambah, seolah kesedihan bertubi-tubi menyiksanya setiap hari.
“Assalamu’alaikum,” dari luar tedengar seorang laki-laki mengucapkan salam. Aku bergegas hendak membuka pintu, meninggalkan bu RT yang masih menekuri kamar kosong di hadapannya. Ketika hendak kubuka, pintu berderit lebih dulu.
“Pak,” aku menyambut pak RT yang membawa dua kardus besar di tangan kanan dan kirinya. Pak RT tersenyum lebar.
“Wah, kedatangan tamu dari jauh ini. Kapan sampai sini, Nak?” Pak RT mengajakku kembali duduk. Kini, kami telah duduk bertiga di antara tumpukan kardus dan baju kotor yang masih berserakan.
“Belum lama, Pak, sampai sini pas azan ashar di surau. Bapak dari surau?”
“Iya nak, ngambil buku-buku Aldi dari surau. Setahun lalu, sejak lulus SMP dia bawa semua buku pelajaran ke surau, katanya supaya bisa dibaca anak-anak.”
“Kenapa diambil, Pak?”
“Buat apalagi, Nak? Lusa, surau mau dirobohkan, bapak tidak mau buku-buku kenangan Aldi ikut dibakar dan dirusak.”
“Kenangan?” Aku mengernyitkan dahi.
“Aldi sudah pergi, Nak Dinda, dua minggu yang lalu.”
“Maksudnya, Pak? Bukannya Ibu bilang Aldi nginap di rumah Anto,” aku melirik bu RT yang berlari masuk ke kamar Aldi.
“Malam itu Aldi memang pergi menginap di rumah Anto, Nak, tapi petugas sudah mulai membongkar desa sebelah. Anto dan keluarganya menangis, mereka pindah dibantu Aldi. Tapi tak ada yang tahu bahwa Aldi kembali ke rumah itu, ia bertekad mempertahankan rumah kawannya dengan melawan petugas. Lalu menurut laporan yang mereka berikan di kepolisian, Aldi tertimpa bahan bangunan yang roboh karena tidak disengaja. Entahlah, Nak,” pak RT menghela nafas panjang.
Akhirnya aku tahu, mengapa bu RT terlihat lebih tua bertahun-tahun, kesedihan memenuhi seluruh guratan di wajahnya. Ya, anak semata wayang kebanggaan telah pergi menukar nyawa demi kebebasan desa. Sayang, kini setelah ia kehilangan anaknya, ia juga harus rela kehilangan tanah dan semua kenangan.
Hari itu juga, aku kembali ke ibukota, mengetik selembar surat pengunduran diri pada perusahaan ternama milik Negara. Aku mengubur semua harapan orang tuaku tentang menantu, semua imajinasi tetanggaku tentang pilot berseragam kekecilan dan pramugari dengan bedak ketebalan. Aku pulang, memperjuangkan impian Aldi yang terinjak pembangunan. (*)