Gadis yang Datang Setiap Pukul Empat Sore

Cerpen Umi Salamah (Radar Selatan, 13 Mei 2019)

Gadis yang Datang Setiap Pukul Empat Sore ilustrasi Radar Selatan (1)
Gadis yang Datang Setiap Pukul Empat Sore ilustrasi Radar Selatan

Tepat jam empat sore adalah slot pengunjung terakhir. Tujuh belas pengunjung masuk ke dalam kedai kopi. Salah satunya seorang gadis berambut cokelat yang bergelombang. Dia memesan segelas Iced Coffee walaupun di luar tengah hujan. Pendingin udara di kedai ini juga dimatikan agar pengunjung tak terlalu kedinginan.

Setelah membayar segelas Iced Coffee, gadis berambut cokelat yang bergelombang itu duduk di set paling belakang. Dia sama sekali tak bersuara. Hanya menatap satu objek. Pada pemandangan yang ada di depannya. Satu sosok yang tengah tertidur pulas. Ketika seorang pelayan mengantarkan pesanannya, dia hanya mengangguk.

Gadis berambut cokelat yang bergelombang itu tetap diam. Sama sekali tak bergerak. Hanya kelopak matanya yang bergerak untuk mengedipkan matanya. Sedangkan Iced Coffee miliknya tak disentuh barang sedikit pun. Bahkan es batu yang di dalam gelas Iced Coffee telah mencair. Dan pasti tak akan nikmat diminum karena es batunya telah meleleh.

Aku bersedekap menatap gadis yang kuberi nama gadis berambut cokelat yang bergelombang. Karena aku memang tak tahu siapa namanya dan sampai sekarang belum menanyakannya. Dari samping meja kasir, aku terus memperhatikannya. Dia selalu seperti itu. Hanya menatap Alex dan tak pernah meminum Iced Coffee pesanannya.

Kemarin aku juga melihatnya di sini, begitu juga dengan minggu kemarin. Dan tak ada seorang pun yang tahu kapan dia mulai rutin berkunjung ke kedai kopi milikku. Aku baru menyadarinya minggu kemarin. Ketika aku merubah jam pengawasan kedai kopi ini dari pagi hari menjadi sore hari.

Saat kutanyakan pada karyawanku, mereka juga tak tahu kapan tepatnya gadis berambut cokelat yang bergelombang itu pertama kali ke sini. Mereka hanya tahu gadis itu selalu memesan Iced Coffee dalam segala cuaca dan tak pernah sekalipun meminumnya.

“Tuan masih penasaran dengan gadis itu?” tanya Dimas, karyawan yang bertugas di bagian kasir.

“Tentu saja. Dia cantik juga walaupun wajahnya pucat,” jawabku tanpa melihat Dimas.

“Kenapa Tuan tak menghampirinya? Berkenalan atau semacamnya?” saran Dimas.

“Aku takut mengganggunya. Bukankah dia tengah memperhatikan Alex?” tanyaku ragu.

“Tuan tahu sendiri, gadis itu kan tiap hari selalu memperhatikan Alex. Duduk di sampingnya barangkali tak membuatnya merasa terganggu. Lagi pula Tuan ini kan pemilik kedai kopi ini. Jika Tuan mengatakan siapa diri Tuan, dia pasti tak menolak,” imbuh Dimas.

Setelah menimbang cukup lama, aku menjalankan masukan dari Dimas. Kupikir memang lebih baik menghampirinya dan mengobrol sebentar daripada aku mati penasaran. Demi kesopanan, aku membawa dua cangkir Expresso panas. Karena di luar masih hujan, secangkir Expresso barangkali akan membuatnya merasa hangat.

“Permisi, boleh duduk di sini,” ucapku sambil menunjuk sofa yang ada di sampingnya.

Gadis berambut cokelat yang bergelombang hanya menganggukkan kepala. Setelah mendapatkan izin darinya, aku duduk di sampingnya. Kutawarkan secangkir Expresso yang langsung ditolaknya.

“Saya hanya minum Iced Coffee,” jawabnya datar.

Kuperhatikan Iced Coffee miliknya yang masih utuh. Jawabannya sungguh tak beralasan. Setiap dia ke sini, Iced Coffee miliknya tak pernah diminum. Ingin rasanya aku menanyakannya soal itu, tapi kupikir itu tak sopan.

“Namaku Rangga. Siapa namamu?” tanyaku lembut sambil mengulurkan tangan kanan.

“Saya menolak berkenalan denganmu.”

Kutarik tangan kananku pelan-pelan. Sedikit terkejut dengan penolakannya walaupun aku tahu itu akan terjadi. Aku dan Dimas barangkali salah. Gadis berambut cokelat yang bergelombang ini sepertinya tak ingin diganggu oleh siapapun. Tapi dari meja kasir, Dimas menyuruhku untuk tetap mengajak gadis ini untuk mengobrol.

Segala jenis pertanyaan aku lontarkan. Mulai dari di mana dia tinggal, kenapa dia menyukai Iced Coffee walaupun di cuaca dingin sekalipun, dan pertanyaan sejenisnya. Tapi dia hanya mengangguk atau menggelengkan kepala. Setelah rangkaian pertanyaan yang hampir mirip wawancara kerja ini, aku kehilangan bahan. Sedangkan dia masih sama, tetap memperhatikan Alex yang memang lebih banyak tidur.

“Kamu suka Alex? Bukankah dia seperti malaikat saat tidur?” tanyaku kembali membuka pembicaraan yang sebenarnya berlangsung satu arah.

“Kau benar. Dia memang malaikat,” jawabnya sambil tersenyum.

Ini luar biasa. Gadis ini menjawab dengan baik. Bahkan dengan senyuman yang tak pernah dilihatku. Aku harusnya mengangkat topik ini. Jika dia terus memperhatikan Alex, tandanya dia memang menyukainya.

“Alex memang banyak tidur. Dulu kupikir dia sakit karena sering tidur. Tapi kata dokter, dia baik-baik saja. Alex ini kebanggaanku. Dia yang paling patuh dan tak rewel dibandingkan yang lain,” terangku lebih lanjut.

“Alex suka tidur karena itu hobinya,” timpalnya pasti.

Pembicaraan tentang Alex terus berlanjut sampai kedai tutup. Memang kedai kopi milikku berbeda dengan yang lain. Aku hanya membukanya dari jam sembilan pagi sampai lima sore. Karena aku tak begitu mengharapkan keuntungan kedai kopi ini. Aku membangun kedai ini karena kecintaan pada kopi dan koleksiku.

Gadis berambut cokelat yang bergelombang juga pulang. Dia memberikan Iced Coffee miliknya padaku karena telah menceritakan tentang Alex. Sebelum dia pergi, kukatakan agar dia tak memesan Iced Coffee jika tak diminum. Dia bisa datang ke sini tanpa memesan kopi. Dan dia hanya mengangguk dan melenggang pergi.

Di luar, kuperhatikan gadis berambut pirang yang bergelombang, berjalan ke arah barat. Hujan tak lagi turun. Entah di mana dia tinggal. Satu hal yang pasti, gadis itu akan hilang ditelan senja sore. Setiap hari.

Esok harinya, gadis itu tak datang. Hingga satu minggu berikutnya, dia masih tak datang juga. Kupikir dia sedang sibuk atau ada urusan penting atau sakit. Aku hanya bisa menduga-duga saja tanpa tahu kebenarannya. Dan aku kecewa karena tak dapat melihatnya.

Hari ini, kekecewaanku sedikit terobati dengan kedatangan sahabat lama. Dia bernama Naura, sahabatku saat SMA. Ada rasa heran yang kualami karena dia mengunjungiku setelah enam bulan tak berjumpa.

“Aku ke sini untuk mengambil kembali Alex. Bolehkan?” pinta Naura.

Jujur saja aku merasa keberatan. Alex telah menjadi kebanggaanku dan dia juga banyak disayang oleh pengunjung kedai kopi. Dan alasan terkuat karena gadis berambut cokelat yang bergelombang menyukai Alex. Apa yang akan kukatakan jika dia datan ke mari lagi dan tak menemukan Alex? Mungkin saja dia tak akan ke sini lagi untuk selamanya.

“Maaf. Aku tak bisa mengembalikan Alex. Aku sudah begitu dekat dengannya,” tolakku halus.

“Kumohon ini sangat penting. Akan kubayar berapa pun kamu minta,” pinta Naura memelas.

“Kenapa kamu begitu bersikeras? Memangnya ada apa dengan Alex?”

Naura menghela napas. “Aku pernah cerita soal adikku kan? Aku yakin kamu tahu siapa adikku karena setiap pukul empat sore dia akan ke sini untuk melihat Alex. Dia ingin Alex kembali padanya dan akan menikahinya. Tolong kembalikan Alex padaku ya.”

Tentu saja aku tahu soal adik Naura. Gadis yang mengurung diri di kamar setelah kekasihnya meninggal dunia. Jika adik Naura datang ke sini setiap pukul empat sore, berarti dia adalah gadis berambut cokelat yang bergelombang. Gadis yang sebelumnya selalu ditelan senja sore. Tak keberatan aku mengembalikan Alex padanya meski sebetulnya berat kulakukan. Aku juga terlanjur sayang padanya. Tapi adik Naura ingin menikahi Alex. Seserius itu? Alex itu cuma seekor kucing.

 

Kebumen, 01 Agustus 2018-21 April 2019

Umi Salamah lahir di Kebumen, 21 April 1996. Menulis novel, cerpen, puisi, dan artikel. Karyanya termuat dalam berbagai antologi cerpen dan puisi dan di berbagai media cetak. Buku terbarunya Because You are My Star (novel remaja kontemporer, Alra Media 2017). Berguru dengan Ahmad Tohari. Alamat rumah di Dukuh Ganggeng Desa Tanjungrejo RT 06 RW 03 Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen.

Arsip Cerpen di Indonesia