Cerpen Mahan Jamil Hudani (Haluan, 06 September 2020)

SETIAP pulang bekerja, sekitar pukul 16.00, aku sering melewati Jalan Halimun. Jalan itu meski bukan satu-satunya jalan menuju rumahku—karena ada jalan lain yang bisa ditempuh—tapi aku memang sering bahkan hampir setiap hari aku pulang kerja lewat situ. Jalan itu tak terlalu ramai meski terletak dekat jalan utama, mungkin hanya beberapa ratus meter dari jalan utama. Banyak kendaraan seperti mobil, motor, atau angkutan umum tak lewat sini, karena ini jalan masuk menuju pemukiman penduduk.
Saat aku masuk jalan itu, aku akan melihat rumah di sudut paling depan jalan tersebut, dekat persimpangan. Rumah itu tak begitu besar dengan halaman yang juga tak luas, namun cukup untuk parkir dua mobil, meski aku tak pernah melihat ada mobil sedang parkir di situ. Aku tak tahu siapa pemilik rumah itu. Banyak warga adalah pendatang di kota ini, bahkan aku juga tak begitu kenal dengan banyak tetangga sendiri, terlebih jarak rumah itu hampir satu kilometer dari tempat tinggalku.
Posisi rumah itu sebenarnya cukup strategis, karena terletak di bagian depan, dekat persimpangan, dan tak jauh dari jalan utama. Dulu, aku lupa kapan tepatnya, sering melihat rumah itu digunakan sebagai tempat berdagang. Selain kulihat ada warung kelontong, aku melihat juga tempat itu menjual pulsa dan aksesoris ponsel, karena di depan rumah itu ada spanduk berisi keteragannya. Aku sendiri tak pernah belanja atau membeli pulsa di sana, karena dekat rumahku banyak warung dan konter lain.
Beberapa waktu kemudian rumah itu terlihat kosong. Aku melihat ada tulisan di pintu pagar yang tak terlalu tinggi, bahwa rumah itu “dikontrakkan/dijual” meski ejaan yang tertulis di situ setahuku keliru, tertulis di papan: “di kontrakkan/di jual”. Tertulis juga nomor ponsel yang bisa dihubungi. Kuperhatikan rumah itu kosong cukup lama, aku tak tahu berapa bulan tepatnya, sepertinya hampir satu tahun. Aku hanya pernah membatin, mungkin harga kontrak atau harga jual rumah ini mahal, jadi belum ada yang menempatinya kembali.
Baru beberapa minggu ini aku melihat rumah itu sudah ada yang menempati lagi. Terlihat ada spanduk nama jualan produk makanan beraneka ragam, dari kue basah hingga makanan kering dan bungkusan. Spanduk itu juga menerima pesanan daring. Sepertinya pemilik atau penghuni rumah itu memang serius berjualan makanan via daring. Spanduknya sangat menarik, begitu juga produk yang ditawarkan. Rumah itu juga kini terlihat rapi dan terawat, juga tampak lebih indah dengan cat baru. Beberapa kali—saat aku pulang kerja melintas jalan itu—melihat pengendara ojol keluar dari rumah itu. Sepertinya mereka sedang menerima orderan dari pelanggan untuk mengantar makanan. Semakin hari belakangan ini, pengendara ojol yang datang makin bertambah, terkadang tiga atau empat pengendara berbarengan terlihat di sana. Bahkan aku pernah melihat sebuah mobil box terparkir, tampak sedang mempersiapkan dan memasukkan muatan, berupa kardus-kardus yang aku kira berisi makanan dan kue kering seperti keripik atau peyek. Aku tebak begitu, karena beberapa nama produk itu tertera di spanduk.
***
Tak ada yang aneh dari rumah itu, aku yang agak memerhatikan aktivitas rumah itu lebih karena sering melewatinya. Tapi, beberapa hari terakhir aku agak tergelitik dengan dua anak kecil yang sering duduk atau kadang bermain di depan rumah itu. Seorang anak perempuan yang kutaksir mungkin kelas lima SD, dan seorang anak lelaki yang kira-kira duduk di kelas dua atau tiga SD, mungkin. Parasnya terkesan oriental. Pada awalnya aku merasa biasa saja. Namun karena sering melihat dua anak itu tengah bermain di depan rumah, aku merasa pernah saja melihat mereka sebelumnya, tapi entah di mana. Paras dua anak itu memang terasa tak asing, tapi aku benar-benar tak ingat dan tak tahu apa aku pernah bertemu mereka sebelumnya. Aku mencoba mengingat-ingat, tapi gagal.
Aku kadang penasaran ingin berhenti dan bertanya pada mereka, tapi bingung untuk urusan apa aku bertanya dan apa juga yang harus kutanyakan. Aku memang bisa saja beralasan untuk bertanya tentang produk makanan yang mereka jual, tapi aku rasa itu juga tak perlu. Jadi setiap kali aku ingin berhenti dan bertanya pada dua anak itu, aku selalu mengurungkannya.
***
Cerita Rizal, sepupuku yang tinggal di luar provinsi itu, cukup mengejutkanku. Bagaimana ia bisa mengenal Deay?
Aku dan Rizal jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing. Aku menelponnya setelah mendapat pesan singkat darinya yang berbunyi, “Deay telah pindah ke kotamu.”
Deay adalah seseorang yang memiliki hubungan istimewa denganku di masa lalu, belasan tahun lalu, saat kami masih duduk di perguruan tinggi yang sama di kota pelajar. Ia dua tingkat di bawahku di kampus. Meski kukatakan bahwa kami memiliki hubungan istimewa, namun kami tak pernah berpacaran. Istilah orang-orang, kami menjalani Hubungan Tanpa Status (HTS). Kami sering curhat satu sama lain. Aku curhat pada Deay biasanya soal keluarga dan Deay akan curhat padaku tak sekadar persoalan keluarga tapi juga soal asmara.
Tiga tahun aku dekat dengannya dan hampir setiap hari kami berbincang, padahal kami telah sama-sama memiliki kekasih. Kami begitu rapi menyembunyikan kedekatan kami hingga hampir-hampir tak ada orang yang tahu hubungan khusus ini, kecuali beberapa saja. Tentu pernah pacarku, Fatma, memergoki aku sedang bersama Deay, dan ia merasa cemburu, namun aku bisa menenangkannya.
Deay beberapa kali putus dengan pacarnya selama tiga tahun itu. Ada empat kali ia putus dengan kekasihnya. Ia akan bercerita padaku jika ia merasa tak cocok dengan mereka. Ia tak menemui apa yang ia harapkan. Aku tahu Deay sesungguhnya membutuhkan seorang yang dewasa yang bisa menenangkannya, sementara pacar-pacarnya rata-rata seusia dengannya, masih memiliki jiwa muda yang penuh gejolak. Aku paham karena Deay memang sering bercerita sendiri secara langsung padaku. Ia sering memujiku sebagai sosok yang tenang, dewasa, dan cerdas.
Selepas kuliah, dan aku bekerja di kota besar, aku memang jarang berkomunikasi dengan Deay meski aku sebenarnya masih mengingatnya dan sering merindu. Lima tahun kemudian Deay menikah. Itu kutahu dari teman seangkatan Deay saat kami bertemu dalam suatu reuni kampus di mana Deay tak datang saat itu, dan banyak teman tak tahu keberadaannya.
Tak lama setelah itu, Deay menghubungiku lewat pesan di akun facebook-ku. Dia menggunakan akun dengan nama lain. Komunikasi kami cukup intens di pesan facebook meski ia sering berganti-ganti akun. Ia tak ingin teman-teman mengetahui keberadaannya. Deay menikah dan tinggal di negeri jauh dari negeri kami. Sekian tahun kami saling berkomunikasi, aku tahu jika hubungan rumah tangga Deay berjalan tak harmonis. Sebenarnya begitu juga dengan hubungan rumah tanggaku.
Deay ingin sekali pulang ke negeri kami dan berpisah dengan suaminya karena memang ia merasa tak kuat lagi meski ia telah memiliki dua anak. Deay pernah mengirimiku foto anaknya, Nayla dan An’an. Aku hanya sering mendengarkan saja cerita Deay, seperti dulu saat aku juga sering menjadi pendengar yang baik baginya. Aku tentu tak berani memberi pendapat apalagi mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Pendeknya, aku juga merasa prihatin. Deay semasa kecil dan remaja, hidupnya tak bahagia. Sekali lagi, aku hanya sering membaca ceritanya tanpa berkomentar macam-macam.
“Jika aku jadi pulang ke negeri kita, aku ingin sekali memulai usaha dengan membuka toko kuliner. Itu salah satu impianku,” Deay sering berucap itu.
***
Aku mencecar Rizal banyak pertanyaan. Tapi ia memang tak tahu banyak tentang Deay. Ia hanya tahu jika Deay adalah sahabatku. Rizal bercerita jika ia dan Deay pernah beberapa kali dan akhirnya cukup sering berkomunikasi via FB, karena Deay tahu jika Rizal adalah sepupuku. Aku rasa aku sendiri yang terlalu berlebihan merespons pesan Rizal di ponsel, pesan yang mengabarkan jika Deay telah pindah dan tinggal di kotaku.
Aku membuka ponsel, melihat akun FB Deay, namun sudah lama tak aktif. Aku membaca berkali-kali pesan terakhirnya, “Aku akan segera pulang ke negeri kita, membawa dua anakku. Aku benar-benar ingin memulai hidup baru dan memulai usaha dari nol.”
Pikiranku tiba-tiba mengingat keras. Aku ambil dan kulajukan sepeda motorku, meluncur ke rumah Deay. Aku tahu di mana ia tinggal. Bagaimanapun kami adalah manusia-manusia dewasa yang bisa mengambil sikap. Aku rasa Deay telah mengambil keputusan yang tegas, pasti, dan berani. Meski Rizal, sepupuku itu, tak tahu alamat rumah Deay, tapi Rizal tahu alamat rumah di mana aku tinggal. Itulah yang membuatku yakin kenapa Deay pindah ke kotaku. Ia tak pulang kampung, kembali ke kota asalnya karena aku tahu bagaimana kondisi ibu dan keluarganya. Aku menghargai keputusan yang ia ambil dan aku tak ingin membuat keputusannya sia-sia. (*)