Cerpen NH Dini
DULU rambutnya tidak jarang seperti ini. Sekarang kalau bersisir dia harus perlahan sekali; sakit rasanya sisir itu menyentuh kulit kepalanya. Dia berharap supaya tak banyak rambut yang rontok. Terlalu banyak yang hilang segala yang dimiliki dulu, sebelum dia kena tifus.
Ya, terlalu banyak yang hilang. Kesegarannya, kesigapannya, waktu dan tenaga kesanggupannya begitu mudah ditelan oleh kerumunan kuman yang menggerogoti kesehatannya. Dan rambutnya ini, ah, alangkah sakit hatinya jika melihat perhiasan satu-satunya yang asli ada di tubuhnya itu kini tak seindah dulu.
Disisirnya perlahan memanjang. Jarang dan kasar. Tak lagi mengkilat. Dia tak mau memberinya minyak karena minyak dianggapnya akan membikin rambut menjadi kelihatan sedikit. Dan dia tak mau rambutnya menjadi sedikit jika dilihat orang. Meskipun dengan cara ini dia hanya menipu hatinya sendiri, dia membujuk perasaannya sendiri yang mengatakan bahwa dia masih cukup bisa berhias dengan rambut yang ada sekarang.
Dengan hati-hati dibelainya rambutnya sekali lagi, untuk kesekian kalinya. Dipandangnya sebentar wajahnya dalam cermin. Ah, tidak! Tak sampai hati dia merenungi wajah itu. Redup kuyu benar sinar matanya. Terlalu tajam beda dia yang dulu, segar dan selalu lincah pandang matanya, dengan dia yang sekarang, yang ada di dalam cermin itu. Dia yang sekarang sudah tak lengkap lagi dengan keseluruhannya yang dulu, sudah dimakan penyakit. Sudah menjadi sarang ribuan kuman yang tak disadarinya telah merampas sebagian miliknya.
Dia masih ingat dulu waktu kecil, bagaimana takutnya dia kepada jarum suntik. Dia masih ingat pula ibunya membisikkan bujukan rayu ke telinganya agar mau disuntik. Dia masih ingat pula bagaimana dulu dia lari pulang dari sekolah karena ada suntikan di sekolahnya. Dan betapa ibunya memeluknya dengan mesra, menginsafkan apa perlunya orang disuntik. Tapi dia belum bisa mengerti kenapa orang mesti ditusuk lengannya kemudian diberi semacam air dalam tusukan itu. Dia hanya tahu bahwa dia takut kepada jarum itu dan dia tak mau orang menusuknya begitu saja. Sampai pada batas umur yang tak pantas lagi dia selalu ditolong, dia tetap belum bisa menginsafkan dirinya untuk tidak takut suntik. Suntikan apa saja tetap dia tidak berani.
Dan kini, dia benar-benar merasakan akibat ketakutannya selama itu. Takutnya terhadap jarum, satu ujung kecil yang menusuk dagingnya dan yang tak akan minta kekuatan tenaga apa pun darinya, kini memberinya akhiran yang tidak seimbang. Sebagian hidupnya sudah lesu. Dia tak akan bisa kuat benar seperti dulu. Segala yang dia makan harus ada batasannya, jumlah serta jenisnya. Betapa terikatnya kini dia. Satu paksaan di samping kehilangan keseluruhan yang dulu. Seakan-akan dia tak akan lagi bisa memberi arti hidupnya sendiri. Hidup yang dulu selalu ditimbang atau diidamkan oleh ibunya: Jadilah manusia yang berarti bagi keluargamu! Idaman ibunya, ucapan ibunya, manusia yang kini sudah tak hadir lagi di kelanjutan hidupnya.
Dia tersenyum, alangkah kaku ucapan ibunya itu diingatnya kini. Dia harus menjadi manusia yang berarti bagi keluarganya. Tapi kenyataannya sampai kini dia tetap tak bisa menjadi tokoh yang berarti dalam keluarga. Berarti menurut pikirannya, menurut otak manusia seperti dia yang bercitakan kesemarakan tidak hanya dalam soal keluarga. Dan idaman ibunya yang sangat sederhana, menjadi seorang istri dan ibu yang baik dan membawa kebesaran bagi nama keluarga, tidak bisa dia penuhi. Meskipun dia sudah berusaha untuk memenuhinya, berusaha menjadi istri yang baik sambil menuruti segala perintah orang tuanya. Betapa tidak! Orang seperti dia yang terus-menerus disodori berbagai ajaran adat, tumbuh dalam belaian kata timangan ibunya yang sangat terbatas pandangannya. Sampai pada perkawinannya, dia hanya mempunyai kesadaran harus bagaimana nanti dia untuk menjadi istri yang baik, dan dia tinggal menjalankan saja perkawinan itu.
Suaminya dipilihkan oleh orang tuanya.
“Apa kata Darwo, Is?” tiba-tiba suara ayahnya memadati sepi di kamar itu.
Dan tiba-tiba pula dia teringat kepada surat bekas suaminya yang datang siang tadi. Wajahnya muram menjawab ayahnya.
“Minta Kanti.”
Suaranya merendah dan matanya merenung ke wajah ayahnya di dalam kaca. Kedengaran ayahnya menghela napas, lalu Iswanti meneruskan, “Uang tunjangan dimasukkan sana, dan anak itu harus ikut dia.”
“Memang menurut hukum Islam anak perempuan ikut bapak.”
“Aku tak peduli macam hukum mana pun juga. Terlalu tak ngopeni perasaan kemanusiaan.”
“Biar Bapak saja yang menjawab surat itu nanti.”
“Uangnya pun tak pernah dikirimkan, Pak.”
“Ibumu yang menerima, Is.”
Betapa terkejutnya dia mendengar ini. Dibalikkan badannya dan ditentang mata bapaknya, mata yang sudah pudar itu.
“Tanpa setahuku!” dia memprotes.
“Kita sama-sama membutuhkan uang, Is,” suara ayahnya rendah.
“Tapi belum cukupkah gajiku tiap bulan yang kuserahkan semua kepada Ibu? Tak terhitungkan pula gaji Bapak sebelum pensiun.”
Ayahnya diam saja. Dan oleh kediamannya itu hati Iswanti menjadi lemah.
“Seolah sudah demikian mendesaknya kebutuhan itu sehingga mesti minta kepada orang lain.”
“Tapi kami tidak minta,” ayahnya menyela.
“Tapi menerima,” dia cepat menjawab. “Dan menerima berarti mau; untuk kemudian minta supaya bulan depan diberi lagi,” ditantangnya mata bapaknya dari dalam kaca; kemudian dia buang pandangnya ke arah jauh. “Ayah tak menyadari betapa tuntutan Darwo nanti. Juga Ibu tidak.”
Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan lemah sekali. Dia tahu kenapa ibunya begitu rakus akan kebutuhan uang. Lingkungan ibunya yang tak punya banyak kerja itu membikin keisengan buat membuang-buang waktu. Dan judi yang dimulai kecil-kecilan lama-kelamaan mencandu dan mendarah daging pada manusia. Demikian itulah hidup ibunya, manusia yang dicintai anak-anaknya itu mencari keisengan sejak pagi ditinggal suami dan anak-anaknya berangkat kerja dan sekolah. Biaya hidup sederhana kadang-kadang terhanyut pula ke meja judi, kumpulan orang-orang yang juga iseng seperti ibunya.
Hidup demikian sudah lebih dari biasa bagi Iswanti yang mengetahui segala-galanya. Dia malu kepada tetangga dan kawan-kawannya, dan kepada dirinya sendiri sebagai perempuan yang tahu bagaimana menyelenggarakan rumah tangga yang baik. Ia terima mesra cukup banyak dari ibunya sebelum tergila oleh judi dan kelalaian. Tapi sejak kelahiran adiknya yang bungsu, dia hidup di bawah asuhannya sebagai anak sulung yang mengerti ke mana ibunya pergi. Kadang-kadang hingga tengah hari belum pulang, kadang-kadang hingga petang hari.
Tiba-tiba Kanti masuk dengan langkahnya yang belum tegak benar. Dia hendak mengambil bola di bawah kolong tempat tidur. Iswanti melihatkan anaknya dari dalam kaca. Begitu mungil tubuh itu. Akan diberikan dia kepada Darwono, bapak Kanti? Tidak! Hatinya berteriak sendiri mengatakan tidak. Dia ingat betapa malam itu dia berjuang memperebutkan nyawanya dan nyawa anaknya, betapa derita yang dirasakannya sewaktu Kanti lahir. Dia tak punya tenaga penuh karena kelemahan tubuhnya selama mengidap tifus.
“Kanti tak boleh diasuh ibu tiri!” tiba-tiba dia berkata. Dan dibelainya kepala anaknya yang jongkok di kakinya menggapai-gapai bola di bawah tempat tidur.
“Kalau ada tuntutan?” tanya bapaknya sambil menolong cucunya mengambil bola.
“Aku akan berusaha mengembalikan uangnya.”
“Kau harus hati-hati dengan kesehatanmu.”
“Aku tahu itu. Tapi aku sangat menyesal karena namaku dibuat mencari keuntungan. Dan keuntungan itu cuma untuk dibuang-buang di meja judi.”
Ayah diam. Iswanti sendiri sudah demikian tak tahan hatinya hingga terungkit olehnya kepincangan rumah tangga ayahnya. Satu tusukan pula bagi ayahnya sebagai kepala rumah tangga yang tak bisa menumbuhkan kebahagiaan dalam lingkungannya.
“Kau bisa minta tolong kepada kawanmu di kantor perbendaharaan tentang tunjangan itu. Masukkan Kanti bersamamu,” ayahnya mencoba memberi jalan.
“Tidak. Biar semua kuurus sendiri.”
“Kalau tak berhasil?”
“Gelang dan subangku barangkali cukup untuk ganti beberapa ratus rupiah.”
“Utang kita juga belum lunas sejak perkawinan adikmu.”
“Baru sekarang Bapak bicarakan ini kepadaku!”
“Aku berusaha memikirkannya sendiri sejak ibumu meninggal.”
Ibunya meninggal dengan warisan utang juga rupanya. Dan ayahnya yang sudah tua itu sekali lagi dia amati. Tubuh kecil kering oleh batuk.
“Kita sebetulnya bisa minta tolong sama Darwo.”
“Kalau Bapak mau boleh saja. Tapi jangan kami, aku dan Kanti, ikut pula terbawa-bawa untuk pengganti jasa,” dipandangnya wajah bapaknya dengan sungguh-sungguh.
“Sudah lama aku tahu bagaimana manusia selalu minta ganti buat kerja atau perbuatan yang dilakukannya terhadap orang lain. Dan kepada Darwo aku tak perlu beramah-ramah.”
Dia ingat dulu sewaktu masih di Jakarta di rumah suaminya. Tak pernah terasa olehnya bahwa dia berada di rumahnya, di tempat yang harus diaturnya seperti rumah tangga-rumah tangga lainnya yang dia ketahui. Ibu tiri Darwono yang genit itu selalu memperlihatkan bahwa ia lebih kuasa dalam rumah itu, bahkan lebih kuasa atas diri Darwono yang telah menjadi suami Iswanti. Tampak segala perbuatan ibu tiri itu dibuat-buat untuk menyakitkan hati Iswanti. Dan segala itu ditahannya, ditekan saja dalam perasaannya, karena dia mau menjadi istri yang baik. Dia mau menjadi istri yang menurut idaman ibunya, mengikuti semua omongan suami dan orang tua. Sampai akhirnya, Kanti sudah di dalam kandungan antara lima bulan, dia tak tahan lagi berada di lingkungan yang berisi tantangan dan cemoohan. Betapa tak akan terbakar dadanya bila dia lihat suaminya berbaring dengan kepala di atas pangkuan ibu tirinya di dipan ruang belakang. Darwono yang begitu penuh nafsu seperti juga laki-laki lain di atas bumi ini! Tadinya dia anggap itu sebagai sesuatu yang biasa saja, karena dia sangka kasih ibu tiri itu cuma kasih ibu yang tulus kepada anaknya. Tapi lama-kelamaan, segala tingkah yang melampaui batasan kesopanan antara kedua manusia itu benar-benar mengejutkan dan mencolok mata Iswanti, istri yang mau setia.
Tidak, dia sudah cukup lama menderita dengan penerimaan yang dipaksa-paksa terhadap perlakuan Darwono. Dan dia tak hendak, bahkan tak sudi minta tolong kepadanya. Apalagi tak terpikirkan olehnya untuk menyerahkan anaknya kepada bekas suami itu.
“Aku akan dapat menghidupi anakku sendiri,” katanya.
Ayahnya diam saja. Dia tahu betapa sakit hati anaknya terhadap Darwono. Tapi dia tak tahu betapa derita perasaan anaknya itu tentang hal yang pernah dihadapi. Dia sendiri sebagai kakek pernah mengeluhkan: kenapa cucuku lahir perempuan. Kakek itu agak menyimpan sedikit kekhawatiran dalam hatinya akan kekerasan hidup cucu perempuan itu, anak dari anaknya perempuan yang pernah dibuat landasan permainan nasib perkawinan.
Tapi itu tidak bagi Iswanti. Laki-laki atau perempuan baginya sama saja. Anaknya entah laki-laki entah perempuan hendak dia didik dengan baik, dengan curahan segala rasa kemanusiaan yang wajar. Hendak dia didik supaya jiwa pembedaan antara dunia laki-laki dan perempuan dipenuhi rasa kasih kepada sesamanya.
Kembali dia pandang wajahnya di dalam kaca, lesu dan pucat. ***
.
.
Semarang, 28 Maret 1955
.
Dua Dunia. Dua Dunia. Dua Dunia. Dua Dunia. Dua Dunia. Dua Dunia.