Cerpen NH Dini
KETIKA Bu Bidan datang lalu masuk ke ruang pemeriksaan, perawat pembantu sedang berhadapan dengan seorang pasien.
“Betul Anda sudah pernah kemari?” tanya perawat itu sambil mencari kartu di kotak yang padat berisi deretan kertas tebal.
“Betul, Bu!”
“Yang terakhir kapan?”
Perempuan di bangku tampak berpikir.
“Sejak anak saya yang paling kecil itu!” berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Sekarang sudah lima tahun umurnya.”
“Anak lahir, sesudah itu masih periksa lagi apa tidak?”
“Masih. Lalu kami pulang ke desa. Dua tahun atau kurang sedikit.”
Bu Bidan berpaling dari sudut ruangan, selesai memeriksa persediaan obat sesuai daftar catatan. Katanya mencampuri percakapan, “Tidak ketemu kartunya?”
“Ya, Bu.”
“Dibuatkan yang baru saja daripada mencari terlalu lama. Itu di luar masih banyak yang menunggu. Kartu yang baru disisihkan, setelah praktek nanti dicari yang lama. Kalau ketemu, diklip jadi satu.”
Pembantu perawat menyiapkan lembaran kertas tebal, siap mencatat.
“Mudah-mudahan sebelum jam satu kita sudah selesai. Saya masih ada dinas lain di Karangayu.”
“Oya, ya, Bu. Pembukaan Pusat Kesehatan di sana!” suara perawat itu menunjukkan baru ingat peristiwa tersebut. “Peresmiannya ‘kan pagi ini jam sepuluh, Bu! Tidak menghadirinya?”
“Ya, tidak bisa! Meskipun badan gemuk seperti ini, tetap tidak bisa dibagi, setengah di sana setengah di sini. Padahal yang benar-benar penting ‘kan pemeriksaan di sini.”
“Tapi di sana ada pesta, Bu.”
“Itulah yang memalukan! Pusat Kesehatan bukan untuk pesta! Saya datang nanti saja kalau sudah selesai rame-ramenya. Saya ingin melihat perlengkapannya.”
Percakapan itu lancar, mengiringi gerak dan sentuhan Bidan yang pasti dan ahli memeriksa payudara pasien, pernafasan, mata, tenggorokan. Kemudian mencuci tangan, mengenakan pelindung dari karet.
“Anaknya berapa, Bu?”
“Lima.”
“Wah, sudah banyak! Mengikuti Ka-Be atau tidak?”
Pasien itu tidak segera menyahut. Lalu berkata sambil membuang pandang.
“Suami saya tidak mau.”
“Euh!” Bidan mengeluarkan bunyi sesalan. “Ya, dia sih enak saja! Ibu yang capek!”
Ditanya umur, rumah, nama anak-anaknya. Tiba-tiba Bidan itu memandangi wajah pasiennya lagi, seakan-akan mencari satu pengenalan. Ya, benar! Pasien ini sudah pernah diperiksanya. Entah berapa kali. Barangkali setiap kali hamil!
“Nama Anda siapa tadi?” tanya Bidan.
“Bu Sally.”
“Nama kepanjangannya!” ulang Bidan.
Perempuan itu sekali lagi menghindari pandang Bu Bidan, menjawab lirih, “Saliyem.”
“Oooo Alllaaah!” hanya itu yang diucapkan Bu Bidan. “Dicari lagi kartunya! Namanya Saliyem! Siapa nama suaminya?”
Dan sebelum pasien itu memberi jawaban, pembantu perawat menambahkan, “Nama lengkap! Nama aslinya!”
Bu Bidan merasa perlu menjelaskan lebih terang, “Nama desa, nama yang dibawa dari desa!”
“Samijo,” suara pasien itu tetap perlahan.
“Sekarang siapa namanya? Nama kota?” Bu Bidan bertanya.
Tanpa mengenali nada ejekan atau sindiran dari Bu Bidan, perempuan yang terbaring di tempat pemeriksaan menyahut, “Pak Sammi.”
“Mengapa mulutnya begitu rapat? Apa Ibu tahu caranya menulis? Dengan huruf em dua atau bagaimana?” Bidan itu mendesak lagi.
“Saya tidak bisa menulis, Bu. Tapi katanya memang pakai huruf em dua.”
Bidan dan pembantu perawat saling memandang, masing-masing mengulum senyum.
“Kalau begitu, Salli itu el-nya juga dua?” tanya perawat.
“Ya, Bu. Katanya begitu.”
“Katanya, katanya, siapa to itu yang mengatakan begitu?”
“Ya, anak-anak sekolah, orang-orang pandai yang datang ke warung saya, Bu.”
Perawat mendekatkan kartu kunjungan, memperlihatkannya kepada pasien.
“Apa betul begini? Nyonya Salli Sammi?”
Perempuan itu memandangi sejenak tulisan di kertas. Lalu berkata, “Huruf yang paling belakang ada kakinya, Bu. Panjang sampai ke bawah.”
Bidan mendekat, turut melihat ke kartu.
“Ooooh, maksudnya itu i diganti dengan i-grek, jadi ye, ejaan bahasa Inggris! Waaaah!”
Sambil melepaskan sarung tangan karet, membenahinya, meneruskan katanya, “Di samping, harus ditulis nama aslinya, Jeng! Kelak sukar lagi menemukannya!”
“Ya, Bu!”
***
Bu Sally keluar dari halaman Pusat Kesehatan dengan perasaan lega. Dua sebabnya. Yang pertama-tama ialah karena dia diberi tahu bahwa tidak mengandung. Mulai dari waktu itu dia harus minum pil pencegah kehamilan. Yang tidak menyetujui Ka-Be sesudah mempunyai anak lima adalah penentang pembangunan. Karena politik negara menggalakkan kelahiran sesedikit mungkin. Kalau tidak menyetujui Ka-Be berarti memberontak terhadap pemerintah. Begitu kata Bu Bidan tadi. Kelegaan kedua ialah dia terlepas dari keterangan-keterangan yang harus diberikan mengapa dia berganti nama. Samijo mengambilnya kembali dari desa karena sudah mempunyai tempat tinggal. Selama setahun suami itu bekerja sebagai buruh harian, mengangkut pasir, mengaduk semen dan kerikil. Lalu berubah menjadi tukang batu, turut mendirikan dinding, menaikkan genting. Akhirnya, bangunan sekolah jadi, gubuk sementara yang melindungi para pekerja terlalu sayang untuk dibongkar. Atapnya dari seng. Meskipun panas, tetapi rapat dan tahan tertimpa hujan. Dindingnya dari papan-papan bekas. Tempatnya jauh dari pinggir jalan, sekaligus tidak masuk ke dalam karas [1] sekolah. Betul-betul mendapat luasan yang lumayan. Samijo berkata kepada kepala regu kerjanya apakah boleh tinggal di barak itu. Mandornya mengatakan sesuka hati Samijo. Katanya lagi sebagai tambahan bahwa jalan di sana sudah cukup lebar. Perbaikan-perbaikan tidak akan menyentuh pondok tersebut. Sewaktu pembangunan berlangsung, mereka bisa bersepuluh tidur di dalamnya. Dibagi menjadi dua ruang karena yang di belakang dipakai sebagai dapur. Ada gentong dan kompor kepunyaan mandor. Itu bisa dibeli Samijo dengan harga murah.
Ketika mereka pindah, Samijo hanya mengganti pintu. Gemboknya juga baru. Kemudian, sedikit-sedikit, bagian samping berubah menjadi beranda karena papan dindingnya dipotong setengah badan. Akhirnya, Saliyem membuka warung pecel, kolak, dan bubur. Ternyata laris, melayani anak-anak sekolah di belakang pondok mereka.
Dengan alasan karena Samijo turut menggali sumur sekolah, keperluan air bagi rumah tangga diteruskan mengambil dari sana. Penjaga tidak bisa berbuat lain daripada membiarkannya. Dan mapanlah keluarga itu dengan syarat-syarat kehidupan rakyat yang cukup sandang dan pangan asal tidak telanjang. Lima anak kelihatan sehat meskipun yang kecil-kecil tampak ingusan. Tetapi mereka selalu demikian. Selesma dianggap bukan penyakit lagi. Dia datang dan pergi bagaikan kenalan lama yang berhak mengetuk pintu sewaktu-waktu. Dengan istri yang menjual makanan, upah harian Samijo lebih bisa disisihkan. Bersama kakaknya, dia mengharap akan bisa mengurus surat-surat tanah yang baru milik keluarga mereka.
Seperti petani-petani lain di Sukorejo, orang tua Samijo mendapat bagian tanah bekas perkebunan kina untuk digarap. Masa kontraknya habis, pemiliknya berkebangsaan Belanda mengembalikan kepada pemerintah. Tanah basah dan kering itu berpuluh hektar luasnya. Orang tua Samijo semula mendapat setengah hektar. Karena kehematan bapaknya, sedikit demi sedikit dapat membeli bagian-bagian petani lain yang karena pergantian zaman lebih suka hidup di pinggiran kota daripada di desa.
Purwosari, Bringinsari, Ngadiwarno adalah desa penghasil tembakau. Tanaman yang oleh alam dijadikan alat pembakar rongga dada manusia ini gampang-gampang sukar pemeliharaannya. Kecamatan Sukorejo, suatu ketika terlalu banyak menerima hujan. Penderitaan petani penanam tembakau tidak terlukiskan karena kebanyakan mereka hanya menggantungkan diri dari hasil pemetikan daunnya. Kerugian yang tidak diramalkan itu membawa mereka menunggak kredit Bimas. Dan untuk kesekian kalinya alasan eksodus ke kota bertambah. Samijo termasuk golongan orang yang tidak sabar, ingin segera hidup menuruti zaman bersama kemewahan dan perubahannya. Tanah keluarga biarlah kakaknya yang mengerjakan, dibantu oleh adik-adik yang berjumlah tujuh orang.
Namun, kesabaran yang bersemayam di hati kakak itu pun terukur dengan keterbatasan. Panggilan hidup ingin menyamai sekeliling tak dapat dihindarkan. Listrik masuk desa disertai segala macam alat penggunaannya. Dimulai dari datangnya kotak televisi, sampai kali terakhir Samijo pulang mendengar orang rumah mengeluh masih menimba dengan tenaga. Tidakkah di rumah Wakijo sumurnya sudah dilengkapi dengan pompa listrik? Semua mengarah ke kebutuhan uang. Tanah warisan sudah diiris berapa kali agar sebagian dijual, sebagian lagi disewakan. Mau tidak mau, mereka terbujuk dan terpikat janji sewa dengan harga lebih tiggi dari harga umum. Kakaknya malahan berhasil mendapatkan bayaran tiga kali lipat, yang berarti seratus lima puluh ribu satu hektar selama satu musim, yaitu enam bulan kira-kira. Tidak perlu dipertanyakan siapa gerangan yang berani mengeluarkan jumlah sebesar itu! Semua orang mengetahui bahwa ekonomi kuat, kata bahasa kota, dipegang oleh golongan yang bukan pribumi.
Samijo setuju-setuju saja, asal sebagian tanah tetap dipertahankan buat hari tua. Karena Samijo yang menghendaki hidup di kota masih mempunyai rasa nostalgia kedesaan. Dia juga dibayangi oleh keinginan menghabiskan umur yang tersisa untuk tenang-tenang di tanah peninggalan orang tua.
Saliyem membuntuti semua kemauan suami. Dia merasa beruntung sekali dipersunting oleh Samijo. Bapaknya sendiri tidak kuasa menahan tanah yang menjadi bagiannya. Air dari langit yang membusukkan tanaman tembakau membikin laki-laki itu dibebani utang yang sampai sekarang masih belum terlunaskan. Kini dia menjadi kuli di tanah yang telah dijualnya. Desa Peron merupakan contoh malapetaka yang tidak akan berhenti mengganas menelan jenis manusia yang dinamakan petani. Tanah garapan yang dibagikan dahulu sudah banyak yang diperjualbelikan kepada pengusaha bersama surat-suratnya. Saliyem mendengar suaminya menyebut kata sertifikat. Dia teringat kebodohan bapaknya karena ladang dan tegalan tempat bermainnya dulu sekarang sudah dibatasi dengan pagar-pagar. Salah satu, kata Samijo, tanah yang luasnya lebih dari dua puluh hektar, dibeli sedikit demi sedikit oleh orang bermata sipit Gunawan. Orang yang tinggal di kota. Tanahnya menjadi perkebunan dan dikerjakan oleh bekas petani pemilik atau penggarap. Di Ngargosari sama halnya. Bedanya terletak pada warna kulit si empunya perkebunan yang nyata senada dengan buruh-buruh di sana. Keturunan asing atau pribumi, orang kota selalu lebih kaya dan lebih pandai.
Inilah kesimpulan Saliyem. Dan ini diperkuat pengalaman dari hari ke hari selama dia menjadi bagian dari warganya. Dia merasa bahwa kepalanya yang sempit pun berubah. Seakan-akan ada ruangan tambahan yang mampu meneguk pengetahuan-pengetahuan yang dahulu sama sekali tidak terjangkau oleh pikirannya. Apalagi waktu-waktu terakhir, dimulai ketika dia membuka warung.
Suatu siang, seorang pembeli duduk di bangku, di arah paling dekat dengan Saliyem. Yang menarik baginya, orang itu berkacamata hitam mengkilat. Ketika melayaninya, Saliyem terkejut melihat bayangan bergerak dan menuruti gerakan dan ulahnya sendiri. Setelah memberanikan menatap berkali-kali kedua jendela penghias muka itu, barulah dia menyadari bahwa benda itu bisa buat berkaca. Sambil makan nasi pecel, orang itu membaca atau melihati buku besar yang diambil dari tas besi yang bagus. Tas ini tetap berada di pangkuan.
Padahal waktu itu sepi. Anak-anak sekolah belum keluar. Pembeli lain tidak ada. Saliyem memanfaatkan kelengangan tersebut untuk menyiapkan piring dan sendoknya, membersihkan lembaran-lembaran daun dengan kain lap. Dalam kesibukan itu dia tidak melepaskan tamunya dari lirikannya. Seperti orang-orang kota lain, lelaki itu berpakaian rapi. Bekas lipatan menandakan bahwa dia tidak naik kendaraan umum. Saliyem mengetahui hal itu dari guru sekolah di belakang warung. Katanya, pengajar itu lebih suka jalan kaki di waktu pagi. Selain udara belum panas sekali, menghemat, juga disebabkan karena pakaian tidak lusuh berdesakan dengan orang banyak di dalam bis. Memalukan kalau berhadapan dengan murid-murid menjelang dewasa dalam pakaian yang kurang rapi. Itu juga mengurangi wibawa, kata guru itu.
“Warung ini belum punya nama, Yu?” [2] tiba-tiba pembeli makanan di depan Saliyem bersuara.
“Belum,” biasa saja Saliyem menjawab.
“Harus diberi nama! Sayang kalau tidak, karena pecelnya enak.”
Pujian itu bukan yang pertama kalinya bagi Saliyem. Dia memutuskan menjual makanan itu karena suaminya mengatakan bahwa dia pandai membikin sambel pecel. Mertua di desa selalu menyerahkan kepadanya pula jika acara makan mereka memerlukan ramuan sambal kacang.
“Mahal pasang nama,” kata Saliyem, “dan lagi apa to namanya! Kalau orang tahu makanannya enak, itu sudah cukup.”
“Lho, penting punya nama! Kalau saya cerita nanti kepada kawan saya bahwa saya makan pecel enak lalu dia bertanya, makannya di mana, ‘kan saya tidak bisa memberi keterangan jelas. Sedangkan kalau warung Anda punya nama, kawan saya pasti mudah menemukannya. Berarti, karena tidak ada nama, Yu kehilangan pembeli satu akhirnya.”
Saliyem memandangi tamunya sambil mengusap daun pisang lembar demi lembar. Alangkah pintar orang ini, pikirnya.
“Memesan tulisan di papan itu mahal!” akhirnya Saliyem teringat lagi kepraktisannya dalam keuangan.
Harga papan, ongkos pengecatan, tulisan. Ah, sepuluh ribu sendiri habis ke situ! Tentulah suaminya tidak akan setuju. Jumlah itu besar, lebih baik ditambahkan ke tabungan guna mengurus sertifikat baru tanah yang masih mereka miliki. Demikian sukar, berbelit, dan mahal untuk mendapatkan surat-surat tersebut, kata Samijo. Dan katanya lagi, semakin lama akan menjadi semakin mahal. Pegawai di kantor-kantor pemerintah akan minta uang jasa lebih besar lagi. Jadi, pengeluaran yang bukan untuk makan, pakaian Lebaran, dan kesehatan harus dihindari.
“Bisa diatur, itu bisa diatur,” kata lelaki itu.
“Apanya yang bisa diatur?” hatinya berkata seorang diri.
Saliyem tidak mengerti, diam saja. Memang macam-macam bahasa orang kota. Tidak hentinya dia belajar setiap hari!
“Saya bikinkan nanti!”
Saliyem menengok ke arah tamunya. Apa dia tidak salah dengar? Orang itu sudah selesai makan, mulutnya bergerak-gerak. Tonjolan lidah kelihatan ke kiri, ke kanan. Sebentar bibirnya menggelembung, meruncing seperti pantat ayam. Dia sibuk mencari sisa-sisa yang terselempit di segala penjuru. Suara desis-desis tidak ketinggalan untuk mengeluarkan butiran kacang yang ditumbuk sebagai sambal dari sela gigi di sana-sini.
Tiba-tiba orang itu berdiri. Tasnya ditinggal. Dia berjalan mundur, menjauh ke depan pondok. Kembali ke samping di mana orang bisa melihat bahwa di sana ada sesuatu yang dijual.
“Betul seperti yang saya kira. Tempat ini bagus untuk papan reklame.”
“Apa itu?” tak tertahankan Saliyem bertanya.
“Itu lho, gambar-gambar dengan tulisan supaya orang membeli barang yang ditawarkan!”
Saliyem belum mengerti maksud tamunya. Orang ini mengeluarkan sesuatu dari tas.
“Ini! Gambar odol, namanya Pepsoden. Nanti saya bikinkan papan nama warung. Di sampingnya dipasang gambar seperti ini.”
“Saya bayar berapa?” tanya Saliyem khawatir.
“Tidak bayar apa-apa.”
Agak curiga Saliyem semakin menatap laki-laki itu.
“Mengapa saya tidak bayar apa-apa?”
“Karena pabrik Pepsoden yang membayar! Kalau orang melihat nama warung Anda, mau tidak mau harus pula melihat gambar odol Pepsoden. Lha itu sudah merupakan pengaruh. Atau kalau dia sudah memakai odol itu, tiba-tiba ingat bahwa yang ada di rumahnya sudah habis, harus beli lagi.”
Saliyem tetap belum mengerti. Apa boleh buat! Asal dia tidak bayar saja! Nanti suaminya tentu akan menjelaskan lebih terang.
Lalu mereka membicarakan kemungkinan nama-nama yang pantas. Warung Enak? Gayeng? Miroso? Ah, tidak! Harus cari yang lain, yang tidak lumrah.
“Nama Anda siapa?” tiba-tiba langganan itu bertanya, meneruskan, “Pakai nama yang punya malah lebih menarik.”
“Itu juga sudah lumrah!” sahut Saliyem.
“Memang! Tapi dibikin yang lain. Jangan terlalu biasa! Siapa nama Anda, Yu? Coba katakan!”
“Saliyem.”
Langganan yang sudah duduk kembali itu memiringkan kepala. Kemudian memandang ke luar. Beberapa meter dari pinggiran warung adalah pintu masuk sekolah. Jauh ke depan, lebih dari sepuluh meter, selokan, trotoar tetapi sudah hilang kehalusannya, barulah jalan raya. Panas matahari mulai memukul permukaan aspal di sana. Kilauan-kilauan warna hitam seperti gerakan air, menggelombang dan menyakitkan pandang. Sebentar lagi anak-anak remaja akan memenuhi keseluruhan tempat itu.
“Saliyem,” lelaki pembeli makanan itu mengulang menyebut nama perlahan-lahan.
“Nama suaminya?”
“Samijo.”
“Saliyem dan Samijo,” sekali lagi orang itu mengulangi, seperti membuat nama sendiri.
“Anak-anak?” dia meneruskan penyelidikannya.
“Margono, Sri Warsiah, Sri Hartati, Bambang Warjito, yang terakhir Bambang Listriono.”
“Wah, wah, wah! Bagus-bagus namanya!”
Saliyem bangga mendengar pujian itu. Berkat suaminya dan guru desa maka anak-anak mendapat nama demikian. Yang terkecil memakai perkataan listrik karena Saliyem yang mengusulkan. Waktu itu rumah di desa mulai mempergunakan lampu Pe-el-en.
Dan mereka meneruskan pencarian nama buat warung. Saliyem menjawab, mengatakan isi pikiran yang wajar namun sering kali kurang menjangkau maksud langganannya. Tiba-tiba orang itu berkata, “Aaah, ini dia, Yu! Baik ini! Nama Anda saja yang dipergunakan, tetapi dipotong!”
Saliyem gembira melihat semangat pembelinya. Tetapi dia tetap kurang mengerti.
“Dipotong bagaimana?”
“Pak Sami dan Bu Sali!”
Kedengarannya memang lumayan.
“Warung Pak Sami dan Bu Sali! Atau salah satu saja!”
Saliyem semakin mengerti jelas.
“Warung Pak Sami! Warung pecel Bu Sali!”
Saliyem tersenyum. Hatinya senang sekali.
“Lebih tepat kalau Warung Bu Sali karena saya yang memasak, yang membikin bumbu pecelnya, bubur, dan gorengan macam-macam ini.”
Tamu itu pun tampak puas. Dia mengeluarkan dompet, membayar. Ketika akan pergi, berkata, “Ya, baik nama Bu Sali saja. Sali. Ditulis secara modern ya, Yu! Biar lebih hebat. Ini ‘kan di samping sekolah menengah prakteknya IKIP. Harus megah!”
Untuk kesekian kalinya, Saliyem kehilangan pengertian.
“Cara modern bagaimana?”
“El-nya dua, i di belakang seperti bahasa Inggris. Sally!”
“Itu menjadi nama Belanda Inggris?”
“Inggris, Yu! Bukan Belanda Inggris. Kalau Belanda, ya, Belanda saja!”
Tamu itu akan melanjutkan pergi, tetapi berhenti. Barangkali tiba-tiba dia menyadari ada di tingkatan mana lawan bicaranya itu berasal. Mungkin dia juga baru ingat, bahwa banyak orang desa dan kampung yang tidak bisa membaca maupun mencoretkan huruf.
“Sudahlah! Pokoknya tahu beres! Besok siang saya mampir makan lagi. Tanyakan kepada suami apakah dia setuju kalau dipasang papan Pepsoden, sekalian di samping nama Warung Bu Sally!”
Dia berdiri. Sebelum keluar, meletakkan sehelai kertas halus, di atasnya tergambar odol Pepsoden dengan tulisan macam-macam.
***
Bu Sally menyeberang.
Sambil berjalan dia melihat ke arah pondok. Suaminya tidak mendapat pekerjaan sejak kemarin. Tampaknya, ia sudah membuka jendela besar di samping. Meja rendah sudah diatur. Mudah-mudahan sudah menanak nasi dan merebus sayuran. Sewaktu di bus, Bu Sally bertanya kepada penumpang lain jam berapa. Katanya jam sepuluh kurang; dia masih akan sempat merendam pakaian kotor. Kelupaan tadi sebelum berangkat ke Pusat Kesehatan.
Sampai di seberang, dia melihat ke atas tempat tinggalnya. Warung Bu Sally. Memang pantas. Papan itu sudah terkena hujan satu musim. Tetapi catnya tahan. Dari jauh masih jelas nama dan gambarnya. Masuk dari samping, dia langsung menggeret meja rendah tempat makanan dijajakan. Suaminya meletakkannya kurang dekat ke dinding. Anak-anak sekolah kalau datang berbondong-bondong dan tidak sabar. Harus diberi ruang selebar-lebarnya.
Ditemuinya Samijo di dapur, sedang mengaduk kangkung dalam air yang mendidih.
“Tinggal taogenya yang belum,” katanya. “Ini kauteruskan! Aku harus pergi.”
“Nanti dulu! Masih ada cucian segala! Kamu mau ke mana?”
“Ke Bubakan! Mandor menyuruh orang memanggilku tadi. Ada buruhan di sana, dekat Gereja Blenduk.”
Bu Sally tidak berani berkata apa-apa lagi. Dia membuka tutup dandang. Nasi sudah berkepul. Butir-butir kelihatan lembut.
“Kalau begitu, makan dulu!”
Suaminya menurut, mengambil piring, mengaduk nasi. Bu Sally meletakkan panci di amben. Di dalamnya ada gudeg daun singkong bersama ikan asin lauk kemarin. Tambah tempe bacem dan tahu. Dia sendiri juga lapar. Biasanya sebelum mengatur dagangan, mengisi perut dulu.
“Tadi Mimun cerita. Katanya, tahun ini panennya baik di desa. Tembakau dari Purwosari, selembar sampai lima ratus harganya.”
Mimun seperti suaminya, juga berasal dari Sukorejo, menjadi kuli bangunan seperti Samijo. Sering kali bekerja bersamanya. Dia yang datang disuruh mandor.
“Dia merasa rugi besar. Kalau tahu, dulu-dulu dia tidak jadi ke kota. Padahal dia memang sudah ragu-ragu. Ke kota atau tidak. Sudah kehabisan modal, tidak berani pinjam uang lagi ke bank. Seandainya mau nekat waktu itu, sekarang tentu sudah panen ….”
Nada kalimat terakhir mengambang, seolah-olah belum selesai. Saliyem makan, memandangi suaminya. Dia kurang yakin, apakah suaminya menceritakan penyesalan Mimun ataukah penyesalannya sendiri.
“Keberuntungan orang sendiri-sendiri, Pakne!” Akhirnya, itulah yang dikatakan. Tidak panjang, tetapi lengkap dan asli. Orang desa seperti Saliyem, sedungu yang paling dungu pun, pernah dibesarkan oleh nenek atau kakeknya. Mereka mengerti dan menjalani hidup karena percaya bahwa memang begitulah yang seharusnya terjadi. ***
.
.
Empang Lembang, 1983
.
Catatan:
[1] halaman
[2] kak. Singkatan dari mbakyu, berarti kakak perempuan
.
Warung Bu Sally. Warung Bu Sally. Warung Bu Sally. Warung Bu Sally. Warung Bu Sally. Warung Bu Sally. Warung Bu Sally. Warung Bu Sally. Warung Bu Sally. Warung Bu Sally.