Hidung Seorang Pegawai Negeri

Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Kompas, 26 Februari 1989)

SUDAH 25 tahun Badu jadi pegawai, dan selama itu seperti juga banyak pegawai yang lain ia melakukan korupsi. Dari hari ke hari ia korupsi pelan-pelan. Dari hari ke hari ia korupsi segobang demi segobang. [1]

Mula-mula, Badu pernah juga merasa berdosa. “Astaga, ini semua uang rakyat,” pikirnya. Namun di kantornya, tidak korupsi adalah sesuatu yang aneh.

“Kamu harus belajar menyesuaikan diri,” kata kawan-kawannya, “kita harus bisa luwes bergaul, supaya hidup kita selamat. Tidak ada salahnya korupsi sedikit-sedikit. Supaya tidak lain sendiri. Nanti orang-orang muak melihat kita. Dikira kita sok suci. Tidak ada salahnya. Toh semuanya juga korupsi. Malah banyak yang besar-besaran. Korupsi segobang, apalah artinya?”

Maka ia pun melakukan korupsi. Makin lama makin sering. Karena sudah jadi kebiasaan, ia tidak merasa melakukan korupsi. Badu merasa itu sudah sesuatu yang seharusnya. Ia sudah terbiasa. Seperti tidak melakukan kesalahan apa-apa.

Setelah terbiasa melakukan korupsi, Badu menjadi sangat terlatih. Nalurinya menjadi peka terhadap uang. Hidungnya mampu mengendus bau uang kertas maupun logam. Hanya lewat penciumannya Badu bisa tahu di mana ada banyak uang. Bukan cuma yang ada di dompet atau laci tetangganya, uang di bank yang terletak berkilometer jauhnya pun, bisa ia ketahui jumlahnya lewat hidung. Badu cukup mendongakkan kepala dan mengendus udara dan ia akan tahu ada berapa uang di pulau seberang. Ia bisa mencium uang yang terkandung di dalam tanah, di dalam laut, dan di dalam hutan. Dengan jabatan dan kekuasaannya, Badu tahu betul bagaimana cara mengalirkan uang itu ke kantungnya.

Tentu saja Badu lantas terkenal sebagai orang yang kaya raya. Rumah dan mobilnya tidak terhitung. Badu bahkan punya beberapa pulau dan gunung.

Seorang wartawan pernah bertanya, “Apakah Bapak Badu juga berdagang atau menanam saham, di samping bekerja sehari-hari sebagai pegawai?”

“Ah, ini semua pemberian,” jawabnya, “saya selalu menyalurkannya untuk lembaga-lembaga sosial, seperti panti-panti asuhan, palang merah, penderita kusta, dan fakir miskin. Saya selalu bersyukur atas rezeki saya. Saya tidak boleh menolak rezeki. Tapi saya tidak melupakan orang lain. Saya ini orangnya sosial. Ya, saya seorang sosialis. Saya selalu ingat Tuhan. Saya takut berbuat kesalahan. Saya seorang sosialis religius.”

Dan wartawan itu pun lantas mendapatkan pemberian Badu, sehingga tidak bertanya-tanya lagi.

Sudah 25 tahun Badu jadi pegawai, dan jumlah korupsinya mencapai Rp 50 miliar. Semenjak itu hidungnya bertambah panjang satu sentimeter.

Badu sendiri tidak merasa apa-apa. Mungkin tumbuhnya sedikit demi sedikit, semilimeter demi semilimeter. Ia tidak merasa ada kelainan. Hidungnya tidak terasa sakit. Juga tidak gatal-gatal. Di depan cermin ia tidak sempat memperhatikan. Banyak pekerjaan yang mesti diurusnya, apalagi semua pekerjaan itu berhubungan dengan uang.

Ia baru tahu perkara tumbuhnya hidung itu dari istrinya yang ketiga. Istrinya itu memang senang betul menggigit-gigit hidung Badu.

Lho! Badu! Kenapa hidungmu?”

Badu memegang hidungnya.

“Hidungku? Kenapa hidungku?”

“Rasanya kok tambah panjang. Bisulan apa?”

Badu meloncat ke muka cermin. Ia menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Memang. Tambah panjang satu sentimeter. Memang ada yang asing pada wajahnya. Hidungnya bertambah panjangnya satu sentimeter. Namun Badu tenang-tenang saja.

“Panggil dokter,” ujarnya.

Secepat kilat Dokter Gandung sudah datang. Ia mengamati hidung Badu dengan kaca pembesar. Hidung itu mancungnya aneh. Ujungnya agak kemerah-merahan.

“Ah, ini tidak apa-apa,” ujarnya menenangkan, “besok juga sudah kempes lagi. Tenang saja, Pak. Tidur. Mudah-mudahan besok hidung Bapak sudah kembali seperti semula. Bapak cuma terlalu capek. Tidur saja. Ini persoalan kecil. Minum saja obat ini.”

Dokter Gandung memberi obat tidur. Badu segera pulas.

Di luar rumah, Dokter Gandung menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di balik kaca pembesar.

I can’t believe it,” desisnya.

***

Esoknya, begitu bangun Badu langsung meloncat ke muka cermin. Hidungnya sudah bertambah panjang dua sentimeter. Badu terkesiap. Dengan panik Badu meloncat kembali ke tempat tidur. Ia membenamkan wajahnya ke bantal. Sebentar kemudian meloncat ke dekat cermin lagi. Ia mendekatkan wajahnya seperti tidak percaya. Dadanya berdegup-degup. Badu melihat wajah dirinya yang gelisah.

Ketika istrinya juga terbangun, Badu menutupi wajahnya dengan bantal.

“Jangan lihat aku,” serunya, “kamu telah membuat hidungku bertambah panjang. Setiap hari kamu menggigit-gigit hidungku. Mulutmu tidak steril. Akibatnya hidungku tambah panjang. Enyahlah kamu. Menjauh dari aku.”

Istrinya menatap Badu dengan sedih.

“Badu, janganlah kamu berkata seperti itu. Aku ini istrimu. Meskipun istri ketiga, aku bukan gundik. Aku cinta kepadamu. Jangan berkata begitu. Aku tidak ingin mencelakakan kamu.”

Pelan-pelan Badu membuka bantal yang menutupi wajahnya. Dan istrinya memang melihat hidung Badu jadi lebih panjang.

“Tenanglah sayang.” katanya, “nanti kupanggilkan Dokter Gandung.”

“Jangan! Jangan dokter gadungan itu! Dia cuma mau menyenang-nyenangan aku. Membiarkan aku tidur pulas dan memberikan hidungku jadi panjang. Memberikan aku kapsul-kapsul omong kosong dan minta bayaran besar. Dasar pedagang obat! Dia tidak tahu ini penyakit apa. Panggil dukun!”

Seorang dukun terkenal dijemput dengan helikopter dari sebuah desa terpencil. Ketika ia masuk kamar, hidung Badu sudah tambah lagi 3 sentimeter.

“Pak Dukun, tolonglah saya Pak Dukun, jangan-jangan saya disantet. Saya tidak mengerti kenapa ada orang bisa membenci saya. Saya merasa sudah hidup secara baik-baik, tidak berlawanan dengan keinginan orang banyak. Saya mendapatkan kekayaan dengan kerja keras, hasil keringat saya sendiri selama bertahun-tahun. Saya seorang yang jujur, Pak Dukun. Saya selalu memberi sumbangan dan tidak pernah mencelakakan orang. Saya selalu ingin hidup saya selamat. Apa yang telah terjadi, Pak Dukun? Tolonglah saya. Saya banyak urusan. Saya harus pidato di muka umum seminggu lagi,” ujar Badu mengiba.

Begitu ia selesai bicara, hidungnya sudah tambah satu sentimeter lagi.

“Lihat! Lihat hidung saya, Pak Dukun! Sudah tambah panjang empat sentimeter! Terlalu! Siapa yang tega menyantet aku?”

Badu berteriak kalap, sambil mengukur hidungnya dengan meteran.

Pak Dukun menyaksikan semua itu dengan tenang. Diperiksanya sebentar hidung itu, lantas kepalanya pun manggut-manggut.

“Bagaimana Pak Dukun, sudah ketemu penyakitnya?”

Orang tua berambut putih itu mengusap jenggotnya. Matanya menatap Badu dengan tajam.

“Bagaimana, Pak, bisa disembuhkan?”

Orang tua itu mengerutkan kening.

“Apa saya mesti bikin sesaji?”

Orang tua itu menggeleng.

“Bisa sembuh, kan?”

Hening sejenak. Tapi dukun itu akhirnya bicara dengan suasana berwibawa.

“Anda sudah pernah mendengar tentang The Pinocchio Disease?”

“Ha? Apa itu?”

“Itu lho seperti yang di cerita Pinokio. Anda tahu cerita Pinokio?”

“Tidak. Kalau cerita Kancil Mencuri Timun saya tahu.”

“Ah, Anda ini bagaimana sih? Orang kaya kok Pinokio saja tidak tahu.”

Lho, saya memang kaya, tapi tidak pernah baca. Masak Pak Dukun tidak tahu. Orang kaya itu sibuk bekerja, sibuk mencari uang, buat apa membaca?”

“Kalau Anda pernah membaca cerita itu, Anda tidak akan mendapat The Pinocchio Disease ini.”

“Maksudnya bagaimana sih, Pak Dukun?”

“Dalam cerita itu jelas sekali, Pinokio yang berbohong hidungnya bertambah panjang. Makin banyak bohongnya, makin panjang hidungnya.”

“Lantas hubungannya dengan saya apa?”

“Nah, mbok coba diingat-ingat, pernah berbohong ndak?”

Badu terdiam. Mukanya merah. Ujung hidungnya mengkilat, memantulkan cahaya. Ia sudah tampak seperti Pinokio.

“Pak Dukun, itu, kan, cuma dongeng anak-anak mana mungkin bisa benar-benar terjadi?”

Lha hidung Anda itu apa? Itulah The Pinocchio Disease.”

“Tapi, Pak Dukun, saya, kan, tidak pernah berbohong? Saya tidak pernah….”

Belum selesai Badu berbicara, hidungnya melejit sepanjang 10 sentimeter.

***

Hari itu Badu nekat masuk kantor. Ia merasa dirinya tidak bersalah. Ia tidak mau peduli, dan memusatkan perhatiannya kepada pekerjaan. Keputusannya sudah bulat, ia mau operasi plastik di Jepang. Ia akan mencopot hidungnya yang memalukan itu, dan menggantinya dengan hidung baru yang pendek. Tentu tidak pesek, boleh agak mancung, asal tetap hidung normal. Badu tersenyum membayangkan dirinya kelak. Bukan hanya hidungnya yang setiap hari bertambah panjang itu akan enyah, malah ia akan mendapat hidung baru yang membuat wajahnya tampan seperti Michael Jackson. Ya, betul, ia akan minta dibikinkan hidung seperti hidung Michael Jackson!

Namun hari itu ia harus masuk kantor. Banyak urusan mesti dibereskannya sebelum pergi ke Jepang. Sebetulnya ia bisa saja menyuruh orang membawa berkas-berkas yang mesti ditanda tanganinya ke rumah. Berkas-berkas yang selalu memberi rezeki. Namun Badu merasa itu terlalu sok-sokan. Ia merasa harus masuk. Sama seperti semua pegawai yang lain. Badu ingin meyakinkan kepada dirinya sendiri, hidung panjangnya itu betul-betul hanya penyakit. Mungkin penyakit baru yang belum ada obatnya. Tidak ada hubungannya dengan dongeng Pinokio. Masak aku disamakan dengan Pinokio. Bohong apa aku selama ini? Selama ini aku bekerja seperti semua pegawai lain. Aku selalu mendapat sumbangan, sama seperti pegawai lain. Apa aku salah menerima sumbangan? Itu, kan, rezeki yang tidak boleh ditolak? Katanya tidak baik menolak rezeki. Kalau ada proyek, aku sisihkan dananya sebagian untukku. Kenapa tidak? Berapalah gaji pegawai? Apa cukup untuk menghidupi anak-anak dan ketiga istriku? Aku cuma seorang pegawai. Toh proyek itu tetap berjalan. Bangunan lancar. Aku tetap menjalankan tugasku dengan penuh tanggung jawab. Apa hubungannya pekerjaanku dengan kebohongan?

Tiba-tiba Badu terkesiap. Ia berusaha keras menghentikan jalan pikirannya. Berusaha keras berpikir secara lain. Tapi tidak bisa. Ia sudah tidak tahu lagi cara berpikir yang lain. Ujung hidungnya terasa gatal luar biasa. Badu sudah hafal. Ini tanda-tanda hidungnya akan bertambah panjang. Astaga, apakah aku sudah berbohong kepada diriku sendiri?

Benar juga. Plop! Hidungnya tambah panjang 5 sentimeter lagi!

Di ruangan kantor itu ia celingukan sendiri. Badu sudah tidak mengenali wajahnya di cermin. Ia tadi berangkat dari rumah tanpa boleh dilihat pembantu rumah tangga. Di dalam mobil agak aman karena kacanya gelap. Sopir pun tidak melihat karena ada pembatas ruangan yang bisa naik turun. Maklumlah, sebagai orang kaya tentu saja mobil Badu adalah limousine.

Begitu sampai lobi, sudah siap rentangan kain hitam di kiri kanan, membentuk gang langsung menuju lift yang telah dikosongkan. Para pemegang kain hitam itu sudah disumpah untuk melihat ke bawah. Dengan begitu, Badu merasa tenang karena tidak ada yang akan mempergunjingkan hidungnya. Ia memang merasa malu kalau perkara hidungnya itu ketahuan orang.

“Barang siapa melihat hidungku, akan kupecat!”

Badu membuat fatwa baru di kantornya. Sejak hari itu, memang semua pegawai di kantor Badu bekerja dengan kepala tertunduk.

Hanya ada satu orang selain istri ketiganya yang tahu tentang hidung Badu. Dialah Usep, kepala bagian protokol. Sebagai orang kepercayaan yang sudah berpuluh-puluh tahun menjilat pantat majikannya, Usep mendapat tugas berat mengamankan hidung Badu agar tidak dilihat orang. Pergunjingan bisa melunturkan citra pemimpin. Padahal, Badu selama ini hadir sebagai tokoh masyarakat yang populer. Celakanya, setelah Usep melihat sendiri seperti apa hidung Badu, ia tidak tahan menyimpan rahasia. Apalagi, inilah pemandangan paling ajaib yang pernah dilihatnya.

“Ssst! Jangan bilang sama siapa-siapa ya? Hidung Badu panjang sekali…” Usep berbisik pada orang lain.

“Ssst! Jangan bilang sama siapa-siapa ya? Kata Usep, hidung Badu panjaaaang sekali.” Orang lain itu berbisik lagi kepada orang lainnya lagi.

“Ssst! Jangan bilang sama siapa-siapa ya? Kata Usep, hidung Badu panjaaaaaang sekali.” Orang yang lain lagi tadi berbisik lagi kepada orang lain yang lain lagi.

Meski begitu, semua orang hari itu menunduk karena takut dipecat. Mencari kerja zaman sekarang susah.

Dari pucuk bangunan kantornya, Badu terbang ke bandara dengan helikopter. Karena takut pilot melirik, kepala Badu diberi kerudung pengantin wanita Tionghoa. Itulah akal Usep.

***

Badu pulang dari Jepang tepat pada hari ia harus berpidato. Dari pesawat jet pribadi ia langsung pindah ke helikopter yang membawanya ke tempat upacara. Para pegawai sudah berbaris rapi dengan seragam pegawai. Di sudut tampak kamera televisi, para wartawan bergerombol dengan wajah lapar amplop.

Badu turun dari helikopter dengan penuh rasa kemenangan. Usep yang menyambutnya memandang Badu dengan wajah bertanya-tanya.

“Ini Pak Badu?”

“Ya, Usep, aku Badu. Kenapa? Kamu lupa?”

“Hampir saja saya kira Michael Jackson, Pak!”

“Ha-ha-ha! Karena hidungku ya? Memang aku memilih model Michael Jackson. Hebat, kan?”

Tepat pada jam yang ditentukan, Badu sudah berdiri di depan corong. Para pegawai hampir tidak mengenalinya lagi. Rupanya setelah operasi hidung, Badu juga mereparasi tempat-tempat lain, sehingga betul-betul mirip Michael Jackson. Rambut, mata, bibir, dan dagu, semuanya sama. Kecuali, tentu saja, Badu tetap berseragam pegawai.

Para pegawai menatapnya dengan mata terbuka lebar.

“Hidungnya tidak panjang kok,” seseorang berbisik, “jadi semua itu cuma gosip. Tapi tampangnya kok jadi begitu ya?”

“O, jadi semua itu cuma gosip,” sahut yang lain lagi, “Pak Badu itu, kan, orang baik. Dermawan. Kerjanya saja tekun, rajin, setiap hari sembahyang. Kok bisa dibilang hidungnya panjang? Lha wong malah cakepnya kayak Michael Jackson gitu.”

Lantas Badu pun bicara. Ia memang pandai bicara. Kata-katanya memukau. Semuanya terdiri dari rentetan kebenaran. Tidak ada yang salah. Semuanya aman. Kata-kata mutiara bertebaran dan berkilauan. Sampai pendengarnya juga silau. Tak pernah ada kata sedahsyat ini. Tak pernah ada peristiwa sepenting ini. Semuanya harus didengarkan. Semuanya harus dicatat. Semuanya harus diabadikan.

Para wartawan mondar-mandir memotret. Sinar lampu petugas televisi menyorot kian ke mari. Pada layar televisi, wajah Badu yang sudah seperti Michael Jackson tampak berapi-api.

“Saudara-saudara sekalian, perjuangan masih panjang, pembangunan belum selesai, kita harus mengencangkan ikat pinggang. Saudara-saudara sekalian, mari kita kobarkan semangat pengabdian bagi nusa bangsa dan negara! Kita gencarkan kebulatan tekad demi kepentingan nasional! Sekali lagi, ingat dan camkan, demi kepentingan nasional, Saudara-saudara! Demi kepentingan nasional!”

Para pegawai yang sejak tadi sudah terpukau tak tahan lagi. Mereka bersorak-sorai dan bertepuk tangan.

“Hidup Pak Badu!”

“Hidup!”

“Panjang umur Pak Badu!”

“Hidup!”

Badu melambaikan tangan dengan wajah berseri. Alangkah terhibur hatinya. Ternyata apa yang dilakukannya selama ini benar. Hanya orang iri hati yang menuduhnya tidak beres. Mereka sendiri belum tentu bisa bikin apa-apa. Merasa bisa, tapi tidak bisa merasa.

Tetapi, kamerawan televisi yang sedang asyik mengambil gambar mendadak terkejut. Ia mengusap mata, tidak percaya melihat peristiwa dari balik kamera. Hidung Badu! Ya, hidung Badu yang indah itu di tengah gemuruh teriakan massa tiba-tiba menyodok sepanjang satu meter! Plop! Lantas sekali lagi. Plop! Dua meter!

Peliput televisi yang terperangah, cepat-cepat berimprovisasi menyelamatkan keadaan.

“Luar Biasa! Luar biasa! Para pemirsa di rumah, pada hari yang penting ini, tokoh kita Badu telah membuat peristiwa yang sangat bersejarah! Pada hari yang penting dan bersejarah ini Badu telah memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi bangsa dan negara! Badu telah mencacatkan nama negara dan bangsa dengan tinta emas, dalam buku Guinness Book of World Record! Para pemirsa di seluruh pelosok Tanah Air, inilah Badu, manusia berhidung paling panjang! Lihatlah Badu, inilah pahlawan kita!”

Dan di sana, di podium itu, Badu terpacak seperti patung. Kedua tangannya terangkat ke atas, ia menengadah ke langit, bagai mempertanyakan keajaiban dunia. ***

.

.

Jakarta, Februari 1989

.

Catatan:

[1] Dari puisi Sutardji Calzoum Bachri, “Menabung”: maut menabungku / segobang segobang.

.

Hidung Seorang Pegawai Negeri. Hidung Seorang Pegawai Negeri. Hidung Seorang Pegawai Negeri Hidung Seorang Pegawai Negeri. Hidung Seorang Pegawai Negeri. Hidung Seorang Pegawai Negeri.

Arsip Cerpen di Indonesia