Kang Sarpin Minta Dikebiri

Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 11 Agustus 1996)

KANG Sarpin meninggal karena kecelakaan lalu lintas pukul enam tadi pagi. Ia sedang dalam perjalanan ke pasar naik sepeda dengan beban sekuintal beras melintang pada bagasi. Para saksi mengatakan, ketika naik dan mulai hendak mengayuh, Kang Sarpin kehilangan keseimbangan. Sepedanya oleng dan sebuah mobil barang menyambarnya dari belakang. Lelaki usia lima puluhan itu terpelanting, kemudian jatuh ke badan jalan. Kepala Kang Sarpin luka parah, dan ia tewas seketika. Satu lagi penjual beras bersepeda mati menyusul beberapa teman yang lebih dulu meninggal dengan cara sama.

Beban sekarung beras pada bagasi dan terkadang sekarung kecil lainnya pada batangan adalah risiko besar bagi setiap penjual beras bersepeda. Tetapi mereka tak jera. Setiap hari mereka membeli padi dari petani, kemudian mengolahnya di kilang, lalu menjual berasnya ke pasar. Mereka tak peduli sekian teman telah meninggal menjadi bea jalan raya yang kian sibuk dan kian sering minta tumbal nyawa.

Berita tentang kematian itu sampai kepada saya lewat Dalban, ipar Kang Sarpin sendiri. Ketika menyampaikan kabar itu Dalban tampak biasa saja. Wajahnya tetap jernih. Kata-katanya ringan. Mulutnya malah cengar-cengir. Entahlah, kematian Kang Sarpin tampaknya tidak menjadi kabar duka.

Di rumah Kang Sarpin saya melihat banyak orang berkumpul. Jenazah sudah terbungkus kafan dan terbujur dalam keranda. Tapi tak terasa suasana dukacita. Wajah para pelayat cair-cair saja. Mereka duduk santai dan bercakap-cakap sambil merokok seperti dalam kondangan atau kenduri. Ada juga yang bergurau dan tertawa. Asap mengambang di mana-mana, melayang seperti kabut pagi. Ah, saya harus bilang apa? Di rumah Kang Sarpin pagi itu memang tak ada dukacita atau belasungkawa. Kalaulah ada seorang bermata sembap karena habis menangis, dialah istri Kang Sarpin. Tampaknya istri Kang Sarpin berduka seorang diri.

Setelah menaruh uang takziyah di kotak amal, saya mencari kursi yang masih kosong. Sial. Satu-satunya kursi yang tersisa berada tepat di sebelah Dalban. Ipar Kang Sarpin itu masih ngoceh tentang si mati. Dan saya tak mengerti mengapa omongan si Dalban seperti menyihir para pelayat. Orang-orang tampak tekun menikmati cerita tentang almarhum dari mulut nyinyir itu.

“Ya, wong gemblung itu sudah meninggal,” kata Dalban dengan enak. Wajahnya tampak tanpa beban. “Bagaimana aku tak menyebut iparku itu wong gemblung? Coba dengar. Suatu ketika di kilang padi, orang-orang menantang Sarpin: bila benar jantan, dengan upah lima ribu rupiah dia harus berani membuka celana di depan orang banyak. Mau tahu tanggapan Sarpin? Tanpa pikir panjang Sarpin menerima tantangan itu. Ia menelanjangi dirinya bulat-bulat di depan para penantang. Lalu enak saja, dengan kelamin berayun-ayun dia berjalan berkeliling sambil meminta upah yang dijanjikan.”

Cerita Dalban terputus oleh gelak tawa orang-orang. Dan Dalban makin bersemangat.

“Ya, orang-orang hanya nyengir dan mengaku kalah. Malu dan sebal. Sialnya, mereka harus mengumpulkan uang lima ribu. Tetapi Yu Cablek, penjual pecel di kilang padi, melihat kegilaan Sarpin berlari sambil berteriak, “Sarpin gemblung! Dasar wong gemblung!”

Orang-orang tertawa lagi. Dan jenazah Kang Sarpin terbujur diam dalam keranda hanya beberapa langkah dari mereka. Saya mengerutkan alis. Ah, sebenarnya orang sekampung, lelaki dan perempuan, sudah tahu siapa dan bagaimana Kang Sarpin. Dia memang lain. Dia tidak hanya mau menelanjangi diri di depan orang banyak. Ada lagi tabiatnya yang sering membuat orang sekampung mengerutkan alis karena tak habis pikir: Kang Sarpin sangat doyan main perempuan dan tabiat itu tidak ditutup-tutupinya. Dia dengan mudah mengaku sudah meniduri sekian puluh perempuan. “Saya selalu tidak tahan bila hasrat berahi tiba-tiba bergolak,” kata Kang Sarpin suatu saat.

“Tetapi Kang Sarpin masih ada baiknya juga,” cerita Dalban lagi. “Meski gemblung, dia berpantangan meniduri perempuan bersuami. Kalau soal janda sih, jangan tanya; yang tua pun dia mau. Dan hebatnya lagi, dia juga tak pernah melupakan jatah bagi istrinya, jatah lahir maupun batin.”

***

Dalban terus ngoceh dan orang-orang tetap setia mendengarkan dan menikmati ceritanya. Saya juga ikut mengangguk-angguk. Tetapi saya juga merenung. Sebab tadi malam, kira-kira sepuluh jam sebelum kematiannya, Kang Sarpin muncul di rumah saya. Di bawah lampu yang tak begitu terang, wajahnya kelihatan berat. Ketika saya tanyakan maksud kedatangannya, Kang Sarpin tak segera membuka mulut. Pertanyaan saya malah membuatnya gelisah. Namun lama-kelamaan mulutnya terbuka juga. Ketika mulai berbicara ucapannya terdengar kurang jelas.

“Mas, saya sering bingung. Sebaiknya saya harus bagaimana?”

“Maksud Kang Sarpin?”

“Ah, Mas kan tahu saya orang begini, orang jelek. Wong gemblung. Doyan perempuan. Saya mengerti sebenarnya semua orang tak suka kepada saya. Sudah lama saya merasa orang sekampung akan lebih senang bila saya tidak ada. Saya adalah aib di kampung ini.”

“Kang, semua orang sudah tahu siapa kamu,” kata saya sambil tertawa. “Dan ternyata tak seorang pun mengusikmu. Lalu mengapa kamu pusing?”

“Tetapi saya merasa menjadi kelilip orang sekampung. Ah, masa iya saya akan terus begini. Saya ingin berhenti menjadi aib kampung ini. Lagi pula sebentar lagi saya punya cucu. Saya sudah malu jadi wong gemblung. Saya sudah ingin jadi wong bener, orang baik-baik. Tetapi bagaimana?”

“Yang begitu kok tanya saya? Mau jadi orang baik-baik, semuanya tergantung Kang Sarpin sendiri, kan? Kalau mau baik, jadilah baik. Kalau mau tetap gemblung, ya terserah.”

“Tidak! Saya ingin berhenti gemblung. Sialnya, kok ternyata tidak mudah. Betul. Mengubah tabiat ternyata tidak mudah. Dan inilah persoalannya mengapa saya datang kemari.”

Saya pandangi wajah Kang Sarpin. Matanya menyorotkan keinginan yang sangat serius. Anehnya, saya gagal menahan senyum.

“Bila Kang Sarpin bersungguh-sungguh ingin jadi wong bener, kenapa tidak bisa? Seperti saya bilang tadi, masalahnya tergantung kamu, bukan?”

“Sulit, Mas,” potong Sarpin dengan mata berkilat-kilat. “Saya sungguh tidak bisa!”

“Kok? Tidak bisa atau tak mau?”

“Tak bisa.” Kang Sarpin menunduk dan menggeleng sedih.

“Lho, kenapa?”

“Ah, Mas tidak tahu apa yang terjadi dalam diri saya. Burung saya lho, Mas! Burung saya; betapapun saya ingin berhenti main perempuan, dia tidak bisa diatur. Dia amat bandel. Bila sedang punya mau, burung saya sama sekali tak bisa dicegah. Pokoknya dia harus dituruti, tak kapan, tak di mana. Sungguh, Mas, burung saya sangat keras kepala sehingga saya selalu dibuatnya jengkel. Dan bila sudah demikian saya tak bisa berbuat lain kecuali menuruti apa maunya.

“Sekarang, Mas, saya datang kemari untuk minta bantuan. Tolong. Saya sukarela diapakan saja asal saya bisa jadi wong bener. Saya benar-benar ingin berhenti jadi wong gemblung.”

Terasa pandangan Kang Sarpin menusuk mata saya. Saya tahu dia sungguh-sungguh menunggu jawaban. Sialnya, lagi-lagi saya gagal menahan senyum. Kang Sarpin tersinggung.

“Mas, mungkin saya harus dikebiri.”

Saya terkejut. Dan Kang Sarpin bicara dengan mata terus menatap saya.

“Ya. Saya rasa satu-satunya cara untuk menghentikan kegemblungan saya adalah kebiri. Ah, burung saya yang kurang ajar itu memang harus dikebiri. Sekarang, Mas, tolong kasih tahu dokter mana yang kiranya mau mengebiri saya. Saya tidak main-main. Betul, Mas, saya tidak main-main.”

Tatapan Kang Sarpin makin terasa menusuk-nusuk mata saya. Wajahnya keras. Dan saya hanya bisa menarik napas panjang.

“Entah di tempat lain, Kang, tetapi di sini saya belum pernah mendengar ada orang dikebiri. Keinginanmu sangat ganjil, Kang.”

“Bila tak ada dokter mau mengebiri, saya akan pergi kepada orang lain. Saya tahu di kampung sebelah ada penyabung yang pandai mengebiri ayam aduannya. Saya kira sebaiknya saya pergi ke sana. Bila penyabung itu bisa mengebiri ayam, dia pun harus bisa mengebiri saya. Ya. Besok, sehabis menjual beras ke pasar….”

“Jangan, Kang,” potong saya.

Tatapan Kang Sarpin kembali menusuk mata saya.

“Kamu jangan pergi ke tukang sabung ayam. Dokter memang tidak mau mengebiri kamu. Tetapi saya kira dia punya cara lain untuk menolong kamu. Besok, Kang, kamu saya temani pergi ke dokter.”

Wajah Kang Sarpin perlahan mengendur. Pundaknya turun dan napasnya lepas seperti orang baru menurunkan beban berat. Setelah menyalakan rokok, Kang Sarpin bersandar ke belakang. Tak lama kemudian, setelah minta pengukuhan janji saya untuk mengantarnya ke dokter, Kang Sarpin minta diri. Saya mengantarnya sampai ke pintu. Ketika saya berbalik, tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala: apakah Kang Sarpin adalah lelaki yang disebut cucuk senthe? Di kampung ini, cucuk senthe adalah sebutan bagi lelaki dengan dorongan berahi meledak-ledak dan liar sehingga yang bersangkutan pun tak bisa mengendalikan diri. Entahlah.

***

Saya tersadar ketika semua orang bangkit dari tempat duduk masing-masing. Rupanya modin yang akan memimpin upacara pelepasan jenazah sudah datang. Bahkan keranda sudah diusung oleh empat lelaki yang berdiri di tengah halaman. Kini suasana hening. Dalban, yang sejak pagi ngoceh, juga diam.

Modin mengawali acara dengan memintakan maaf bagi almarhum kepada semua yang hadir. Modin juga menganjurkan kepada siapa saja yang punya utang-piutang dengan Kang Sarpin untuk segera menyelesaikannya dengan para ahli waris. Sebelum doa dibacakan, modin tidak melupakan tradisi kampung kami; meminta semua orang memberi kesaksian tentang jenazah yang hendak dikubur.

“Saudara, saudara, saya meminta kalian bersaksi apakah yang hendak kita kubur ini jenazah orang baik-baik.”

Masih hening. Saya merasa semua orang menanggung beban rasa pakewuh, serbasalah. Maka modin mengulangi pertanyaannya, apakah yang hendak dimakamkan adalah jenazah orang baik-baik. Sepi. Anehnya, tiba-tiba saya merasa mulut saya bergerak.

“Baik!”

Suara saya yang keluar serta-merta bergema dalam kelengangan. Saya melihat semua orang, juga modin, tertegun lalu menatap saya. Entahlah, saat itu saya bisa menyambut tatapan mereka dengan senyum.

Keranda bergerak bersama langkah empat lelaki yang memikulnya. Bersama orang banyak yang berjalan sambil bergurau, saya ikut mengantar Kang Sarpin ke kuburan. Saya tak menyesal dengan persaksian saya. Di mata saya, seorang lelaki yang di ujung hidupnya sempat bercita-cita menjadi wong bener adalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan. ***

.

Kang Sarpin Minta Dikebiri. Kang Sarpin Minta Dikebiri. Kang Sarpin Minta Dikebiri. Kang Sarpin Minta Dikebiri.

Arsip Cerpen di Indonesia