Mencuri Perahu

“Ripah!” Panggil Bandi dari ruang tamu.

Tak ada sahutan dari kamar putrinya itu. Waktu Maghrib baru saja berlalu. Bandi menuju dapur. Perutnya minta diisi. Aroma harum kuah santan dari arah dapur begitu menggugah seleranya. Tapi, Ripah tak ada di dapur. Ah, barangkali anak itu sedang mengambil air, mengisi bak di belakang rumah.

Bandi memutuskan makan lebih dulu. Jika dibiarkan dingin, sayur kuah santan itu tak akan lezat lagi.

Baru saja separuh piringnya tandas, Bandi terkejut bukan main. Darahnya mengalir cepat. Dia melompat dari kursi, meninggalkan makanannya begitu saja. Tak menjejak anak tangga lagi, Bandi melompat seraya berteriak pada adiknya yang kebetulan berumah persis di sebelah rumahnya.

“Bakri…keluar kau! Keluar Bakri…!!”

Bakri tampak menjulurkan kepalanya dari jendela. “Ada apa?! Mengapa berteriak malam-malam begini?”

“Turun kau…! Bantu aku cari kemenakanmu. Cari Ripah! Dayungku hilang. Perahuku dicuri!” Balas Bandi berteriak.

Wajah Bakri pun pucat. Tanpa menghiraukan istrinya, Bakri ikut melompat turun dari rumahnya dan mengejar Bandi yang sudah lebih dulu berlari ke arah pantai. Entah kesulitan apa yang sekarang dihadapi kemenakannya itu.

Orang-orang yang mendengar teriakan Bandi pun ikut keluar rumah. Mereka menghadang Bakri dan bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

“Dayung Bandi hilang!” teriak Bakri pendek, sambil berlari mengejar kakaknya.

Orang-orang lelaki itu pun ikut pucat. Mereka tak membuang waktu, ikut berlari menyusul Bakri dan Bandi.

Hanya kaum lelaki di kampung itu yang menaruh simpati pada keluarga Bandi. Mereka mengabaikan permintaan istri mereka untuk tidak bergaul dengan Bandi.

Setibanya di pantai, Bandi langsung menuju tempat tambatan perahu. Bakri bersama dua lelaki lainnya mengumpulkan pelapah kelapa kering, memilinnya hingga erat, melipat ujungnya menjadi dua. Mereka membuat obor. Dibaginya semua obor itu pada setiap orang lelaki yang datang membantu. Setelah dinyalakan, mulailah mereka menyusuri pantai sambil meneriakkan nama Ripah berulang-ulang.

Suara mereka beradu dengan kerasnya hempasan ombak.

Bandi mendapati Bakri. “Perahuku tak ada ditambatannya,” kata Bandi gugup. Wajahnya berkeringat dan matanya menjadi liar. “Ini bagaimana?” Tanyanya panik.

“Lepaskan beberapa perahu dan siapkan petromaks. Kita harus temukan Ripah malam ini juga!” perintah Bakri.

Bandi bergegas melaksanakan permintaan adiknya itu. Dia sukar berpikir saat ini. Untung saja adiknya bisa lebih tenang darinya.

Saat sedang makan tadi, jantung Bandi hampir berhenti saat melihat dayungnya tak ada digantungannya. Jika nelayan tak melaut, dayung digantungkan di tempatnya. Apalagi sekarang ini musim angin barat. Pada musim macam ini, perahu akan ditambatkan agak jauh dari bibir pantai sebab kadangkala jika air naik, perahu yang tak diikat pada tambatan akan diseret air ke tengah laut. Jika diikat pun dan air mencapainya, air akan membenturkan satu perahu dengan lainnya.

Saat Bandi menyadari dayungnya sudah tak ada ditempatnya, tak ada sangkaan lain jika Ripahlah yang telah mengambilnya. Dayung harus satu dengan perahunya. Jika dayung disangkutan hilang, itulah pertanda bahwa perahu telah hilang dicuri.

Ripah seorang diri mendorong perahu dan menuju laut di saat ombak sedang tinggi-tingginya saat ini. Gadis remaja itu tak tahu bahaya apa yang sedang dihalaunya.

Orang-orang sekampung sudah berkumpul di tepi pantai. Mereka masing-masing membawa lampu penerang sehingga pantai itu kini benderang dibuatnya. Sebagian besar wajah perempuan-perempuan itu menyimpan cemas melihat suami dan anak lelaki dewasa mereka bahu-membahu membantu Bandi dan Bakri menyusul Ripah ke tengah laut.

Ombak sesekali menghempas keras pinggiran pantai. Membuat mereka sedikit kewalahan melarungkan perahu. Mati-matian mereka menahan perahu agar tetap mengapung dan tak kemasukan air laut yang datang menghantam silih berganti.

Mereka diberangkatkan dalam kelompok-kelompok kecil, setiap tiga perahu. Setiap perahu berisi dua orang. Bandi sudah mendahului mereka dan kini sudah agak ke tengah. Lalu, satu kelompok lagi dilarungkan. Bakri masuk di kelompok ketiga. Kemudian, menyusul kelompok keempat dan kelima. Satu perahu dari kelompok keempat nyaris tak bisa menyusul setelah terbalik dihantam ombak dari arah samping.

Lima belas lampu kini berkelap-kelip di tengah laut. Suara-suara panggilan mereka berlomba hendak mengalahkan hebatnya suara debur ombak. Setibanya mereka di titik pertemuan, masing-masing perahu kemudian menyebar dalam radius yang perlahan-lahan makin luas. Lampu-lampu mereka kini bagai kunang-kunang yang menyebar di atas air.

Bakri telah memberi tahu, jika bertemu perahu Ripah, segeralah memberi isyarat lampu pada lainnya. Bukan saja besarnya ombak yang mereka khawatirkan, melainkan lusinan karang di bagian utara pulau dan tentunya Ripah yang tidak berpengalaman sama sekali.

Hampir dua jam lebih semua perahu itu menyebar saat sebuah isyarat terlihat dari kejauhan. Tampaknya sebuah perahu baru saja menemukan sesuatu. Semoga bukan jasad Ripah atau pecahan perahunya.

Begitu melihat isyarat itu, semua perahu bergerak perlahan saling mendekat. Bandi ada dijarak terdekat dari perahu itu dan dia tiba lebih dulu. Hampir pecah tangis lelaki itu tatkala melihat anak gadisnya dalam keadaan selamat. Perahunya nyaris penuh dengan air dan dayungnya tidak ada.

Salah seorang telah mengikatkan perahu Ripah ke perahu lainnya dan airnya sedang dikuras.

“Ripah…! Ada apa denganmu, Nak? Mengapa berbuat seperti ini?!” Teriak Bandi berusaha melawan debur ombak saat menanyai Ripah.

Arsip Cerpen di Indonesia