Mencuri Perahu

Ripah hanya sekilas melihat ayahnya, lalu kembali matanya menyusuri permukaan air. Sepertinya gadis itu tak hirau lagi dengan sekelilingnya.

“Ikan besar itu mengambil dayung Ama,” kata Ripah pendek.

“Ikan apa? Mengapa kau melakukan ini, hah?” Tanya Bandi lagi.

“Aku hendak mencari Ina (ibu). Inaku tadi muncul di sini, di dekat perahu, lalu dayung Ama disambarnya, dibawanya pergi.”

“Apa yang kau bicarakan ini?” Bandi jadi hilang kesabaran. Tubuh Ripah diguncangkan agar sadar.

Ripah diam lagi. Matanya terus berputar awas berusaha menembus kegelapan malam di laut itu. Sekarang, semua perahu sudah saling merapat. Bakri melompat ke perahu di mana Bandi dan Ripah berada. Tangannya lalu meraih anak itu.

“Ripah, apa yang kau lakukan?” Tanyanya dengan wajah lembut.

Ripah memandangi wajah pamannya itu. Air matanya tiba-tiba jatuh.

Dalam tangisnya, Ripah masih berusaha memandang ke arah laut. “Ripah hendak mencari Ina. Sebab orang-orang di pasar bilang, Inaku adalah ikan duyung dan aku anak ikan yang bawa sial.”

Bakri tertunduk. Bandi justru jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya. Lelaki itu menangis untuk pertama kalinya. Bahkan, dia tak melakukan itu saat istrinya hilang 15 tahun silam.

“Mengapa kau dengarkan kata-kata orang. Paman sudah berulang kali bilang, dengarkan Amamu saja. Amamu lebih paham tentang ini semua daripada orang-orang itu.” Bakri sedang mencoba membujuk Ripah.

Ripah menggeleng kuat-kuat. “Tidak. Orang-orang itulah yang benar. Tadi Ina menghampiriku, berenang di sisi perahuku. Ina mendorong perahuku ke tempat ini, tapi lalu menyambar dayung dan membawanya pergi.”

“Tidak, Ripah. Inamu bukan ikan. Tak ada ikan beranak manusia.”

Ripah tiba-tiba menolak tubuh pamannya. Mimiknya tak suka pada ucapan pamannya itu. Ripah lalu bergerak ke bibir perahu. Sambil memegangi bibir perahu, matanya kini nyalang mengawasi permukaan air.

Bakri menghela napas dengan berat. Dia bangkit dan memutar tangannya di udara. Itu isyarat untuk kembali ke pantai. Malam ini sudah cukup berat bagi semuanya. Masalah Ripah nanti mereka selesaikan di darat saja.

Rombongan perahu itu pun pelan-pelan memisah dan satu per satu menuju pantai. Ripah kini bersama ayahnya di perahu milik mereka. Ayahnya mendapat pinjaman dayung dan perahunya diikat di belakang perahu Bakri.

Sekitar 200 meter dari pantai, entah dari mana datangnya, seekor ikan duyung tiba-tiba muncul berenang di sisi kanan perahu Bandi. Sesekali ikan itu menyelam lalu muncul lagi di sisi satunya. Ripah yang menyadari itu lebih dulu, dan tanpa tercegah lagi, gadis itu membuang dirinya ke laut, seolah hendak menyusul ikan itu.

Bandi yang sedikit lengah ikut melompat ke air. Namun, gelombang yang datang dari belakang perahu menabrak tubuhnya, menggulingkannya, hingga dia harus segera meraih cadik perahu agar bisa mengapung. Tapi, tubuh Ripah tak dilihatnya. Bandi berteriak pada Bakri, “Ripah terjun ke laut!” Serunya.

Bandi menyelam lagi. Bakri menyusulnya melompat dari perahu. Kedua kakak-beradik itu berulang-ulang menyelam mencari tubuh Ripah. Dua orang di perahu Bakri ikut pula melompat berusaha membantu Bandi dan Bakri. Beberapa menit mereka mencari Ripah sambil berjuang melawan hantaman ombak, akhirnya Bakri menyerah.

Bakri menarik tubuh Bandi, berusaha mengapung di atas ombak yang mendorong keduanya, dan dua orang lainnya menuju pantai. Bandi kini pasrah. Dia biarkan tubuhnya diseret Bakri menuju pantai. Dia atas pasir, kemudian lelaki itu menangis.

***

Selama empat hari selanjutnya, orang-orang melakukan pencarian atas Ripah. Tapi, sama seperti ibunya dahulu, Ripah tak pernah ditemukan lagi.

Semenjak hari itu, Bandi kerap menghabiskan sorenya di tepi pantai, duduk di atas perahunya yang ditambat. Matanya terus-menerus menyapu permukaan air. Seperti berusaha mencari jejak kedua buah hatinya itu. Jika adiknya atau orang-orang mengajaknya pulang, Bandi hanya menyahuti mereka tanpa ekspresi.

“Aku sedang menjaga perahu agar tidak dicuri para ikan,” ujarnya pendek. ***

Ilham Q Moehiddin. Ritus Perawan Nemesis (2000) adalah buku kumpulan cerpen dan puisinya. Dua novel thriller-nya berjudul Unabomber: Gadis Kecil di Elliot House (2002), dan Kabin 21 (2003). Pendiri The Indonesian Freedom Writers (IFW). Kini, bermukim di Jakarta dan Kendari (Sulawesi Tenggara). Kontak: shakiradesta@gmail.com, indep_ilham@yahoo.co.uk.

Arsip Cerpen di Indonesia