“Selama ini kau telah menelantarkan istri dan anak-anakmu. Kau terlampau disibukkan oleh pekerjaanmu. Kau tak mau tahu bagaiman pergaulan anak-anakmu di luar sana. Kau tak acuh! Kau juga tak pedulikan anakmu menenggak alkohol, kau menutup mata saat anak perempuanmu bergaul bebas dan berzina dengan pacarnya, kau juga tak peka saat istrimu selalu dirajam dingin tiap kau tinggalkan selama berminggu-minggu hingga akhirnya istrimu mencari laki-laki lain dan diam-diam berselingkuh di belakangmu!”
Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak mendengar ceracau panjang sang malaikat tak berwujud itu. Wajahku kian pasi seraya merunduk dalam. Semua vonis yang dituduhkan malaikat itu sungguh tak kupungkiri adanya. Benar! Benar sekali jika selama ini aku tak mengacuhkan keluarga, dan lebih menomorsatukan pekerjaan. Tapi, bukankah aku bekerja siang dan malam demi keluarga juga?
“Ya, ya, ya. Memang bekerja demi menafkahi anak istri itu suatu keniscayaan bagi seorang suami. Tapi, bukankah di sebalik itu ada nafkah batin yang selama ini telah kau alpakan? Kapan kau meluangkan waktu buat mendidik istri dan anak-anakmu?” cecar sang malaikat, kali ini dengan nada seperti orang yang tengah marah. Lagi-lagi tanpa kubersuara, malaikat itu telah menahu isi hatiku.
Mulutku berasa kaku. Tak bisa digerakkan sama sekali. Seperti ada yang menggemboknya. Aku tak bisa mengemukakan beragam dalih lagi sekadar membela diri, bahkan sekadar bertanya lagi pun aku tak mampu. Suasana mendadak tersungkup hening.
Tiba-tiba kudengar suara menggemuruh. Tubuhku seperti ditarik ke belakang. Kasar. Aku terpekik saat tubuhku dilesatkan tiba-tiba hingga aku terpeleset. Masih untung kedua tanganku bisa menjangkau tali hitam berkilat itu. Posisiku sekarang menggelantung di atas sungai yang kuyakini berisi lautan darah itu.
Aku terpekik bukan kepalang saat kedua bola mataku melirik ke bawah sana. Air berwarna merah bau anyir yang semula berasa dingin itu tiba-tiba mendidih dan mengeluarkan asap memutih. Sekujur tubuhku sekonyong-konyong mulai merasakan hawa panas yang ditimbulkan oleh asap itu. Dan jeritku pun tak tertahankan manakala seperti ada yang menginjak telapak tanganku yang tengah mencengkeram kuat-kuat tali hitam berkilat itu hingga tubuhku terpelanting, terperosok ke dalam lautan darah didih itu. Kulit tubuhku serasa dibeset (dikelupas) dan rasanya sakit luar biasa. Aku tak mampu lagi menjerit karena mulutku telah dipenuhi air serupa darah didih itu. Sejurus lalu, seperti ada yang menarik tubuhku. Lalu kurasakan tubuhku melesat tinggi. Mengawang. Setelah itu, aku dilempar ke sebuah lorong panjang sempit dan gelap. Tubuhku serasa terjepit, sakit bukan kepalang.
“Aww! Aduh!” aku mengaduh kesakitan.
“Ma, Papa udah sadar, Ma!”
Kudengar pekik suara seseorang yang teramat kukenali. Hei, bukankah itu suara Aurel, putriku yang baru semester dua di universitas ternama?
Kubuka kedua mata dan lekas kuedarkan pandangan ke sekeliling. Kulihat tembok yang mengelilingiku semuanya berwarna putih. Tubuhku kini tengah terbaring lemas di atas ranjang yang juga berseprei polos warna putih. Perlahan kesadaranku berangsur mengutuh meskipun aku belum bisa menggerakkan sekujur tubuh.
Entah telah berapa lama aku tak sadarkan diri di rumah sakit ini. Kecelakaanlah yang menyebabkan aku berada di ranjang rumah sakit ini. Aku tak bisa mengendalikan setir saat tiba di persimpangan mendadak seorang pengemis nongol di depan mobilku.
“Papaa!” Lamunku mengabur saat kudengar suara Liliana, istriku, memanggilku seiring suara derap langkah-langkah kaki yang semakin mendekat. Dan aku tercekat luar biasa hingga kedua bola mataku serasa mencelat dari kelopak saat beberapa detik berikutnya aku telah dikelilingi oleh orang-orang berwajah menyeramkan.
Kulihat Aurel yang dulu berwajah putih mulus tanpa sebutir pun jerawat kini berwajah memucat dengan bola mata memerah. Dan yang membuatku terpekik adalah rambut kepalanya berubah menjadi ratusan ular yang menjuntai-juntai sementara kepalanya menjulur-julur ke arahku. Tak jauh beda dengan istriku, rambutnya pun dikelilingi ratusan ular tapi wajahnya dipenuhi benjolan merah bernanah.
Dan yang membuatku langsung menjerit tak tertahankan saat kulihat rupa Deva dan Devi, dua putra-putri kembarku yang baru lulus SMP yang posisinya keduanya berada persis di samping bahu dan lenganku. Kepala Deva dan Devi dipenuhi bulu-bulu lebat menghitam, sementara wajahnya moncong serupa anjing dengan lidah panjangnya yang terus terjulur memuncratkan liur hingga membasahi wajahku. ***