Mati Suri

TUBUHKU melayang-layang ringan. Bak kapas. Terus meninggi. Seperti disedot ke langit tertinggi. Entah keenam ataukah ketujuh? Setelah itu, kurasakan sekelilingku penuh nyala terang menyilau mata hingga kedua kelopak mataku sontak mengatup rapat tak kuat dengan sorot benderangnya.

Setelah berada di ketinggian tertinggi, kali ini tubuhku seperti dicampakkan bak kapas yang memburai dari dedaun pohonnya. Seperti diterjunkan begitu saja entah oleh siapa. Ringan, melayang, entah berapa lama aku berada dalam posisi seperti ini. Beberapa saat berikutnya, tubuhku melesat cepat dan tiba-tiba saja aku telah berada di sebuah lorong panjang yang dipenuhi Nur warna putih, lalu berubah menguning, jingga, kembali memutih dan… tiba-tiba berubah merah. Semerah darah.

Byur!

Tubuhku lesat ke dalam air. Aku terpekik bukan buatan saat mendapati air yang menciprat-ciprat ke wajahku ternyata tak sebening atau sekeruh air yang biasa menggenangi sungai-sungai. Air ini berwarna merah kental dan… bau anyir. Lekas kupencet kuat-kuat hidungku dengan ibu jari dan telunjukku, seraya mengeratkan dua bibirku rapat-rapat. Hei! Berada di manakah aku? Apakah aku berada di telaga neraka? Oh, bulu kudukku kontan meremang. Badanku ditelikung gigil bukan kepalang.

Hey! tapi, mengapa tak kurasakan hawa panas meriap-meriap sekujur badan? Bukankah deskripsi tentang neraka itu, sebagaimana kata para dosen agama sewaktu aku masih duduk di bangku kuliah dulu, sungguh teramat sangat mengerikan. Panas luar biasa, hingga tak ada sesiapa pun yang mampu membayangkannya sebetapa panasnya hawa neraka. Justru yang kurasakan saat ini adalah rasa gigil menyengat tulang tersebab air berwarna merah yang tengah merendam tubuhku—kecuali bagian leher hingga kepala—ini berasa dingin. Dingin sekali. Mungkin melebihi dinginnya es batu yang semalaman dikungkum di dalam lemari kulkas.

Tiba-tiba terasa ada yang menarik-narik kedua pundakku. Kupalingkan wajah, tapi tak kutemukan sesiapa.

Dan, tubuhku melayang lagi. Mengawang. Sejurus lalu sekujur tubuhku seperti dilesatkan hingga akhirnya kedua ketiakku menyantol di seutas tali warna hitam mengilat. Tipis sekali tali ini? Tapi, mampu untuk menahan sekujur tubuhku dengan berat 65 kilogram.

Hei! Jangan-jangan tali ini adalah… sirathal mustaqim? Tali yang berasal dari sehelai rambut dibelah tujuh. Tali jembatan yang membentang di atas neraka jahanam yang menghubungkannya ke pintu surga?

Lantas, dengan posisiku yang masih menggelantung seperti ini, lagi-lagi tubuhku seperti ditarik lekas hingga menghantam keras sebuah pintu besar menjulang tinggi dengan nyala kuning terang tapi tak menyilaukan. Anehnya, sekujur badanku tak berasa sakit sama sekali. Lekas kuberdiri menghadap pintu megah yang kutaksir tercipta dari berbongkah-bongkah emas murni berates-ratus karat. Indah dan gagah sekali. Mulutku sampai terlongo-longo seraya tak hentinya mendecak kagum.

Sontak aku teringat sesuatu. Hei! Jangan-jangan aku telah sampai di surga? Berarti, pintu megah di hadapanku ini adalah pintu surga? Kedua sudut bibirku sontak melengkungkan senyum. Tak sabar, lekas kumenggegas langkah seraya tanganku menjulur hendak meraih handel pintu megah bersinar kuning keemasan itu. Tapi, aku terperangah saat kedua kakiku tak bisa mengayun sama sekali. Tak bisa bergerak laksana batu. Seketika senyumku menyirna.

“Hei! Mau ke mana kau?”

Tiba-tiba, sebuah suara yang begitu keras mengagetkanku. Kepalaku celingukan. Tapi tak kutemukan muasal suara itu. Tak ada siapa-siapa.

“Tak perlu kau mencari-cariku hei anak manusia. Penglihatanmu itu terbatas!” suara itu menggema lagi.

“Ssi… siapa kau sse… sebenarnyaa?” gagap kumelontar tanya, sementara pandanganku mengedar ke sekililing yang tetap saja kosong.

“Aku adalah malaikat!”

Hah? Ma… malaikat? Aku tercekat luar biasa. Wajahku memucat dan tubuhku bergetar seperti tersengat aliran listrik.

“Kau saat ini berada di depan pintu surga!” terangnya sebelum kumenanya. Hebat! Sepertinya ia mendengar gumam batinku?

“Tapi, kau jangan senang dulu anak manusia! Kau tak diperkenankan masuk ke dalam surga,” lanjutnya, kali ini dengan suara berat tapi lebih pelan dan tak sesangar barusan.

“Me… mengapa aku tak boleh mencicipi surga wahai Malaikat?” tanyaku penasaran sekaligus tak terima dengan vonisnya. Karena seingatku, sewaktu di dunia, aku tergolong rajin beribadah. Sesibuk apa pun, aku selalu luangkan waktu untuk menunaikan shalat lima waktu. Masanya orang-orang berzakat dan bersedekah, aku pun berzakat dan bersedekah. Masanya orang-orang puasa Ramadhan dan tadarus hingga terkantuk-kantuk, aku pun menjalaninya.

“Ya, ya, ya, aku tahu kalau kau orang yang tergolong ahli ibadah,” katanya membuatku terperangah. Hei! Lagilagi dia menahu isi hatiku?

“Tapi, ada yang kau lupakan wahai manusia yang sok alim,” lanjutnya kali ini dengan nada ketus.

“Apa itu wahai Malaikat?” Dahiku mengerut-ngerut.

Arsip Cerpen di Indonesia