TUHAN KEMASYHURAN

Puisi-puisi Hamdy Salad (Suara Merdeka, 29 Mei 2011)

TUHAN KEMASYHURAN

.

Tuhan masyhur di alam arwah

para leluhur, tapi tak di sini

di negeri tempat berpijak ini

.

Benda-benda bertakhta di jalan raya

dan istana, satu kursi seribu rupa

para peri berganti wajah setiap hari

dari bintang ke batu-batu api

dari api menjelma topeng besi

.

Kota-kota nestapa dibakar amarah

desing peluru menembus empedu

mata uang kelaparan jadi sembahan

hijau hutan dan taman mengigau

di tengah banjir dan kebakaran

.

Aku bertanya, denyut nadi tanpa kata!

.

Akal suci terpental dari kepala

hati berduri jadi kapal bahtera

anak bangsa berlabuh di laut keruh

berjuta jiwa menyeduh gelombang

dicekam ajal berulang-ulang

.

Tak ada cahaya di atas kuburan!

.

Orang putih berbaju putih diarak

tukang sembelih, bajak-bajak merdeka

saling beradu di kandang penjagalan

doa dan mantra mengoyak tasbih

kambing-kambing hitam kelimpungan

.

Begitu cepat kematian itu datang

dan pergi meninggalkan jasad

di antara ombak dan bunyi ledakan

gunung berapi, tanah longsor dan gempa

embun menetes di pipi daun dan bunga

.

Tuhan satu kehidupan dipecah belah

raja-raja dusta, mencucup butiran darah

di pasar loak kebenaran dan tipu daya

.

2010

.

.

.

MALAIKAT KESUNYIAN

.

Di punggung bumi kesunyian

di relung hati kebingungan

kemana lari pengikat kalbu

kemana pergi malaikat penunggu

.

Patung-patung pahlawan sekarat

dikerubuti belatung sepanjang abad

jejak luka tak terperi katulistiwa

melipat tubuh sendiri di luar peta

gerbang istana bagai genderang

ditabuh orang siang dan malam

raga jiwa menari tanpa pakaian

mengisap sabu-sabu di balik pintu

kantor polisi, seperti permen karet

rempah politik dikunyah-kunyah

hingga lambung menjadi lengket

jantung negeri menggelembung

dan mati, kuda-kuda perang berlari

menerjang bendera di tengah upacara

lalu sepi, mayat-mayat gelimpangan

tiang duka terpancang di mana-mana

.

Di punggung benua kepanasan

di relung jiwa kepedihan

kemana lepas pengikat kalbu

kemana aras malaikat penunggu

.

Duh rinduku, ruh cinta sejati!

jangan lumpuhkan kaki sayangku!

.

2010

.

.

.

NABI KEBIMBANGAN

.

Engkau hilang dalam kemacetan lalulintas

gorong-gorong dan selokan, airmata deras

tak lagi kanan atau kiri di pipi keriputmu

sungai-sungai dipenuhi pecahan kaca

cermin ikan tanpa sirip dan daging

berjalan sendiri menuju singgasana asing

.

Terompah nabi dipanggul sunyi kehujanan

.

Sawah dan ladang menjelma kepingan dolar

di tengah pasar, anak negeri kecebur mimpi

pergi tamasya di taman becek dan berlumpur

nanah kehitaman mengguyur seluruh badan

lantai-lantai plaza berkilau sisik seribu naga

pesta pora menerkam jantung burung garuda

.

Kitab-kitab suci serasa kipas diterjang badai

.

Duhai kepulangan, goa-goa yang membaca

dimana engkau mesti duduk dan berdiri

jika sujudku hanya segaris lempengan besi

di tengah keributan, orang mati tak dikuburkan

tangan-tangan menulis melebihi takdir pena

lubang hati kerakusan, rumah diri dihanguskan

.

Kertas-kertas kosong bertebaran di langit kelam

.

2010

.

.

Hamdy Salad, lahir di Ngawi, Jawa Timur. Dosen Creative Writing Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Kumpulan puisinya: Sebutir Debu di Tepi Jurang (2004), Rubaiyyat Sebiji Sawi (2004), Sajadah di Pipi Mawar (2005), Mahar Cinta Bagi Kekasih (2005), Dzikir Logam (2009).

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia