“Aku harus mencari biaya untuk memperbaiki langgar,” ucapnya lirih. Wajahnya yang dingin terpantul di dalam segelas kopi yang dingin.
“Kita kan bisa bermusyawarah dengan warga untuk meminta patungan.”
“Sudah kurencanakan. Perhitunganku tak akan cukup. Pilar dan plafonnya sudah sangat rapuh. Apalagi bubungan sudah melepuh,” keduanya bersitatap.
“Abah mau kerja apa?”
“Ikut Suliman ke Surabaya. Ada proyek bangunan. Bosnya membutuhkan tenaga yang banyak, katanya.”
“Nunggu panen saja.”
“Harga singkong cuma seberapa, mana cukup. Rencananya, hasil kerja itu akan kukumpulkan bersama hasil panen dan patungan warga. Insya Allah cukup.”
“Memang berapa biaya yang dibutuhkan?”
“Tiga sampai empat juta.”
“Tak usahlah, Bah. Nunggu panen dua kali saja. Kalau sudah tak mampu, tak usah dipertahankan. Ngaji di rumah bisa juga, kan?”
“Langgar itu titipan Abah. Wasiat! Tak mungkin aku membiarkannya mati. Apalagi sudah bertahun-tahun berdiri di situ, sejak zaman perang,” suara Abdullah meninggi. “Apa Ummi lupa Abah pernah bilang kalau langgar ini dulu menjadi tempat musyawarah pasukan gerilya Kiai Haji Husain Arifin? Tempat melatih silat, bukan sekadar tempat mengaji,” tambahnya.
Baca juga: Tenung – Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 25 Januari 2015)
“Apa Abah tidak kasihan pada Siti?” Ratin terpaku. Ceruk di matanya mengambangkan air yang ditahan agar tak jatuh.
“Nanti aku akan bicara sendiri padanya. Toh, aku keluar hanya sebentar. Sementara waktu, biar kamu yang menggantikanku dan biar Mad Juma yang jadi imam shalat,” Ratin terenyak.
“Kalau aku berhalangan?”
“Biar Mad Juma sementara waktu menggantikanmu,” Ratin semakin terenyak. Terdiam menahan dada yang tiba-tiba bergolak. Mengapa harus Mad Juma?
Betapa tawaran suaminya sungguh berat. Ini bukan soal penunjukan Mad Juma menjadi imam shalat atau guru ngaji. Abdullah tak pernah tahu bahwa sebelum sah menjadi istrinya, Ratin sudah lama berhubungan dengan lelaki yang memiliki bekas luka di jidatnya itu. Abdullah juga tak tahu mengapa Siti mirip dengan Mad Juma. Bisakah Ratin bertahan dan menjaga kesucian cinta seorang istri? Firasatnya mengkhawatirkan. Ia tak kuasa sekalipun hanya untuk membayangkan.