Hikayat Si Lidah Pendek

Malam adalah ibu bagi setiap masa lalu. Dikirimkannya potongan-potongan kenangan; sekerat kesedihan atau sekeranjang kecil kebahagiaan. Kau tak akan bisa memilih, mana lebih dulu yang akan dijatuhkan ke atas pangkuanmu dari langitnya. Seperti pada malam ini, di mana Si Lidah Pendek harus menerima kembali sebongkah malam paling menyesakkan dadanya bila harus terbayang kembali ingatan itu.

Di dinding rumah kayu, ia melihat sepasang cicak sedang berkejaran memburu waktu. Seakan sedang memadu, sebelum akhirnya berseteru dengan begitu sengitnya. Saling menerkam, ingin melukai satu sama lain. Lalu keduanya jatuh. Seperti sudah ia duga, ia melihat ekor cicak yang putus menandakan di antara mereka telah ada yang jadi pemenangnya.

Ah, mengapa harus ada tragedi binatang yang menjijikkan itu di hadapannya. Hingga mengingatkan ia pertama kalinya melihat daging lidahnya sendiri yang terpotong dan jatuh di depan mata. Secuil daging berlumur darah dan rasa perih yang menyengat, dari mulut sampai ujung tenggorokannya.

Orang-orang hanya tahu nama panggilannya saja, Si Lidah Pendek. Namun tidak tahu, mengapa ia bisa dinamai Si Lidah Pendek. Apa pula yang telah menimpa pada hidupnya sehingga harus menanggung sakit setiap kali ia bicara sepatah kata sekalipun. Rasa sakit menerima kenyataan bahwa kini lidahnya tak pernah benar-benar membantunya, sekadar untuk mengucapkan sebuah nama. Sungguh bukan bawaan dari lahir atau sebuah kecelakaan tidak sengaja yang telah menimpanya.

Waktu itu malam diguyur hujan sedari petang. Langit enggan juga menyingkapkan kelam dari perkampungan. Orang-orang asyik menghangatkan dirinya dengan cara mereka sendiri-sendiri. Si Pendek Lidah, sebagai seorang pemuda kurang kerjaan, duduk-duduk di warung Sarinah. Setelah memesan segelas kopi dan menghabiskan tiga buah pisang goreng, ia cuma bisa mematung sendirian. Lantas mematikan puntung rokok pada ujung bangku yang memanjang menghadap meja.

“Sepi.”

“Iya. Hujan dari sore soalnya.” Sarinah menimpali.

Pandangan Si Pendek Lidah menyapu seluruh ruang warung itu. Tapi tak ada yang bisa membuat tatapannya tertahan, selain pada ujung kemeja Sarinah yang terbuka tak terkancing. Sedikit-sedikit ia memalingkan tatapannya. Meski tetap saja kembali terpusat pada belahan dada yang setengah menyembul.

“Kamu seksi juga Inah.” Tak sengaja terucap. Sarinah malah tersenyum menyambutnya. Si Pendek Lidah kehilangan daya menahan dirinya.

“Saya tak percaya kalau tak ada lagi yang mengajak nikah.”

“Ah, saya sudah tua. Mana ada yang mau sama saya. Sudah janda, miskin lagi.” Mereka berdua saling melempar simpul senyum. Suara hujan seolah-olah meredam rasa malu mereka untuk saling merayu.

“Masih muda kamu itu Inah, saya tahu, banyak yang naksir sama kamu.”

“Ah ngarang.”

Si Pendek Lidah tahu betul, Sarinah selalu dijadikan bahan olok-olokan di pangkalan ojek, pos ronda atau setiap kali berkumpul di lapangan desa. Tentang bagaimana kalau akhirnya jodoh di antara para pemuda begundal itu adalah Sarinah. Tentu mereka semua, termasuk Si Pendek Lidah, mengelak dan mengucap ’amit-amit’. Meski diam-diam mereka semua selalu menggoda Sarinah tanpa sepengetahuan orang-orang. Yang paling berani bahkan mereka sering mengintip Sarinah kalau kebetulan ke warung lagi sepi dan terdengar Sarinah di dalam kamar mandi.

Para lelaki kurang kerjaan dan hidung belang di kampung memang sering mengharap bisa dekat dengan Sarinah. Sebab Sarinah bukanlah janda yang serta-merta tak punya wajah manis. Memang sudah berkepala empat usianya, tapi bukan main, tubuhnya masih tetap mekar dengan biusan khas seorang perempuan kesepian.

“Wajahmu masih ayu. Belum waktunya layu, Inah.” Sarinah terhanyut juga oleh kata-kata manis.

“Saya bisa membuktikannya.” Sarinah terdiam. Wajahnya sumringah sekaligus menampakkan kegugupan tersendiri.

“Sayang kalau tak ada yang tahu, kalau itu semua anugerah.” Si Pendek Lidah terus saja mencari celah dengan segala cara.

Ia bahkan sempat beranjak dari duduknya, mendekatkan diri seraya membisiki kata-kata mesra.

“Lagian aku mau kok menikahimu, asal…” Kata-kata Si Lidah Pendek terpotong sengaja.

“Asal apa?” Sarinah bereaksi.

“Asal cicip dulu.” Si Pendek Lidah bergumam tak jelas.

Di luar hujan terus turun, lidah angin sesekali mengirim dingin ke tengkuk leher. Sarinah langsung mengambil papan-papan penutup warungnya dan berniat merapikan barang dagangannya. Dengan sigap Si Lidah Pendek ikut membantunya. Mereka berdua masuk ke rumah, meninggalkan sisa-sisa hembusan nafas di udara yang tiba-tiba terasa menggigilkan mereka.

Lalu untuk kedua kalinya, ketiga kalinya sampai tak bisa lagi terhitung, Sarinah terbiasa dijanjikan manis oleh Si Pendek Lidah. Terantuk jatuh ke dalam dekapan, Sarinah terbuai. Sampai benar mengharap sebuah ikatan suci pernikahan. Tetapi Si Pendek Lidah selalu berkelit ketika dimintai melenggang ke jenjang hubungan langgeng.

Sampai pada suatu hari, kabar itu pun sampai juga pada Sarinah. Kabar Si Pendek Lidah yang akan menikah. Sayang seribu kepalang, nama calon wanita yang akan dipinang bukanlah dirinya. Sarinah seperti mendapat hantaman keras tepat ke ulu hati. Kepalanya terasa diinjak keras-keras oleh kaki. Rupanya selama ini, ia hanya jadi pemuas nafsu binatang Si Pendek Lidah belaka.

Malam-malam ketika suara jendela kamar Sarinah diketuk, seperti biasa tanda Si Pendek Lidah meminta membukakan untuknya. Dalam diri Sarinah terasa ada yang berbeda, wajah berhias begitu cantiknya. Dengan mengenakan pakaian terbaiknya dan membubuhi tubuhnya dengan wewangian. Tentu Si Pendek Lidah merasa sangat bahagia. Diciuminya Sarinah dalam pelukan yang erat. Sampai terasa hangat menjalar membangkitkan gairah syahwat dari ujung kaki ke ujung kepala. Lantas Si Pendek Lidah menjilati tubuh Sarinah, seperti hari-hari memadu kasih sebelumnya, sungguh memabukkan.

Tak dinyana, ketika bulan berahi mulai terpanggang dalah tubuh mereka berdua, tangan kiri Sarinah menarik julur lidah sang belahan jiwa. Dilayangkannya sebuah pisau pada genggaman tangan kanan Sarinah. Suara dengus purbawi tiba-tiba berubah menjadi pekik kesakitan yang ganjil dan terdengar sangat pedih. Untuk pertama kalinya, Si Lidah Pendek melihat dengan kepala matanya sendiri, secuil daging berlumuran darah terlempar dari mulutnya. ***

Bandung, 2013

Arsip Cerpen di Indonesia