Ada lagi yang terus diingat. Ia sedang bermain di halaman, ketika muncul dua orang lelaki. Ibu tampak gugup dan segera menutup pintu kamar, di mana ayahnya sedang tidur. Dari percakapan yang diam-diam didengarnya, ia tahu ayah terlilit utang. Dua lelaki itu datang menagih, dan ibu bilang suaminya sedang ke luar kota. “Datanglah dua atau tiga hari lagi,” kata ibunya. Kedua lelaki itu jengkel, memaki-maki, lalu pergi. Itu membuatnya yakin: kadang-kadang kau harus berbohong untuk menyelamatkan keadaan. Banyak orang terselamatkan hidupnya oleh kebohongan. Ia tersenyum mengingat itu semua.
Telepon genggam di meja berbunyi, tapi ia membiarkan. Bukan saat yang baik untuk menerima telepon dari siapa pun. Ia harus terlihat sibuk dan tak bisa dihubungi saat ini. Ada peristiwa bertahun lalu yang juga terus diingatnya. Ia masih muda saat itu.
Seorang perempuan datang minta sumbangan. Ia terlihat sopan, mengenakan kerudung, membuat siapa pun yang melihatnya menjadi belas kasihan. Perempuan itu menyodorkan map warna hijau kucel, dan menjelaskan bahwa ia pengurus yayasan sebuah panti asuhan. Ia sering mendengar penipuan model begini. Tapi ia tetap memberikan segepok uang, karena ia juga ingin menipu perempuan itu. “Terima kasih,” kata perempuan itu, lalu menggumamkan doa yang panjang; terlihat senang karena yakin telah berhasil menipu. Padahal, ia juga menipunya dengan memberi uang palsu. Menipu seorang penipu selalu menjadi kepuasan tersendiri. “Permisi, Pak. Semoga Bapak selalu diberi keselamatan oleh Tuhan.” Ia tersenyum mendengar ucapan perempuan itu. Menipu memang lebih meyakinkan bila membawa-bawa agama dan Tuhan. Ia ingat seorang koleganya pernah berkata, “Banyak yang menggunakan agama bukan hanya untuk menipu kita, tapi Tuhan pun mereka tipu juga.” Sebulan kemudian koleganya itu tertangkap karena korupsi pengadaan kitab suci di Departemen Agama.
Pernah pula ia tersangkut kasus seorang kolega yang didakwa menipu pengadaan beras miskin. Dengan gesit dan dengan berbagai cara ia membantah terlibat penipuan itu. Ia lolos, sementara koleganya dihukum 12 tahun karena mengakui semua yang didakwakan. Itu pelajaran yang tak akan pernah ia lupakan: jangan pernah jujur saat berurusan dengan hukum.
Sejak itu ia lebih hati-hati. Martabat dan nama baik amat penting bagi penipu. Tentu saja, sering kali ia merasa lelah dengan hidupnya yang penuh tipu muslihat. Kebohongan adalah labirin. Kau bisa tersesat di dalamnya. Kebohongan demi kebohongan bisa membuatmu bingung, dan kau tak bisa keluar dari kebohongan-kebohonganmu. Tapi ia selalu meyakini, tidak semua kebohongan itu jahat. Ia tahu, banyak hal baik di dunia ini dimulai dari kebohongan.