Tiba-tiba ia tak hanya melihat wajahnya. Seperti gerombolan hantu, puluhan wajah muncul dalam cermin. Wajah anak-istrinya yang tampak bangga dengan kesuksesan hidupnya, meski selama ini ia selalu menipu mereka. Lalu muncul wajah guru-gurunya semasa sekolah, yang berkali-kali ia tipu setiap ujian. Wajah orangtuanya. Lalu puluhan wajah yang ia kenal dan tak ia kenal, menatapnya dengan sinis, mencibir, ada yang pucat dan menatapnya dengan pandangan kosong. Wajah-wajah itu tak bertubuh. Seolah topeng melayang-layang dan berdesakan mengepung. Ia melihat wajahnya yang pucat di tengah kepungan wajah-wajah itu. Ia menggigil. Ia ingin menghancurkan cermin itu. Tapi mendadak di cermin itu muncul wajah seorang perempuan yang membuatnya berdebar. Ia mengenal perempuan itu lima tahun lalu, ketika mengunjungi sebuah kota kecil. Lebih muda 15 tahun dari istrinya. Kini ia mesti lebih hati-hati bila ingin bertemu perempuan itu. Tiba-tiba ia merasa takut dan cemas. Saat itulah pintu diketuk. Ia segera berusaha menenangkan diri begitu melihat istrinya masuk.
“Lho kok belum siap? Sudah ditunggu lho….”
Ia memandangi istrinya yang sudah terlihat begitu rapi.
“Sebentar,” jawabnya pelan.
“Jangan lama-lama berdandannya!”
Ketika istrinya menutup pintu, ia lega. Seperti perasaan seorang anak kepergok saat hendak berbuat salah. Ia tak boleh mengecewakan istrinya. Selama ini ia percaya, setiap penipu memiliki hari keberuntungan. Dan ini adalah hari keberuntungan bagi seorang penipu seperti dirinya. Tak usah terlalu gugup. Saat ini ia merasa berada di puncak kariernya sebagai penipu. Kesempatan baik tak pernah datang dua kali bagi seorang penipu. Sukses menipu satu orang itu biasa. Berhasil menipu jutaan orang tentulah prestasi luar biasa. Di luar sana, para penipu lain pasti iri kepadanya.
Ia menarik napas dalam-dalam. Ia segera mengenakan jas dan kembali mematut diri di depan cermin. Gagah. Penipu yang baik tahu kapan saat terbaik untuk menipu, batinnya, seakan ingin menipu bayangan dirinya di cermin. Ini hari yang tak akan ia lupakan. Mungkin kelak ia akan menulis memoar bagaimana ia sampai di puncak karier seperti ini. Tentu ia akan menulis hal-hal sebaliknya di memoar itu. Dengan perasaan mantap ia melangkah keluar kamar.
Puluhan orang yang sudah menunggu seketika bertepuk tangan melihat kemunculannya. Orang-orang langsung menjabat tangannya.
“Selamat, Pak Presiden….” (*)
Jakarta, 2014
Agus Noor, telah menulis tujuh buku antologi cerpen dan menyutradarai sejumlah pertunjukan. Buku terkininya, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia.