Maka, tidak ada jalan lain, popularitas figur baru ini harus segera diruntuhkan. Caranya? Jujur saja, pada mulanya aku tak tahu. Aku tidak punya kecakapan untuk perkara semacam ini. Aku paham bagaimana cara memenangkan perang. Tapi politik membutuhkan amunisi yang lebih tajam dari peluru, lebih dahsyat dari sekadar ledakan granat. Strategi tempur terlalu lugu untuk dibawa ke medan politik. Seperti filosofi silat, politik adalah seni pemutarbalikan kemungkinan, the art of possible: bagaimana mengubah kelemahan menjadi kekuatan, sebaliknya yang kuat menjadi yang lemah.
Menuruti filosofi itu, aku mendekatinya. Lalu kubawa dia keluar dari tempatnya disanjung bagai nabi itu. Aku dan orang-orangku meyakinkan dia, meyakinkan partainya, bahwa dia berpotensi dan sangat pantas menjadi pemimpin di panggung yang lebih besar. Dia terbujuk, partainya terbujuk, kami bersorak. Mereka terjebak. Kau tahu, Dik, daerah ini jauh lebih luas dan lebih sarat masalah. Sejarah mencatat, meski telah berganti-ganti pemimpin, tidak seorang pun yang mampu mengatasi beragam masalah yang terus bertambah parah. Kami sangat percaya, prestasi menakjubkan di tempat terdahulu, tidak akan dapat dia gapai di sini. Dan jika itu yang terjadi, reputasinya sebagai calon pemimpin hebat akan tercoreng. Tentu saja, untuk lebih menjatuhkannya, tiap kegagalan tersebut akan kami kemas sedemikian rupa hingga terkesan lebih dramatis, lalu kami sebar luaskan lewat berbagai media. Tentu, media-media itu sepenuhnya berada di bawah kendali kami.
Siasat ini mentah. Dia memang mulai menerima hujatan. Tapi itu semua, ternyata, tak lantas membuat popularitasnya anjlok. Jika pun ada penurunan, persentase angkanya tidak drastis. Dia tetap maju dalam pencalonan. Kami kecele, Dik. Bahkan ketika kami meningkatkan intensitas serangan, dia masih bisa bertahan. Dia ternyata tak selugu yang kami kira. Dia penuh siasat, penuh pertimbangan, dan sangat awas. Seperti pecatur yang lihai, banyak siasatnya yang gagal kami prediksi. Lebih dari itu, para pemujanya juga memiliki militansi luar biasa. Tiap siasat kami mereka tangkal dengan siasat yang dijalankan dengan tingkat kekompakan mengagumkan. Padahal kami sudah mendatangkan juru siasat baru dari luar negeri. Juru siasat profesional yang sudah tentu berbanderol sangat mahal.
Kau tidak bosan mendengarkan, Dik? Kalau bukan kau, pada siapa lagi tempatku mengadu. Anak kita sejak awal tidak pernah terlalu peduli pada cita-citaku ini. Dia terlanjur asyik dengan dunianya. Tak mungkin pula aku bercerita kepada para penjilat itu. Sudah kuhapal betul tingkah-polah mereka. Di depanku mereka akan manggut-manggut, membungkuk hormat. Di belakangku mereka kasak-kusuk cari selamat sendiri, termasuk kemungkinan menyeberang ke kubu lawanku.
Pemilihan sudah berlangsung dan aku kalah. Iya, Dik, kalah. Aku tahu itu. Seorang penjilat, dengan nada bicara melebih-lebihkan, mengatakan bahwa lawanku adalah orang sakti. Sudah dibunuh berkali-kali, tetap saja tak mati. Kau tahu, Dik, ingin sekali rasanya aku meludahi muka orang ini. Dia masih saja berupaya menunjukkan betapa kegagalan kami bukan disebabkan oleh kenyataan bahwa lawanku memang lebih diinginkan oleh rakyat.