Ziarah Lebaran

Terus terang, Dik, sesungguhnya aku sudah berniat memberikan ucapan selamat pada lawanku. Tapi para penjilat itu mengatakan dengan sangat meyakinkan bahwa perjuangan kami belum selesai, dan aku kembali terpengaruh. Menurut mereka, kekalahan ini masih bisa dibalikkan menjadi kemenangan, dan untuk itu aku harus konsisten mengklaim kemenangan, di manapun dan kapan pun. Ini sekadar upaya pembingungan. Bagaimana mungkin ada dua pemenang, bukan? Sementara itu, kami akan bergerak melakukan manipulasi data. Bahwa siasat ini membutuhkan modal sangat besar, peduli setan. Sudah kepalang basah. Apalagi para penjilat itu bersedia merogoh kocek mereka. Bukan solider pastinya. Mereka membantuku, sebab jika aku menang, otomatis mereka juga akan ikut selamat.

Upaya ini terganjal karena ruang yang kian menyempit, lagi-lagi oleh gerakan yang tidak bisa kami kendalikan. Nyaris tidak ada peluang melakukan kecurangan. Pihak-pihak berkompeten, orang-orang penting yang kami sasar untuk bekerja sama, satu persatu menarik diri. Mundur teratur lantaran takut mengambil risiko yang menurut mereka terlalu besar.

Kemenangan mereka, kekalahanku, telah diumumkan secara resmi. Aku sebenarnya tetap masih bisa menyangkal, lalu menjadikan keputusan itu sebagai kasus yang harus diselesaikan di meja hijau. Bahkan aku sangat mungkin menyulut huru-hara. Tapi haruskah ini kulakukan, Dik? Haruskah aku terus-menerus menekan perasaan untuk menahan malu yang sesungguhnya sudah menggunung? Jawablah, Dik, kenapa kau diam saja?

***

Di kantor pusat sebuah partai politik, puluhan orang, lelaki dan perempuan, tampak kesal dan cemas. Rahmat Yanis terlambat dua jam dari jadwal. Sungguh tidak biasa. Padahal dia harus memberikan keterangan pada wartawan terkait langkah-langkah yang akan mereka lakukan setelah penetapan hasil pemilihan umum. Kabar yang beredar di berbagai media sosial, kubu Rahmat Yanis akan mengajukan gugatan, dan mengerahkan massa besar-besaran.

“Bagaimana ini? Di mana beliau? Para wartawan sudah menunggu dari tadi. Kabar-kabar tidak jelas itu harus segera diluruskan,” kata seorang anggota tim sukses. Anggota tim sukses lain menggelengkan kepala. Anggota tim sukses lainnya mengangkat bahu. Tak lama kemudian, anggota tim sukses yang lain datang tergopoh-gopoh. Telepon seluler masih menempel di telinganya.

“Begitu? Jadi masih di sana? Kenapa lama sekali? Oh, ya, baik. Kami akan menunggu.”

Ia mematikan telepon seluler. “Dari ajudan beliau. Katanya Pak Rahmat sedang ziarah.”

“Ziarah?”

“Iya. Ke makam istrinya.”

“Di saat genting begini, kok sempat-sempatnya ziarah?”

“Bagaimana sih, kamu? Ini kan Lebaran. Kamu lupa?” (*)

 

2014

T Agus Khaidir, tinggal di Medan. Selain menulis cerpen, ia juga berkhidmat sebagai kolumnis sepak bola.

Arsip Cerpen di Indonesia