Sekarang gadis itu membersihkan beberapa lukisan yang terpajang di kanan dan kiri altar. Perhatiannya tertuju pada salah satu lukisan. Lelaki itu ikut mengamatinya. Dia seperti tidak pernah ingin jauh dari gadis itu.
“Aku membayangkan kelak kita berkeliling dunia, berlayar menyeberangi lautan, seperti Chen Fu Zhen Ren.”
“Maksudmu, kau ingin aku menjadi arsitek?”
“Ya. Kupikir kau berbakat mewarisinya.”
Chen Fu Zen Ren adalah salah satu leluhur mereka yang menurut kisah, telah melakukan perjalanan jauh hingga ke Indonesia. Ia berlayar bersama kedua adiknya, tapi kapal mereka tenggelam di selat Bali dan hanya ia yang selamat setelah terdampar di Banyuwangi. Ia kemudian bekerja sebagai arsitek untuk Kerajaan Blambangan. Membuat sebuah kuil besar yang kelak dinamakan Kelenteng Rogojampi.
“Keberuntungan telah menyelamatkan para leluhur. Meski berada di tempat paling asing sekalipun.”
Gadis itu menipiskan senyumnya, pipinya sedikit mengembang seperti keju yang didinginkan.
Lelaki itu telah lama menaruh perasaan tertentu kepadanya. Gadis itu pun barangkali mengerti. Namun mereka seakan tak terlalu memikirkan itu. Kini lampion telah menyala, beberapa hiasan kertas bergerak-gerak tertiup angin. Keduanya duduk di sebuah balok kayu yang telah diukir sedemikian rupa sehingga terlihat lebih kuno dari usianya. Gadis itu mengeluarkan bekal dari tas kain bermotif burung bangau.
Lelaki itu mengamati rerumputan, warna hijau segar yang mengingatkannya pada senyum gadis itu.
“Rumput-rumput itu seperti menunggu untuk dipanen.”
“Bagaimana mungkin kita memanen rumput?”
Keduanya menikmati bekal yang telah disiapkan gadis itu dari rumah. Selanjutnya mereka kembali menyelesaikan beberapa hiasan yang belum terpasang hingga menjelang malam.
“Semoga kalian tetap datang kemari. Sebab kalian tahu, mungkin Nenek tidak akan lama lagi…”
“Jangan begitu, Nenek Shin masih sehat. Ramuan awet muda pasti bisa membuat Nenek hidup setidaknya 50 tahun lagi.”
Ketiganya tertawa.
***