Satu Hari di Awal Musim Semi

Malam harinya, kuil itu menjadi cukup ramai. Suara gelak tawa anak-anak berderai di pelataran. Hiasan kertas merah bertuliskan puisi-puisi kuno telah ditata sedemikian rupa. Biasanya, orang-orang tua akan bergiliran berdoa di altar. Nenek Shin juga telah memegang lembaran angpau. Setiap anak kecil yang mendatanginya selalu didoakan agar beruntung. Anak-anak juga menggantungkan sesuatu di ranting-ranting sepasang pohon Mei Hwa. Warna dedaunannya merah muda, membiaskan cahaya lampu dari tiang-tiang yang dipancangkan ke udara.

Tidak ada yang lebih membahagiakan Nenek Shin selain perayaan malam tahun baru di kuil ini. Sesuatu yang ditunggunya setiap tahun. Sesuatu yang entah kapan akan menjadi yang terakhir baginya. Orang-orang yang datang seperti menganggap wanita tua itu sebagai keluarga mereka. Terkadang mereka menebak-nebak mana yang lebih tua, usia kuil itu, atau usia sang Nenek.

Di gerbang depan, lelaki dan gadis itu sedang berdiri melihat beberapa anak kecil menyalakan kembang api.

“Sayang sekali, kuil ini hanya bahagia di awal tahun. Setelah itu ia kembali terasing.”

“Setidaknya, tak sepenuhnya ditinggalkan.”

“Oh, tapi kita hampir lupa berdoa.” Gadis itu sesaat menoleh ke arah ruang utama.

“Apa yang harus didoakan?”

“Ini malam Imlek. Bukankah kau juga harus meminta keberuntungan?”

“Aku… Aku sudah cukup beruntung sehingga aku bingung harus meminta yang mana lagi.”

Tiba-tiba, seperti gugupnya dedaunan, lelaki itu menggenggam tangan gadis itu, tapi buru-buru melepaskannya kembali.

Gadis itu tersenyum. Matanya menerawang jauh pada bukit yang semakin gelap, seperti suara burung gagak yang masih bergema tipis setelah hilang dari pandangan.

Kelak, jika keberuntungan tahun baru terus menyelimuti mereka, barangkali enam puluh tahun kemudian, gadis dan lelaki itu masih akan datang ke pelataran kuil, dituntun oleh cucu-cucu mereka, atau mungkin hanya seorang yang akan berkunjung kembali, dengan perasaan sendu mengingat masa lalu. Namun siapa yang bisa menentukan masa depan? Mungkin saja suatu hari nanti tidak ada lagi bunga Peony yang berbaris di halaman seperti menyambut kehangatan matahari awal musim semi di pedalaman Changshu. Tidak ada kuil yang berdiri kokoh dijaga oleh sepasang pohon Mei Hwa. Dan tidak ada yang mengetahui kabar tentang gadis dan lelaki itu lagi… (*)

 

2016

Sungging Raga, tinggal di Situbondo, Jawa Timur. Buku cerpen terkininya, Reruntuhan Musim Dingin (2016).

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id

Arsip Cerpen di Indonesia