Seorang Petani

Tiba-tiba saja, dalam keheningan yang mematikan, aku mendengar sebuah seruan keras. Seseorang baru saja berteriak, “Serigala! Serigala!” Aku langsung ikut berteriak sekuat-kuatnya. Lalu aku bergegas ke luar dari hutan itu. Aku mendapati diriku berlari lurus ke arah si petani yang sedang membajak ladang.

Ia petani dari kampung kami. Namanya Marey. Usianya sekitar 50 tahun. Agak gempal dan lebih tinggi dari lelaki kebanyakan. Ia memiliki jenggot tebal berwarna cokelat gelap. Aku mengenalnya, tetapi hingga hari itu aku biasanya tak banyak bercakap-cakap dengannya. Ketika ia mendengar teriakanku, ia menghentikan kudanya. Aku meraih bajak kayunya dengan sebelah tangan dan kerah bajunya dengan tanganku yang lain. Ia bisa melihat betapa ketakutannya aku.

“Ada serigala di dalam sana!” jeritku, terengah-engah dan kehabisan napas. Ia melihat berkeliling untuk beberapa saat, hampir tak percaya kepadaku. “Di mana serigalanya?” tanyanya. “Seseorang berteriak, ‘Serigala! Serigala!’ tadi,” ucapku tergagap.

“Tidakkah Anda mendengarnya?”

“Di sana! Tak ada serigala di sekitar sini,” ujarnya. Ia berusaha menenangkanku. “Kau baru saja berkhayal, Nak. Siapakah yang pernah mendengar tentang serigala di sekitar sini?”

Namun, sekujur tubuhku gemetar. Menurutku aku pasti sangat pucat saat itu. Ia menatapku dengan senyuman cemas.

“Betapa ketakutannya diri mu,” katanya seraya menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan takut. Oh, betapa malangnya, kau! Nah, sudahlah.”

Akhirnya kusadari juga bahwa memang tak ada serigala di tempat itu dan aku hanya melamunkan teriakan itu saja. Sekali dua kali sebelumnya aku juga pernah melamunkan teriakan seperti itu—dan tidak hanya tentang serigala. Saat beranjak dewasa, aku tidak lagi melamunkan teriakan-teriakan semacam itu lagi.

Arsip Cerpen di Indonesia