Tentu saja, setiap orang akan melakukan kebaikan serupa untuk menenangkan seorang anak kecil. Tetapi ada sesuatu yang berbeda yang terjadi dalam pertemuan itu. Jika aku adalah anaknya sendiri saat itu, ia mungkin tak akan memandangiku dengan pandangan penuh kasih yang begitu hangat. Dan apakah yang membuatnya seperti itu?
Marey adalah salah seorang buruh tani kami. Sebagai seorang buruh tani, ia adalah harta benda keluargaku. Aku adalah anak majikannya. Tak seorang pun tahu betapa ia pernah bersikap teramat baik kepadaku. Tak ada seorang pun yang akan memberinya hadiah atas apa yang telah dilakukannya kepadaku. Apakah ia memang begitu mencintai anak-anak?
Ternyata memang ada orang-orang seperti itu. Tak diragukan lagi. Pertemuan kami saat itu bertempat di sebuah ladang yang sepi. Tak ada orang lain yang menyaksikan perasaan-perasaan manusiawi yang halus dari seorang petani Rusia yang kasar.
Saat aku bangkit dari bangkuku dan melihat ke sekitar, perasaanku tentang para nara pidana lainnya telah berubah. Tiba-tiba saja, karena sebuah keajaiban, semua rasa benci dan amarah lenyap dari hatiku. Aku berjalan berkeliling penjara, memandangi wajah-wajah yang kutemui. Aku menatap seorang petani yang sedang meneriakkan lagu pemabuk dengan amat nyaring. Ia juga, pikirku, mungkin petani yang sejenis dengan Marey. Aku tak mungkin melihat hingga ke dalam hatinya, bukan?
Malam itu aku bertemu dengan Miretski lagi. Lelaki malang! Ia tidak memiliki kenangan apa pun tentang Marey atau petani lain. Ia tidak memiliki pendapat lain tentang orang-orang ini, kecuali, “Aku benci para pelanggar hukum ini!” Ya, keadaan seperti ini menjadi lebih sulit bagi Miretski daripada bagiku. ***
Fyodor Dostoyevsky (1821–1881) adalah pengarang terkemuka Rusia. Cerita di atas diterjemahkan Atta Verin dan Anton Kurnia dari The Peasant Marey dalam Great Short Stories from Around the World, Golden Books, Kuala Lumpur, 1995.