Selepas mengucapkan itu, laki-laki itu mengambil sesuatu dari balik baju dan melemparkannya di meja. “Itu sebagian upahnya. Kau akan mendapatkan separuh lagi saat berhasil.”
2
Demi upah itu Papa Zamaradra mengirim dua anaknya untuk meninjau tempat di mana pohon itu berada. Si sulung, laki-laki dengan tubuh kurus yang terkenal pandai menaiki kuda. Si bungsu, perempuan dengan sinar mata yang membuat orang segan padanya.
Setelah mencari seharian, keduanya akhirnya bisa menatap pohon buku itu di depan mereka. Besar batang utamanya mungkin hanya satu pelukan orang dewasa. Bila dilihat dari dekat, tak ada yang tampak berbeda dengan pohon ini. Tapi bila dilihat dari jauh, terlihat di beberapa cabangnya buku-buku beraneka warna bergelayutan ditiup angin.
“Laki-laki itu memang orang bodoh,” seru si sulung. “Bagaimana bisa ia menghabiskan ratusan keping emas hanya untuk buku? Dengan 10 keping emas saja aku bisa membelikannya ratusan buku.”
Si bungsu tersenyum sinis, “Apa kau tak pernah berpikir bila buku-buku itu bernilai sangat tinggi? Jelas sekali bukan, buku-buku itu bukan ditulis oleh manusia? Bisa jadi pencipta alam ini yang menulisnya. Menurutku ratusan keping emas itu tak berarti apa-apa untuk pohon seperti ini.”
3
Ada tujuh orang yang selalu hadir di meja bundar. Papa Zamaradra selalu duduk di kursi utama. Di sebelah kirinya ada ayahnya yang tak pernah bicara. Ia bukan tak ingin bicara, tapi memang tak bisa. Semasa muda lidahnya telah dipotong saingan bisnisnya karena telah membocorkan rahasia.