Dengan rasa penasaran yang meluap, Cyliana mendatangi hutan di mana pohon itu berada. Betapa takjubnya ia saat melihat pohon itu ternyata benar-benar ada. Buku-buku bergelantungan di ranting-ranting. Cyliana segera memanjat pohon itu. Ia memetik satu buku yang ranum, lalu membacanya sekilas. Ini membuat senyumnya rekah. Bagai kesetanan, Cyliana kembali memetik buku yang lain.
Buku-buku itu dilemparkannya ke bawah hingga menumpuk. Namun saat ekor matanya tanpa sengaja melihat tumpukan itu, Cyliana baru menyadari pohon yang dipanjatnya ternyata menjadi lebih pendek. Ia kemudian sadar, kalau setiap buku dipetiknya, ternyata membuat pohon itu semakin menyusut.
Kini Cyliana hanya perlu melangkahkan kakinya untuk menjejak tanah. Pohon itu sudah begitu pendek. Batang utamanya hanya seukuran pergelangan kakinya. Saat itulah sebuah pikiran muncul di kepala Cyliana. Ini membuatnya menyentuh pohon itu, lalu dengan sekali tarik, dicabutnya pohon itu dari tanah.
Cyliana menatap pohon di tangannya dengan mata berbinar. Seiring impian masa kecilnya yang kembali muncul.
***
Yudhi Herwibowo, Aktif di buletin sastra Pawon, Solo. Novel terbarunya Cameo Revenge (2016).
Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id