Arsitektur Kesunyian

Nalea van Mendieejt kemudian sering berkunjung ke stasiun untuk melihat proses pengerjaannya. Diam-diam, ia tertarik untuk mengetahui siapa Salem.

Maka di sela-sela istirahat, Nalea sering memanggil Salem. Awalnya hanya mengajaknya berkenalan. Kemudian ada hal-hal lain yang tak direncanakan. Bahasa memang bisa menjadi kendala, tapi bukankah bahasa perasaan selalu sama?

Lama-kelamaan, Nalea mulai berani membawakan bekal makan siang untuk Salem, irisan daging sapi yang dibuat steak. “Ini tenderloin, menu ala Eropa.”

Salem pun jatuh hati pada gadis itu. “Kelak Nalea, aku akan membuat stasiun yang menghadap ke arah senja, dan kita akan tinggal di sana….”

Gadis itu tersipu.

Biasanya, Nalea mengunjungi Stasiun Karawang setiap menjelang siang. Ketika ayahnya sibuk berkoordinasi dengan pos lain, Nalea bisa berada di sana selama beberapa jam, terkadang ia juga ikut membantu mengangkat ember semen. Para pekerja pun melihat heran kepadanya.

“Dia pasti jatuh cinta pada Salem,” bisik orang-orang.

Kabar kedekatan itu pun sampai ke telinga ayahnya.

“Benarkah kau dekat dengan pribumi pembuat denah itu?”

“Ya, Ayah. Aku mencintainya. Ia sangat jujur dan sederhana.”

“Tapi Nalea, kau hanya jatuh cinta pada stasiun rancangannya, kau tidak boleh mencintai pribumi.”

“Ayah, jika aku mencintai sebuah karya seni, maka aku juga berhak mendapatkan senimannya.”

“Teori dari mana itu? Apakah jika kau menyukai sebuah cerita pendek, kau juga ingin mendapatkan penulisnya? Jangan sembarangan!”

Bagi sang jenderal, adalah aib yang besar jika sampai anaknya terpikat dengan pribumi. Maka, setelah stasiun itu selesai, Salem dipanggil menghadap Jenderal.

Salem tentu sangat bahagia. Dalam bayangannya, ia mengira hubungannya akan direstui.

Namun ternyata…. Ia ditangkap.

“Kau harus diasingkan,” ucap Jenderal kepada Salem. Kemudian Jenderal memerintah kepada ajudannya. “Antarkan dia ke suatu tempat yang bahkan aku pun tidak berpikir untuk berkunjung ke sana sampai aku mati.”

Arsip Cerpen di Indonesia