Arsitektur Kesunyian

Namun Salem masih selalu mengingat Nalea, setiap malam, ia terkadang melihat bintang sampai tertidur sambil memimpikan gadis itu.

Kehidupan Salem berjalan begitu wajar, tahun demi tahun berlalu, ia menjadi tua tapi tidak menikah, badannya kurus dan sakit-sakitan karena kesepian. Sampai tiga puluh tahun kemudian, tersiar kabar tentang pembukaan jalur kereta api dari Jember hingga Banyuwangi.

Salem segera menawarkan diri untuk menjadi arsiteknya. Ia berkata, “Aku akan membuat sebuah stasiun yang luas. Kelak, stasiun ini akan menjadi yang paling kokoh di Jawa Timur.”

Maka diambillah batu-batu gunung, para pekerja antusias dengan dibangunnya rel dan stasiun untuk mengirim hasil perkebunan. Tidak ada yang menyadari, bahwa setelah tiga puluh tahun, Salem masih mengingat persis arsitektur stasiun Karawang.

Tepat pada tahun 1931, Stasiun Rambipuji selesai. Dan tak lama setelah itu, Salem pun meninggal, dalam keadaan masih menyimpan cintanya kepada Nalea. Begitulah riwayatnya berakhir di pengasingan. Sejak saat itu, jika Anda berkesempatan untuk berkunjung ke Stasiun Karawang di Jawa Barat dan Rambipuji di Jawa Timur, Anda akan mendapati dua stasiun yang sama persis, seperti sepasang arsitektur kesunyian….

Lantas, bagaimana kabar Nalea van Mendieejt selanjutnya?

Konon, dalam sebuah fragmen cerita yang lain, setelah kemerdekaan didapat Indonesia dan tentara Belanda diusir kembali ke Eropa, Nalea pun ikut rombongan ayahnya untuk pulang ke negerinya. Ia kemudian menikah dengan seorang perwira. Mereka hidup bahagia di sebuah rumah besar yang di halamannya terdapat hamparan bunga Tulip dan sebuah kincir angin besar. Dengan kebahagiaan yang begitu sempurna, Nalea telah melupakan cintanya pada Salem.

“Apa yang kau dapat ketika merantau ke Indonesia?” tanya suaminya suatu kali.

“Hm. Tidak ada…. Hanya cerita-cerita biasa,” jawab perempuan itu. ***

 

SUNGGING RAGA. Penulis, tinggal di Situbondo, Jawa Timur. Buku kumpulan cerpennya “Reruntuhan Musim Dingin”.

Arsip Cerpen di Indonesia