Cirahayu

Jika sedang terhalang lebatnya pohon atau gundukan bukit, maka wajahmu yang terpantul di jendela kereta. Tapi begitu samar, sebab kaca bukanlah cermin sesungguhnya, dan kau masih berbicara, mengisahkan sesuatu yang barangkali saja sangat menarik.

“Tapi aku yakin suatu saat nanti semakin saling memahami.”

Adakah yang kau kisahkan itu sebuah kisah cinta yang berliku seperti jalur kereta sepanjang Cirahayu?

Sebetulnya, sudah sejak melewati stasiun Nagreg, jalur rel menjadi berkelok dan terjal. Setelah melintasi jembatan Citiis, rel akan bersisian dengan bukit Kadungora, begitu seterusnya sampai Leles, Karangsari, Cibatu, pemandangan lembah yang dipenuhi pepohonan begitu lebat, sementara di bagian kanan, rel berbatasan langsung dengan dinding bukit yang mencemaskan. Suasana ini baru akan berakhir saat kereta memasuki Tasikmalaya.

“Memang namanya laki-laki tidak mau mengalah, aku sampai tidak paham.”

Kau terus berbicara. Aku sedang berpikir tentang keindahan. Tentang perjalanan yang mengenalkan kita pada tokoh-tokoh asing. Namun semua cuma persinggahan. Barangkali wanita memang lebih rawan dari stasiun, lebih riskan dari peron-peron sunyi. Kau barangkali hanya satu di antara yang lewat dan tak kembali. Percakapan kita kelak akan kulupakan, tertimbun percakapan lain, mungkin oleh wanita yang menjemputku di stasiun Jogja. Seperti lagu lama, “Hampir malam di Jogja.”

Lamunanku terus menerawang, seperti melampaui sekat-sekat waktu. Sesaat lagi pastilah kereta menurun dan mulai memasuki daerah perkotaan menjelang Tasikmalaya, suasana ketinggian ini akan segera berubah menjadi jalur lurus yang padat oleh perumahan, jalan raya, dan tembok-tembok kompleks pertokoan yang membosankan.

Baca juga: Kedai Senja – Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 24 September 2017)

Nah. Kurasakan gemeretak roda, pertanda rel yang bercabang dan kereta hendak melintasi stasiun Ciawi, wilayah Tasikmalaya.

Namun terkejutlah aku ketika kulihat di luar kaca jendela, baru saja kereta melintasi stasiun Cirahayu.

Hah? Bukankah tadi aku sudah melewatinya?

Kualihkan pandangan kepadamu. Kau masih di situ, tapi kini pakaianmu telah berubah, lebih rapi, memakai batik. Sejak kapan kau ganti baju? Dan astaga, kulihat tubuhku sendiri, ternyata aku memakai kemeja bercorak batik yang sama dengan yang kau kenakan!

Arsip Cerpen di Indonesia