“Kata ibu, dulu kakek pertama kali bertemu nenek di kereta ini.”
Kakek? Mengapa memanggilku kakek? Apakah mereka berdua ini cucuku? Aku mendengar perbincangan itu, tapi tak tertarik menanggapinya. Entahlah, mungkin karena tubuhku telah begitu lemah, aku masih memandang apa yang lewat di luar jendela, suasana hutan perbukitan dan lembah menjelang sore, jauh di lanskap bukit itu, di cakrawala itu, tampak kota Tasikmalaya mulai menyalakan lampu-lampu. Akhirnya hampir malam. Selalu hampir malam. Namun tak pernah sampai. Di manakah wanita yang selama ini duduk di hadapanku? Di manakah kamu yang sedari awal suka berbicara banyak hal? Mengapa aku masih saja duduk di gerbong kereta ini sementara kau sudah tak ada lagi?
“Lihat, kakek menangis.”
Kali ini aku terkejut mendengarnya. Secara spontan kuusap bagian bawah mataku, dan memang terasa basah. Astaga, sudah setua ini dan aku masih menangis.
Cahaya matahari seperti memudar. Lampu-lampu kian benderang di kejauhan. Lampu kendaraan, lampu jalan, lampu rumah, seperti miniatur cahaya dari kereta yang terus melaju. Namun sekarang wajahmu tak terpantul lagi di kaca jendela itu.
Baca juga: Argo Senja – Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 16 September 2018)
“Kakek! Kakek! Keretanya berbelok.”
Dan, ketika kurasakan gemeretak roda di atas rel, pertanda kereta memasuki sebuah stasiun, aku tahu, aku bisa menerkanya. Itu pasti stasiun Cirahayu.
Beberapa detik kemudian, kulihat peron yang melengkung itu, stasiun yang seakan menjebakku dalam pusaran waktu, dan aku teringat kembali ucapanmu.
“Ada kisah tragis tentang stasiun Cirahayu…”
Barangkali, kita pun sedang menjadi kisah tragis itu.
2017
Sungging Raga, tinggal di Situbondo, Jawa Timur. Buku cerpen terkininya, Reruntuhan Musim Dingin (2016)
Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id