Asma Kinarya Japa, Celeng Sarenggi, Hantu Perempuan, dan Lainnya

Puisi-puisi Gunawan Maryanto (Kompas, 18 November 2017)

Lake in the Mountains ilustrasi Irina Tarasova (Russia) - Kompas.jpg
Lake in the Mountains ilustrasi Irina Tarasova (Russia)/Kompas

Asma Kinarya Japa

Nama-namamu Menjadi Doaku

 

1

Dukamu tidak abadi, kan?

Itu hanya terjadi dalam sebaris puisi

Atau igauan seorang majenun

Namamu barangkali, dalam ingatanku

 

Sungguh aku tak ingin jatuh cinta

Udara memburuk

Cahaya meredup

Ia terlalu mencemaskan

 

2

Ambil wayang itu, Nak

Raksasa hutan yang sedih

Atau punakawan yang jenaka

Nanti kita mainkan dan

Kelir kita bentang

Untuk malam kita yang tak panjang

 

Sudah kautemukan mereka dalam kotak?

Upacara akan segera dimulai

Nama-nama mesti diruwat

Ya, namamu juga

Agar suatu kali kita bisa bermain lagi

 

3

Odong-odong kita telah siap

Lampu-lampumu menyala

Lampu-lampuku menyala

Inti malam tengah kita masuki

Entah siapa duluan sampai

 

4

Seminggu kaukenakan baju-bajuku

Untuk duduk di samping gudang

Maaf aku tak bisa menemanimu

Akhirnya kematian yang datang

Ringan membawamu pergi

Tak kubaca isyarat rindumu

Orang lain yang menemukannya

 

5

Tiga puluh tahun membatu

Rumput tumbuh di sekujur tubuhmu

Ingatan adalah kupu-kupu yang terbang

 

Pada sore yang lengang

Umpama aku tak pergi mungkin kau tak pergi

Roboh pohon melinjo belakang rumah

Nasibnya menimpa seisi kolam

Aku datang di Minggu yang tenang

Minggu yang tak pernah pergi lagi

Ingatan adalah kupu-kupu yang terbang

 

6

Fobia menggantung di langit kamarmu

Abai pada waktu atau

Rabu yang tak tentu

Aku tak ada di sana, percayalah

Hanya dingin yang seperti abadi

 

Wah, malam ini gelap sekali

Aku di sini menyusun namamu

Rajah yang mudah dibaca

Dengan hati terbuka

Ajag bagi malam yang kesepian

Nubuat sederhana

Ibar-ibar di sungai kecil saja

 

7

Sajak-sajak lawas

Rawa-rawa yang tak bisa diselami

Ingin kutulis kembali

 

Que sera sera nyanyimu membuka

Adegan pertama juga terakhir

Drama Erendira dan angin petakanya

Ambang antara tidur dan jaga

Rumah yang tiba-tiba terbakar

Impian yang tak pernah menjadi nyata

Angin jahanam yang keburu merajam tubuhnya

Tak ada yang tersisa barangkali

Ingatan bahkan terkubur dalam

Nyanyian angin Oktober yang santer

 

8

Kembang sepasang datang

Ambal digelar sepanjang petang

Larik-larik puisi itu jatuh

Ya, jadi sepasang tubuh

Anjani dan Amba

 

Rintik hujan melintas

Ilalang menahan cemas

Samadimu, Anjani

Amarahmu, Amba

Nyala cinta tak.mati-mati

Gemetar dendam tak sudah-sudah

Di Telaga Madirda di Tegal Kuru

Angin berhenti menderu

Rumputan diam membeku

Untuk sepasang kembang yang datang

 

9

Yuwana kita habiskan

Untuk keabadian? Bukan

Dramamu adalah keriuhan

Ikal kenyataan berkelindan

 

Aku berlarian menemu bentuk

Hadir dalam segenap ruang

Menjadi apa yang seharusnya

Aktor, penulis, sutradara

Dan seorang pejalan

 

Tumbuh adalah kata-kata yang kautanam

Awal seluruh perjalanan

Je, tak bisa kuringkas kau dalam berkas

Ular-ularmu panjang tak berbatas

Dunia yang kita tatap

Imbal sedari awal

Nyeri sedari lahir

 

10

Duduk di taman kota

Ini malam Gangga beralih rupa

Nyalang menatap bintang-bintang

Air mengalir dari sekujur tubuhnya

 

Oh, Santanu yang meragu

Kuhanyutkan bayi-bayiku

Tubuhku bukan rumah

: Aliran sungai tanpa arah

Venus yang tersisa pada pagi

Ia tahu yang sungguh terjadi

Anjing itu mati di jalanan

Nama itu menjadi sepi

Ia tengah jatuh cinta

 

Celeng Sarenggi

 

Celeng Sarenggi, Celeng Sarenggi

Menunggulah kau sampai kebas

Bocah gimbal yang menari-nari

Bocah bajang yang mabuk kepayang

 

Celeng Sarenggi, Celeng Sarenggi

Sembunyilah kau di sini

Di rimbun daun ketela

jari-jari yang pernah mengelus

punggungmu

 

Malam masih lama

Kakimu mati rasa

Tapi bocah bajang itu

Ia tak kenal waktu

 

Selo Blekithi 2

 

Sudah pagi lagi

Semut berarak kembali

membelah bebatu

Selo blekithi sekali lagi

 

Perang kembang segera dimulai

Di jalanan

Diiringi riuh knalpot gaduh

 

Lalu jatuh sebuah sore

Memar seluruh tubuhnya

Dan kuku-kuku menjelma kunang-kunang

Terbang di atas kepala peri yang duduk

cemberut di kursi hijau lumut

Menanti pagi mengulang

seluruh kematian

 

Hantu Perempuan

 

Aku hantu yang berulang bunuh diri

Di kamar yang sama

Di waktu yang sama:

antara membereskan halaman

dan belanja mingguan

 

Aku hantu yang gagal

bahkan untuk meringkus diri

dalam sekotak kardus

 

Aku tinggal di gunting rumput

Aku tinggal di kereta belanja

 

Hantu Laki-laki

 

Aku hantu yang gagal menghilang

Selalu kelihatan di bawah sofa

Persetubuhan yang tergesa

Pembunuhan yang sia-sia

 

Kapal Kertas

 

Mari berlayar

Perahu kertas ini akan membawamu

: dunia tanpa warna.

 

Rentangkan tanganmu

Sambut angin seperti ibumu

: menuang sore pada secangkir teh

 

Jeda yang Ajaib

: dsr

 

Dalam jeda yang singkat

ingin kutulis pesan

atau barangkali panggilan

: nama atau sebuah kalimat

– sebelum hilang bau tubuhmu

 

Untuk jeda yang tiba-tiba

cerita cinta bisa jadi apa saja

ingatan jumpalitan berebut tempat

 

Rebut saja yang sanggup

Ambil saja yang mewujud

Hari ini mungkin pertama

Malam ini mungkin terakhir

Ambil seluruh yang mungkin

Waktu sedang cemburu

atau membencimu

Tapi demikianlah

Ini semua berlangsung

dalam jeda yang ajaib

 

Gunawan Maryanto adalah seniman mukim Teater Garasi/Garasi Performance Institute. Kembang Sepasang (2017) adalah kumpulan puisinya yang terbaru.

Arsip Cerpen di Indonesia