“Tero, mainlah ke sini. Lihat, matahari sudah muncul dari balik awan!” ujar Dadang.
“Dang, jangan kayak gitu, dong. Kasihan Cami dan teman-temannya. Mereka berjubel di karang kecil. Kalau di sini kan lumayan luas,” kata Tero sambil berenang di sekitar karang besar.
“Biarin saja mereka di sana!” ucapnya.
“Nanti nggak ada yang mau main sama kamu, lho.”
“Aku nggak peduli.”
Tero sedih melihat sahabatnya seperti itu. Tapi ia tak mau meninggalkan Dadang sendirian tanpa teman.
Raju yang tak tahan lagi melihat kepongahan Dadang, akhirnya naik ke atas karang besar. Perlahan ia mendekati si udang sombong tersebut.
“Hei, Dadang, ayo kita adu sapit. Siapa yang bisa bertahan, dialah pemenangnya,” tantang Raju.
“Oke. Siapa takut. Pasti kamu yang kalah,” ejek Dadang.
Adu sapit antara Dadang dan Raju pun dimulai. Cami dan kawanan camar, Cumcum serta ikani-kan kecil memberikan semangat ke Raju. Mereka semua berharap agar sang rajungan yang menjadi juara. Pertarungan berlangsung sengit, keduanya sama-sama kuat. Setelah agak lama, tiba-tiba….
“Awaaas… ombak besar datang!” teriak Cami. Ia dan kawanan burung camar segera terbang ke atas untuk menyelamatkan diri.
Raju, Cumcum, Tero, dan ikan-ikan kecil segera berenang ke balik karang besar. Dadang pun bergabung dengan mereka. Tapi terlambat, ombak besar sudah menerjang. Ia terlempar dan punggungnya menabrak dinding karang kecil yang berada tak jauh dari tempat adu sapit.