Kisah Si Udang Bungkuk

“Aduh… punggungku,” rintih Dadang sambil meringis kesakitan. Punggungnya terasa seperti mau patah. Dengan tertatih ia pun bangun.

Betapa kagetnya Dadang karena benturan keras membuat punggungnya bengkok. Berkali-kali ia mencoba untuk meluruskan tetapi gagal. Bahkan rasa sakitnya bertambah parah.

“Dang, gimana kondisimu?” tanya Tero sambil mendekati Dadang.

Cumcum, Cami dan kawanannya serta Raju pun mengerubungi Dadang. Mereka ikut bersedih melihat Dadang kesakitan.

“Sakiiit….” suaranya mengerang.

Dadang benar-benar menyesal. Andai ia tak sombong, maka Raju tidak akan menantangnya adu sapit, dan kecelakaan pun bisa dihindari. Sejak saat itu, keturunan Dadang udang menjadi bungkuk semua hingga saat ini. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia