Prajurit yang Sakit Hati

“Menjadi prajurit komando berpengalaman, membuat kami kagum sepak terjangmu dan keterlibatanmu dalam militer asing.”

Kedatangannya memang mewakili seseorang yang berpengaruh di tanah air ini. Aku harus menanggung beban berada di ruangan pengap memendam keluhan. Padahal pemberontakan yang dituduhkan kepadaku didalangi politisi Republik Indonesia Serikat.

“Tak ada susahnya. Kau cukup mengatakan setuju untuk lepas dari sini.”

Tentu mengatakan setuju adalah ledakan, malah jika sepakat akan membuka gerbang kehancuran bagiku. Mungkin, aku bisa menghirup udara lepas, tetapi tak akan bebas dan leluasa bertindak. Tindakanku harus menurut dari perintah pemimpin besar revolusi. Menjadi pengawal adalah bajingan yang tak termaafkan bagi kawankawanku di luar sana.

“Suatu kehormatan bagi kami jika kau bergabung. Jangan ngotot begitu menolak maksud kedatangan seseorang yang memberi tawaran istimewa.”

Kukira ia akan kembali mengatakan perihal kebaikan. Lantas, kehormatan macam apa yang akan kuperoleh jika harus tunduk dan meninggalkan seluruh perjuanganku? Sekarang, kucoba terus tenang mempergunakan akal, agar bisa meninggalkan tempat ini. Tindakan perwira di hadapanku ini sudah jadi kunci yang membukakan aku pintu.

“Kau berharga bagi kami. Harga mati untuk menindaki segala carut-marut mengenai kondisi tanah air. Kau dinanti untuk membungkam segalanya.”

Kuharap ia bosan berada di sini, ternyata tidak. Sekarang, ia duduk di kursi yang tadi diambil oleh salah satu pengawalnya. Ia tak henti meminta kesepakatanku. Sepertinya ia memang diminta datang kemari untuk tidak bosan merayu. Agar, pulang tak membawa kekecewaan untuk kesekian kalinya. Sekarang kuluruskan sepasang kakiku. Ia menyodorkan keretek. Aku menolaknya.

“Amat langka prestasi diperoleh seseorang di usia muda, kau sangat dikenal zaman ini sebagai prajurit yang rela bertaruh jiwa dan raga.”

Arsip Cerpen di Indonesia