Saat tertangkap, aku terus berusaha melarikan diri dari tempatku mendapat hukuman di Jakarta selama 8 tahun. Begitulah, kakiku tetap dijaga, agar tak lepas kendali. Tiga tahun di Wirogunan Yogyakarta. Sempat dipindahkan ke Cimahi, aku juga sempat memberontak di sana, sebelum akhirnya dijebloskan kembali. Selanjutnya dipindahkan ke Ambarawa.
Tak lama, aku kembali diadili di Yogyakarta. Tindakan pemerintahan RIS yang menangkapku di sekitar istana negara tahun 1950 terus berbekas. Menolak menjadi komandan Cakrabirawa suatu kemerdekaan bagiku. Aku merasa pemerintah kalah dengan penolakanku. Namun, saat kekacauan meledak di bulan April tahun 1950 di Makassar, Ayahku terbunuh.
Bukannya menjaga keamanan, kedatangan TNI malah menambah kegaduhan. Selepas bebas dari tahanan, kusaksikan masyarakat pro-federal yang ikut dalam komandoku ditumpas habis. Cerita dari Rido sekilas membuatku tampak tegar di hadapannya, walau air mataku ingin meleleh. Sesalku datang belakangan.
“Ayahmu sempat bilang kepadaku, ia datang ke Makassar bermaksud menemuimu. Ayahmu ingin menghentikan tindakanmu yang keras kepala mempertahankan NIT. Namun, ia tak percaya padaku, bahwa kau ke Jakarta. Cerita para sahabat mantan KNIL kita mengatakan, Ayahmu terkena peluru dari TNI, karena ia berusaha menembus kekacauan.”
Cerita dari Rido juga membuat hari-hariku lebih banyak diam. Diamankan oleh Rido, akhirnya aku tiba di tempat istriku dan Sahi berada. Namun, yang kutemukan hanya tulisan istriku di sobekan kertas yang tergeletak di meja. Istriku bilang, jika aku ingin bertemu dengannya dan Sahi, aku harus kembali ke Barru. Sakit hatiku tak akan sembuh pada orde lama.
Makassar, 2017
Alfian Dippahatang, lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tidak Selesai di Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar dan memutuskan lanjut lagi kuliah di Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. Bergiat di sebuah ruang diskusi dan menulis bernama Kelompok Belajar Memancing. Bukunya yang telah terbit, Dapur Ajaib (Basabasi, 2017).