Mayat yang Diarak

Mayat Marliang yang menggoreskan senyum sudah di pindahkan ke ruang tengah. Hanya di temani oleh anak perempuannya yang masih balita. Yang belum tahu kematian itu apa. Anak malang itu asyik bermain di samping ibunya. Ia mengelus wajah ibunya. Dan mencari-cari payudara ibunya untuk menetek.

Kasimin kembali ke rumahnya setelah dari langgar. Sepanjang jalan suasana masih lengang. Perlahan-lahan kegelapan disingkap terang. Rumah warga yang ia lalui banyak sudah yang terbuka pintunya. Pada bagian dapur terlihat kepulan asap. Aroma makanan tercium. Kasimin yakin betul kematian istrinya yang ia umumkan di langgar, sudah sampai di telinga warga. Anehnya tak satu pun warga sudih bertanya-tanya perihal kematian Marliang. Mereka abai dan cuek melihat Kasimin berjalan tergesa-gesa kembali ke rumah. Air mata kasimin masih berkaca-kaca. Senang dan sedih berkecamuk dalam dirinya.

Mata Kasimin terbelalak begitu sampai di rumah. Didapatinya suatu adegan, anaknya tengah menetek pada jasad ibunya yang sudah terbujur kaku itu. Senyum masih menggores di wajah Marliang. Dari payudaranya memancar deras air susu yang dilahap anak malangnya. Bagaimana mungkin mayat masih bisa memberikan hak-hak pada anaknya? Bagaimana bisa Marliang masih memiliki air susu? Bukankah Izrail telah menjemputnya? Batin Kasimin. Aneh tapi memang nyata. Tangis Kasimin memecah melihat itu. Ia membiarkan anak malangnya menetek sepuasnya. Sebelum ibunya dikubur nanti.

Pagi itu, cuaca bersahabat. Tidak panas juga tidak mendung. Matahari begitu baik memberikan pancaran sinarnya. Kasimin mengaitkan itu dengan kematian baik istrinya. Mayat Marliang wangi semerbak, bak minyak kasturi. Tidak seperti kematian ayahnya. Kasimin masih ingat, ketika ayahnya meninggal dunia. Hujan deras mengguyur. Karena itu dua hari dua malam mayatnya belum di kuburkan. Ia membusuk di ruang tengah. Sedangkan mayat Marliang teramat wangi bak minyak kasturi.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh. Pelayat belum juga berdatangan. Berkali-kali ia menengok ke arah pintu. Berharap ada orang yang datang melayat. Sementara jasad Marliang semakin wangi. Wanginya memenuhi rumahnya. Dengan perasaan sedih Kasimin melangkah gontai ke teras rumahnya. Mengarahkan pandangannya pada ruas jalan. Tak satu pun ada tetangga yang tergerak hatinya datang melayat.

Arsip Cerpen di Indonesia