Kasimin memang sengaja mengabaikan tradisi itu. Mengabaikan bukan berarti tidak menyukai. Jika simbol semacam itu dipercaya sebagai doa, maka Kasimin punya cara lain berdoa. Ia tidak pernah menyalahkan. Tidak juga menganggapnya sebagai sesat atau perbuatan syirik. Tapi, apabila simbol-simbol itu dipercaya memiliki kekuatan mistik dan memiliki kekuatan untuk meredam marabahaya. Maka akan lain ceritanya. Kasimin akan berlagak menjadi singa menentang kesyirikan.
“Leluhur kita di alam sana akan mengirim karma padamu. Kau lancang mengabaikan seruan mereka yang turun temurun kita lakukan, Kasimin,” tutur salah seorang warga dengan wajah teramat jengkel menatap Kasimin. Setelah ia melihat rumah Kasimin berdiri tanpa ada tunas kelapa dan simbol lainnya pada ariang posi.
“Kesombongan Kasimin akan mencelakakannya.”
“Tidak lama lagi! Tidak lama lagi! Ia akan ditimpa musibah. Camkan kataku!”
Tidak hanya itu saja. Kasimin kerap kali terlibat cekcok dengan ayahnya. Ia selalu meminta pada ayahnya untuk berhenti jadi sanro (Dukun). Kasimin menilai ayahnya terlalu jauh meninggalkan nilai-nilai agama dalam segala praktik perdukunannya.
Ayahnya selain sakti dalam meramal nasib juga memiliki jampi-jampi. Jika warga sakit bukannya berobat ke dokter malah lebih mempercayakan padanya. Di samping murah, kesembuhan juga terjamin. Ia tidak pernah mematok berapa kisaran harga. Seikhlas dan semau warga. Kadang ia diberi sembako atau duit. Warga yang telah ia sembuhkan penyakitnya wajib membawa sesajen padanya. Biasanya berupa aneka jenis makanan dan seekor ayam.
“Jampi-jampi yang kututurkan adalah doa. Doa kepada Tuhan. Bahkan doa itu jelas-jelas ada dalam kitab, hanya saja dilafalkan dalam bahasa daerah,” ucap ayahnya ketika Kasimin mencoba mendebatnya.