“Kalau tak percaya, besok ikut ke tempat kerja paman. Nanti Lisa bisa berkenalan dengan raksasa Way Kambas.” Paman Raka mengedipkan matanya.
Lisa terlihat antusias. Ia pun memberondong pamannya dengan pertanyaan seputar raksasa tersebut, tetapi beliau tak mau menjawab. Ibu tertawa melihatnya.
Keesokan paginya, Paman Raka, ibu, dan Lisa menaiki Jeep menuju Labuhan Ratu. Kurang lebih tiga jam berikutnya, mobil memasuki gerbang bertuliskan Taman Nasional Way Kambas. Setelah memarkir kendaraan, mereka pergi ke sebuah tempat yang ramai oleh pengunjung.
“Tunggu di sini, ya. Ada kejutan buat Lisa.” Paman bergegas memasuki sebuah bangunan.
Tak lama kemudian, Paman Raka keluar dengan menunggang gajah. Lisa tercengang sekaligus senang karena binatang itu mengalungkan bunga ke lehernya. Ibu pun mengabadikan momen tersebut dengan kamera.
Setelah itu, tiga ekor gajah masuk arena dan melakukan atraksi memukau, mulai dari duduk berjajar, menari, dan bermain sepak bola. Lisa terlihat sangat menikmati pertunjukan binatang yang superbesar tersebut. Berkali-kali ia bertepuk tangan dan melihat dengan pandangan kagum ke tengah arena.
Selain menikmati atraksi menakjubkan dari salah satu satwa hebat Way Kambas, para pengunjung juga bisa berkeliling taman nasional dengan menunggang gajah.
“Paman curang, ah. Katanya raksasa, ternyata gajah.” Lisa mencubit pinggang paman saat mereka bersafari di atas punggung binatang hebat itu.
“Gajah kan sama dengan raksasa. Sama-sama bertubuh sangat besar.” Paman Raka terkekeh. “Gimana, raksasa teman paman ini…dia baik, kan?”
Lisa mengangguk. “Tetapi Lisa pernah lihat berita di televisi, ada gajah yang mengamuk dan merusak perkampungan. Berarti mereka jahat dong, Paman?”