“Tidak, Lisa. Justru yang jahat itu manusia yang sudah merusak habitat gajah. Mereka menebangi pepohonan untuk kepentingannya tanpa melakukan reboisasi atau penghijauan kembali. Akibatnya, gajah mengamuk karena tempat berlindung dan sumber makanannya berkurang drastis. Untuk itulah, Taman Nasional Way Kambas ini didirikan agar gajah-gajah liar bisa dilatih dan hidup berdamai dengan manusia.”
“Taman Nasional Way Kambas ini khusus untuk gajah saja ya, Paman?”
Paman Raka menggeleng. “Selain gajah, ada penangkaran satwa badak dan harimau sumatera, mentok rimba, juga buaya sepit. Di bagian pesisir yang berawa sering ditemukan berbagai jenis burung, contohnya bangau tongtong, sempi dan biru, kuau raja, dan pependang timur. Beragam tanaman pun bisa dijumpai di sini, seperti api-api, pidada, nipah, serta pandan.”
Lisa manggut-manggut. Selain wawasannya bertambah luas, ia sangat senang karena liburan akhir pekan kali ini bisa berinteraksi langsung dengan raksasa Way Kambas yang baik dan jinak.
Gresik, 7 Februari 2018