Oleh Vendo Olvalanda S (Lampung Post, 18 Maret 2018)

Dahulu kala di sebuah kerajaan kelinci. Terjadilah sebuah krisis pangan yang sangat dahsyat. Entah kenapa pemangsa bisa ada di mana-mana. Mulai dari elang, ular, hingga rubah. Padahal musim gugur hampir habis dan musim dingin sudah dekat.
Setiap harinya ada saja rakyat kelinci yang dimangsa. Hal ini dikarenakan sifat mereka yang hanya ingin hidup sendiri-sendiri. Akibatnya, sedikit demi sedikit rakyat kelinci berkurang. Rakyat kelinci pun mengadukan nasib mereka kepada Sang Raja.
“Yang Mulia, musim dingin sudah dekat. Kita butuh makanan yang banyak. Sebelumnya kami tidak pernah mengadukan perihal persediaan makanan kepada engkau, namun kali ini di luar sana pemangsa ada di mana-mana. Bantulah kami Yang Mulia,” ungkap seorang rakyat kelinci bersungut-sungut kepada Sang Raja.
Mendengar permintaan yang begitu menyentuh hati dari rakyatnya, membuat Sang Raja sedih dan memutar otak.
“Wahai rakyatku yang kusayangi. Baiklah, kami akan berusaha sekuat tenaga mencarikan jalan keluar untuk kalian. Maka dari itu bersabarlah untuk sementara waktu,” seru Sang Raja Kelinci kepada rakyatnya.
Yakin dengan ucapan rajanya, rakyat kelinci pun meninggalkan kerajaan dan berdoa agar keluarga kerajaan mampu menyelesaikan masalah yang tengah mereka hadapi.
Tak berapa lama kemudian. Sang Raja Kelinci pun mengumpulkan keluarga kerajaan di sebuah ruangan untuk menyampaikan sesuatu. Berkumpul lah ratu, putri, dan pangeran di sana.
“Hanya ada satu jalan yang bisa kita lakukan saat ini,” ucap Raja kepada keluarganya.
“Maksudmu, sayang?” tanya Ratu bingung menanggapi Raja.
“Ayah akan menurunkan para kesatria terhebat kerajaan, kan?” tanya Sang Putri menegaskan pernyataan ayahnya, Sang Raja Kelinci.
Kaget mendengar pertanyaan putrinya, Sang Ratu kembali bertanya, “Benarkah itu wahai Yang Mulia?”
“Ya, Cindy benar. Hanya itu satu-satunya rencana yang aku punya untuk menghadapi para pemangsa raksasa ini,” jawab Raja menegaskan.
Sang Ratu yang mulai ketakutan pun kembali bertanya kepada suaminya, “Tapi, Sayangku. Sekuat apa pun kesatria terhebat kita, tak akan berkutik jika melawan para raksasa itu. Nyawa mereka akan terbuang percuma.”
“Jangan khawatir. Aku sendiri yang akan memimpin mereka. Apa pun yang terjadi. Hanya ini satu-satunya kesempatan kita. Ini perintah sekaligus permintaanku kepada kalian,” ungkap Sang Raja Kelinci penuh wibawa meyakinkan keluarganya.
Namun Sang Putri Kelinci, Cindy, tak begitu saja menerima pernyataan ayah sekaligus rajanya. Sebagai anak tertua dan putri yang terkenal dengan kecerdasan dan keberaniannya, ia ingin sekali menyelamatkan rakyatnya. Di saat kerusuhan oleh para pemangsa terjadi, ternyata Cindy telah melihat kelemahan-kelemahan mereka. Ia pun mengusulkan sebuah ide kepada Sang Raja.
“Wahai ayahanda, aku punya rencana untuk menyelamatkan kita dari pemangsa dan musim dingin tanpa harus mengorbankan kesatria terbaik kita. Namun aku butuh tenaga dari seluruh rakyat kelinci.”
Setelah mendengar ide dari Putri Cindy, Sang Raja pun takut sekaligus terkagum-kagum. Ia takut anaknya yang memimpin rencana ini akan menjadi korban, namun ia kagum karena ide Sang Putri Kelinci begitu cemerlang.
Dikumpulkanlah rakyat oleh keluarga kerajaan. Cindy selaku pemimpin pun menceritakan rencananya.
“Wahai rakyatku yang kucintai. Kita akan mengusir para pemangsa itu. Namun rencana ini butuh tenaga semua orang. Inilah rencananya.”
Setelah cukup lama mendengar rencana dari Putri Cindy. Rakyat pun merasakan ada harapan yang besar untuk mereka. Dengan semangat yang menggebu-gebu rakyat pun mempersiapkan rencana Putri Cindy itu dengan sangat matang.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Rakyat kelinci dipimpin Putri Cindy memulai rencana mereka. Melalui liang yang sebelumnya telah mereka gali begitu dalam di bawah batu-batu besar, seekor kelinci yang terkenal sebagai kelinci pelari tercepat di dunia, Tiltil, keluar dari salah satu liang berlari memancing para rubah.
Para rubah terpancing. Mereka berbondong-bondong mengejar Tiltil. Setiap kali rasanya mereka hampir mendapatkan Tiltil, Tiltil dibantu rakyat kelinci yang lain memasuki liang-liang mereka. Masuk dari satu liang lalu keluar ke liang yang lain. Para rubah yang mengejar pun sering berbenturan dengan sesama rubah. Karena sifat mereka yang arogan dan emosian, mereka pun akhirnya saling bertengkar.
Para ular yang kesal melihat kebodohan para rubah pun akhirnya turun tangan dan lancang memasuki wilayah para rubah. Mereka pun dengan gesit turut mencoba menangkap Tiltil. Di saat itulah rencana selanjutnya dilancarkan. Para kesatria terhebat kerajaan kelinci diturunkan. Jika melawan rubah kemungkinan besar kesatria kelinci akan kalah, namun tidak berlaku untuk ular. Para kesatria terhebat kelinci sudah ratusan tahun dilatih melawan bangsa ular. Meski membutuhkan waktu yang cukup lama, akhirnya para ular babak belur oleh kesatria kelinci.
Tidak berhenti sampai di situ. Dari langit, bangsa elang yang selalu mengawasi akhirnya turun tangan. Mereka pun dengan lancang masuk ke kawasan rubah demi memangsa bangsa kelinci. Tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba para elang mendengar raungan yang keras dari pemangsanya, Serigala.
Auuuuu… Auuuuu
Belum sempat berburu, para elang malah sudah kocar-kacir pergi untuk menyelamatkan diri mereka. Mereka tak tahu bahwa sebenarnya suara tersebut dikeluarkan oleh rakyat kelinci yang sudah diajari mengaum oleh Putri Cindy. Hal ini juga merupakan sebuah fakta yang Putri Cindy ketahui saat ia melakukan pemantauan dahulu.
Bahkan kemenangan besar rakyat kelinci tidak berhenti sampai di situ. Keluarga rubah yang mengetahui wilayah mereka telah dengan lancang dimasuki ular dan elang pun tidak terima. Dengan amarah yang meledak-ledak, mereka pun memburu para ular dan elang. Hingga akhirnya, daerah tersebut bebas dari para pemangsa dan kembali ke tangan bangsa kelinci.
Setelah peristiwa besar itu. Bangsa kelinci pun kembali ke kehidupan mereka yang aman, nyaman, dan tenteram. Bahkan sekarang mereka tak lagi hidup sendiri-sendiri. Bangsa kelinci kini selalu hidup berkelompok dan saling tolong-menolong. Saking harmonisnya, setiap mereka berpapasan, mereka akan selalu bertegur sapa dengan cara saling menyentuhkan hidung.
Cindy pun dikenal dan dikenang sebagai Putri Kelinci yang Pemberani. Meski seorang perempuan, ia mampu memimpin dan menyelamatkan rakyatnya dari permasalahan yang melanda. n