Puisi-puisi Dadang Ari Murtono (Media Indonesia, 01 April 2018)

Bioskop Karlina
Dua puluh tahun kemudian, ia usap lagi
dinding yang sudah dilapisi lumut tipis itu
Di sana, dengan kapur yang ia curi dari
sekolah, ia pernah menulis: warkop dki, barry prima,
advent bangun, suzzana, eva arnaz, rhoma irama
*
di kursi plastik keras itu, ia pernah mengira
hari tak akan berlari
Dan ia selamanya kanak-kanak yang kabur
dari pelajaran matematika dan menjadi
satria bergitar
*
“Aku capek tumbuh dan menjadi tua,” gumamnya
Ia melihat gedung itu: renta dan rentan,
suwung dan bersawang
Seorang pemuda tanggung menatapnya tajam
sebelum mendatanginya dan menawarkan satu
tik pil dobell,
seorang perempuan setengah baya dengan mulut
bau arak mendatanginya dan menawarkan kencan
singkat
“Di situ, di plumpungan situ”
“Aku hanya ingin nonton bangkitnya si mata malaikat,”
ujarnya
“Tapi di sini, kenyataan lebih…
tapi di sini, tak ada lagi…”
*
Seharusnya hari tak perlu pergi
Makam Krapyak
Dengan tubuh lelah, ia berdiri
(ia tak bisa pulang, meski ingin)
dan ia lihat, di depannya, lanskap serupa
meja makan sehabis jamuan,
ia berdiri, dan tak tahu
untuk apa, atau apa yang ia tunggu
Tapi lima menit kemudian, ia mendengar suara
“aku tak akan mati hanya karena…”
angin mengaburkan suara itu, dan ia menggigil,
ia mengetatkan jaket, dan berpikir bahwa seseorang,
seseorang dari hari yang telah lama berlalu,
ingin berkata kepadanya
“Aku tak akan mati hanya karena…”
ia mengulanginya, lalu menduga-duga
Ia tahu, hanya mereka yang berdiam dalam cerita
yang tak bakal mati,
maka ia, demi seseorang yang tak ia tahu
tapi ia kira telah bersuara kepadanya,
mulai mereka-reka
“Barangkali namanya danurejo, atau sunan krapyak,
atau sunan pangkat, barangkali ia abdi diponegoro,
barangkali ia bekas bupati yang sakit hati,
barangkali ia terusir (seperti aku, seperti aku),
barangkali ia mangkat (dan bukannya mati)
dalam pengasingan di sini,
barangkali makamnya tak lagi bertanda,
barangkali ia bisa menjadi perantara doa-doa yang
baik”
Ia menghela napas,
ia lihat bulan berwarna ungu,
ia lihat kampung di bawahnya,
jauh di bawahnya, bergerak bersama awan,
Ia mulai percaya apa yang ia kira-kira adalah apa
yang
dulu sekali pernah terjadi, benar-benar terjadi,
maka ia hapus kata “barangkali”
dan menggantinya dengan batu-batu
yang ia tata tak jauh dari tempatnya berdiri,
Menjelang pagi, ia berkata, “di sinilah makam yang
hilang itu,
di sinilah”
Lalu dengan sebatang kentongan, ia turun ke padusan
untuk
mengabarkan kisah itu, “aku sedang bertawasul,” katanya
memulai cerita
Ia tak pernah ingin menjadi penyair atau pujangga,
maka
ia tak kecewa ketika orang-orang, di kemudian hari,
melupakan
namanya, membuatnya mati;
orang-orang yang ramai-ramai datang ke makam
buatannya dan berdoa di samping tatanan batu bisu
itu
Dusun Sendi
Seperti seorang turis, ia memandang sekitar;
bukit-bukit, pohon-pohon, jurang-jurang,
tiga ekor monyet yang menyembulkan
kepala dari balik semak,
lalu hari yang tak berlari
Ia mengatur lensa kamera, ia bersin-bersin,
sepatunya meleleh dan ia berjingkat
*
Tiga detik berikutnya, dusun itu menampakkan diri
melalui enam hektar sawah bedok, dan makam dengan
nisan
bertuliskan singojoyo dalam huruf jawa
Ia seperti pernah mendengar nama itu
*
“Barangkali aku pernah berada di sini,” gumamnya
Di luar dirinya, tujuh hantu romusha masih menggali
kaki bukit, membisu, mengekalkan apa yang tak bakal
terkatakan
*
Ia bayangkan tahun itu 1948
dan ia berdiri di tempatnya sekarang berada
Dua pesawat belanda menderu di atas kepalanya
dan memuntahkan dua belas butir bom
Seorang bocah berdiri dengan dada pecah,
seorang perempuan berdiri dengan dada pecah,
seorang lelaki berdiri dengan dada pecah
Dan pesawat itu menjatuhkan tiga butir bom lagi
Ia lihat seringai si pilot
*
Hari jadi sore juga,
ia meraba wajahnya yang tiba-tiba keriput
“Umur,” ia menggumam,
“Tak pernah sepanjang kenangan atau cerita,” tambahnya
Ia lelah, ia ingin berbaring,
dan melihat langit biru
Sebentar lagi, ia tahu,
seseorang akan menghapus namanya,
lalu melupakan bahwa ia pernah ada,
seperti para pencatat di kantor kabupaten, yang menghapus
dusun itu
*
Seperti seorang tualang yang pulang,
ia memejamkan mata, angin berdesir, detik memanjang,
ia merasa damai, ia tak ingin pergi