Oleh Rezha Yazti Septiviana (Lampung Post, 01 April 2018)

Leil menatap kalender di kamarnya dengan perasaan bersalah. Lusa adalah hari ulang tahun mamanya, tapi dia lupa. Dia lupa menabung untuk membeli kado.
“Lusa apa yang harus aku berikan untuk mama? Uang untuk membeli pun aku tidak punya. Huft..” Leil mengeluh. Dia merasa sangat sedih bila tidak bisa memberikan apa pun untuk mamanya.
Esoknya, Leil menunggu mamanya menjemput di sekolah. Namun sampai sesiang itu mama Leil belum juga datang menjemput. Akhirnya Leil memutuskan untuk pulang berjalan kaki.
Leil berjalan melewati sebuah gang. Terlihat di ujung gang itu ada toko bertuliskan “Budi Bakery”. Leil teringat, saat papanya belum meninggal dunia dan mamanya belum sibuk bekerja, dia sering diajak jalan-jalan dan membeli roti di toko milik Pak Budi tersebut.
“Wah, ini kan toko roti Pak Budi. Sudah lama mama tidak mengajakku ke sini,” kata Leil. Dia lalu merogoh uang sakunya. Masih ada selembar sepuluh ribuan.
“Masih cukup untuk membeli dua potong roti, untuk aku dan mama,” batinnya lalu bergegas masuk ke toko roti itu.
“Siang, Pak Budi,” sapa Leil kepada Pak Budi yang sedang berjaga.
“Eh, hai Leil. Sudah lama tidak mampir. Apa kabar?” balas Pak Budi.
“Iya Pak, sekarang mama sibuk, jadi sudah jarang jalan-jalan. Kabar Leil juga agak buruk, Pak,” jawab Leil dengan murung.
“Loh? Memangnya ada apa, Leil? Coba cerita pada Pak Budi,” kata Pak Budi.
“Begini Pak, besok ulang tahun mama, tapi Leil tidak punya uang untuk membeli kado,” ucap Leil sedih.
“Ng.. Jangan sedih, Bapak punya ide agar Leil bisa memberikan kado ulang tahun yang spesial buat mama Lei,” kata Pak Budi sambil tersenyum penuh misteri.
“Benar, Pak?” tanya Leil dengan mata bersinar.
“Iya benar, Leil. Tapi sebagai syaratnya kamu harus tersenyum,” ujar Pak Budi sambil menarik kedua ujung bibir Leil, kemudian melepasnya. Leil pun tersenyum lega.
Pak Budi lalu mengambil sepotong kue dengan krim putih dan permen kecil warna-warni di atasnya. Terlihat lezat sekali.
“Itu kue apa, Pak Budi?” tanya Leil penasaran.
“Ini namanya rainbow cake. Coba kamu lihat ini,” kata Pak Budi sambil memotong kue tersebut. Terlihat bagian dalam kue tersebut berwarna-warni seperti pelangi.
“Wah…,” Leil kagum pada kue bikinan Pak Budi itu.
“Nah, kamu mau coba bikin kue ini tidak, Leil?” tawar Pak Budi.
“Boleh, Pak,” sahut Leil bersemangat.
Pak Budi lalu mengajari Leil cara membuat rainbow cake. Sepanjang membuat kue, Leil tidak henti-hentinya mengembangkan senyum manis.
“Happy Birthday, Mom. I Love You,” tulis Leil di atas kue buatannya. Kue itu akan Leil berikan sebagai kado ulang tahun untuk mamanya besok. Dia juga berencana membuat pesta kecil untuk mamanya.
Sesampai di rumah, ternyata mama Leil sudah pulang dari kantor dan telah menunggu Leil di depan pintu.
“Leil, dari mana saja kamu?” ucap mama Leil dengan tegas. Leil hanya bisa menunduk dan terdiam tidak mau menjawab pertanyaan mamanya.
Melihat wajah Leil yang takut, wajah marah mamanya berubah menjadi lembut kembali.
“Sayang, kalau mama belum datang jangan pergi dulu ya, kalaupun Leil mau main ke rumah teman, Leil harus bilang dulu ke mama. Sudah, sana Leil masuk ke dalam dan mandi ya,” Leil pun masuk dengan wajah murung karena merasa bersalah telah membuat mamanya khawatir.
Esok harinya, karena akhir pekan Leil libur sekolah. Dia pun berencana untuk mulai mempersiapkan pesta kecil untuk mamanya. Ia mulai dengan menghias langit-langit kamar mama Leil, Leil membuat hiasan-hiasan dari kertas warna-warni. Rainbow cake buatannya sudah Pak Budi antarkan ke rumah Leil, namun sayang Pak Budi harus buru-buru kembali ke tokonya. Setelah semua selesai, sembari menunggu mamanya pulang, Leil beristirahat sambil tiduran di ranjang mamanya.
Sudah pukul lima sore, namun mama Leil belum juga pulang. Karena lelah. Leil pun tertidur hingga matahari terbenam, Nenek Leil tidak membangunkannya.
Saat mama Leil pulang. Leil masih pulas. Mama Leil kaget melihat kamarnya dihias seindah itu. Dia mendekati Leil yang tengah tertidur pulas. Dilihatnya rainbow cake dan lilin berbentuk angka tiga dan lima di atasnya yang tergeletak di samping ranjang. Di bawah nampan tempat kue itu terselip surat. Dari Leil untuk mamanya.
“Selamat Ulang Tahun Mama. Semoga panjang umur dan selalu sayang sama Leil. Kemarin Leil tidak pergi bermain, tetapi membuat kue ini dibantu oleh Pak Budi, pemilik toko kue langganan kita dulu. Namanya rainbow cake banyak warnanya sebanyak sayang Leil pada mama. I Love You.”
Mama Leil terharu membaca surat itu, kemudian ia berbisik pelan di telinga Leil yang tengah tertidur agar tak membangunkannya.
“I love you too, sayang,” ucap mama Leil dengan matanya berkaca-kaca. n