Misteri Rumah Baru

Benar dugaanku, ternyata mama sudah tahu cerita tentang rumah ini, persis seperti yang dikatakan Alea padaku. Di rumah ini ada makhluk halus berkelamin perempuan, hanya itu yang dikatakan Alea, teman baruku yang mampu membuatku tenggelam jauh ke dasar mengikuti arus rasa penasaran mengenai rumah yang baru kami tempati ini. Ayah bilang berhasil membeli rumah ini sangat menguntungkan. Harganya murah, pekarangannya luas, dan ada taman-taman bunga. Aku pun merasakan kenyamanan tinggal di sini yakni kenal Alea.

***

“Hei, siapa kamu? Sedang apa di pekarangan rumahku?” teriakku di belakang rumah dekat teduhan pohon durian yang kebetulan sedang musim panen buah.

Gadis itu diam, tetap duduk di bangku taman dekat pohon durian itu. “Oh… aku tahu, kamu mau mencuri ya? Kupikir orang kampung beda dengan orang kota. Kata Alea orang kampung memiliki tata krama dan sopan santun. Bukan menyelinap diam-diam ke rumah orang. Ternyata sama saja kayak orang di kotaku suka mencari kesempatan dalam silap mata hilang segala barang yang kupunya bisa-bisa kalau begini jadinya. Mengambil yang bukan haknya.” Aku kaget seraya menutup mulutku dengan tanganku. Tak biasanya aku berkata seenaknya dan berkata kasar terhadap orang lain, terlebih pada seorang gadis.

Dia tetap diam, tapi semakin merunduk menatap rerumputan yang menutupi kedua kakinya. Kudekati gadis itu, duduk di sampingnya. “Maaf, aku hanya bercanda, jangan menangis ya? Aku lupa kata ibu pohon durian ini, memang diperbolehkan diambil siapa pun jika buahnya jatuh. Maaf ya, jangan nangis.” Kusodorkan tanganku berinisiatif mengajaknya berkenalan.

“Ifan, panggil saja Fani biar kedengaran imut-imut.”

Kupikir dia akan tertawa mendengar panggilan namaku yang sebenarnya bukanlah nama panggilanku. Dugaanku meleset, dia hanya menjawab seadanya. Kania, itu namanya, serasi disandingkan dengan wajahnya yang cantik. Rambut sebahu, lesung pipi yang indah, bentuk mata dan alis yang sangat serasi dengannya. Sedikit luka di pergelangan tangan kanannya sepanjang enam sentimeter.

“Mana Ifan ma?” Suara itu tak asing kudengar. Membuatku tersentak bangun dari tidur. Kulihat jam 9 pagi. Untung hari ini libur, jika tidak sudah pasti kena hukuman di sekolah datang terlambat.

“Wah, paten sekali anak papa, jam segini baru bangun. Dari tadi mamamu bilang kamu nggak bangun-bangun.” Papa menyindirku halus, sehalus wajah Kania. Ya, Kania namanya.

“Ah papa sedap kali nyindirnya.”

***

Arsip Cerpen di Indonesia