Misteri Rumah Baru

Aku ke rumah Alea memulangkan buku cerita yang kupinjam darinya. Selain itu sebagai alasanku untuk bertemu dengannya juga untuk berlama-lama berdua dengannya. Aku merasa nyaman dan senang saja bila bersamanya di lingkungan yang baru dan memang sulit bagiku mendapatkan teman yang pas selain dia.

“Fan, betulan kau tidak pernah diganggu di rumah itu?” Lagi-lagi Alea menyinggung rumah yang kutempati.

“Nggak ada. Cuma tadi aku ada mimpi bertemu dengan…”

Alea langsung melanjutkan, “Perempuan ‘kan, usianya tak lebih sama seperti kita. Kania namanya? Ada sedikit bekas luka di pergelangan tangannya?”

Jantungku berdegup tak beraturan mendengar Alea menyebut nama Kania. Tepat seperti yang ada dalam mimpiku.

“Dia gadis yang bunuh diri di rumah itu, Fan!”

Aku terdiam. Teringat ucapan Kania yang menyuruhku untuk jangan takut tinggal di rumah itu karena rumah itu tak angker dan tak menyeramkan.

“Benar kata Alea, dan juga orang kampungku selama ini, bahwa rumah yang kutempati ada makhluk halusnya. Tapi aku tidak takut, selagi aku tidak diganggu,” gumamku dalam hati. *

 

Mei 2017

Arsip Cerpen di Indonesia