Cerita Burung, Hujan dan Petrichor; dan Lainnya

Puisi-puisi Faris Al Faisal (Media Indonesia, 06 Mei 2016)

Cerita Burung, Hujan, Petrichor, dan Lainnya ilustrasi Media Indonesia
Cerita Burung, Hujan, Petrichor, dan Lainnya ilustrasi Media Indonesia

Cerita Burung, Hujan dan Petrichor

 

/1/ Kapan turun hujan

daun-daun jatuh di tanah merah

pohon-pohon kehidupan gerah

ilalang-ilalang kering kerontang

rumput-rumput memilih tidur

bunga-bunga enggan tersenyum

burung-burung lelah berkicau

udara bercampur debu

anak-anak berkeringat

dewasa tak bersemangat

orang tua makin keriput

hari terasa panas

terkulai pasrah

menanti curah

lirih dan tertatih

“Kapan turun hujan?” katanya.

 

/2/ Burung pembawa kabar gembira

anak-anak menunjuk-nunjuk kawanan

burung bangau di angkasa

“burung banyak sekali ayah,” ucapnya

kepada lelaki bercaping lebar

tersenyum bibirnya bergetar

matanya bercahaya penuh bahagia

“mereka akan memanggil hujan,

membawa kabar gembira,” jawabnya

tanpa keraguan.

 

/3/ Petrichor

awan hitam berarak-arak,

kilat dan guruh menggoda

di atap rumah bunyi air bergemeratak

kecil, berinai-rinai

malu-malu, berderap dan melenyap

nyanyian-nyanyian turun hujan didendangkan

tauge, tauge, udane tambah gede

hujan jatuh di pegunungan

turun di pemukiman

di pelataran bocah-bocah bergembira

orang-orang menghambur

semusim dipanasi

dibalas hujan sehari

tanah meresap

mengeluarkan bau sedap

petrichor hujan pertama

bumi jadi lebih muda.

 

Indramayu, 2018

 

Berlayar di Samudera, Layar Terkembang Surut Berpantang

 

/1/ Dari batangan itu

orang-orang mengolah kayu

membelah batang, merakit perahu

memasang tali-temali

tiang layar, kemudi

dan juga pukat

dirajahnya bagai tangan-tangan Nuh

membangunkan bahtera-bahtera handal

jung jawa, pinisi, pencalang, perahu cadik

dilungsurkan ke tengah lautan

berlayar di samudera

layar terkembang

surut berpantang

awak kapal tak akan pulang

nahkoda memimpin pelayaran

menafsir ombak dan gelombang

membaca bintang gemintang

mengetahui gerombolan ikan

membawa perniagaan

rempah-rempah, kopra, padi

lada, pala, kayu

emas, sutra, gaharu

menandakan negeri bahari

memajukan ibu pertiwi.

 

/2// Jalesveva Jayamahe

armada-armada menjaga

pulau-pulau, kekayaan alam laut

dari perompak, dari bajak laut

juga kapal-kapal asing

melindungi pelaut-pelautnya

nelayan-nelayan kecil

mengarungi lautan

berpeluk angin dan gelombang

melawan amuk badai

katanya, “Jalesveva jayamahe.”

lihatlah kemudian

bandar-bandar ramai

dermaga-dermaga kemilau

lampu-lampu benderang

tiang-tiang kukuh terpancang

pelabuhan bergairah

kapal-kapal berlabuh

melempar sauh

datang pergi

naik turunkan barang

dan penumpang

anak-anak bermain di ujung pelabuhan

juga sepasang kekasih mengadu kasih.

 

/3/// Kejayaan negeri bahari

nusantara dalam gugusan

pulau-pulaunya

bahtera bersiar silang ke tanah

daratannya

menuju sungai yang berjeram

muara dengan air yang dalam

dermaga dengan lelaki-lelaki perkasa

pelabuhan dengan keringat berpeluh

entah kurun kapan

kembalinya Sriwijaya

kembalinya Majapahit

kembalinya Demak

membesarkan bandar-bandar

menguatkan armada-armada

lautku hidup dan matiku

mimpi negeri bahari

di lautmu segala hidup ditabalkan

di ombakmu peristiwa-peristiwa mengalir

peradaban demi peradaban lahir

bergelora membawa arus perubahan

nusantara berjaya.

 

Indramayu, 2018

 

Zinnia, di Langit Senja Kuhamburkan Kata-kata Rindu

 

/1/

Zinnia, bunga kertasku di dalam kelas

pernah kutuliskan pada lembaranmu

puisi-puisi, surat-surat dan pesan yang kutitipkan

melalui kawan

di bawah pohon akasia, di belakang halaman sekolah

itu

aku menunggu.

kicau burung menyenandungkan siul rindu

katamu, “Aku akan datang.”

 

/2//

Dalam awan-gemawan yang berarak-arak

angin menjatuhkan daun-daun

bahkan harapanku. peluh, kelu

meringkus ruang dadaku, menyesakkan.

daun berjarum, ranting menikam, pokok batang

menghantam

seorang kawan melayangkan nota balasan

“Ini surat zinnia, ia telah pindah.”

 

/3///

Kubaca, kudekap suratmu. Ribuan hari sudah

tintanya telah menguap, tulisannya meleleh

bekas tetes kesedihan di sana–di sini

suratmu zinnia, lusuh penuh lipatan

aku menyimpannya entah berapa lama

kata-katanya menjadi batu rindu,

kalimat-kalimatnya mengandung batu pilu. Bisu.

 

/4////

Jangan kau kira aku tak membalasmu

sudahkah kau terima?

sebab setelah itu kawat pun terputus

dinding-dinding menebal, tak tahu kau di mana?

untuk bicara rindu sepatah kata pun,

tak jua kutemukan teman bicara

kecuali suratmu itu.

 

/5/////

Zinnia, di langit senja itu

kata-kata rindu kuhamburkan

meski tak jua langit menurunkan hujan rindu darimu.

 

Indramayu, 2018

 

Faris Al Faisal, lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat. Ia bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya ialah novel Bunga Narsis Mazaya di Publishing House (2017), antologi puisi Bunga Kata di Karyapedia Publisher (2017), dan kumpulan cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017).

Arsip Cerpen di Indonesia