Puisi-puisi Muhammad Alfariezie (Lampung Post, 13 Mei 2018)

Maaf Bapak Kucinta Perempuan Buddha
Telah kusumbat perahu
agar berlayar di laut lepas
walau nanti tak kumakan ikan
setidaknya bulan becermin kulihat
Lalu kuceritakan pada ibu
ada pulau di huni bekantan
lalu pada bapak
bahwa samudera ialah hijau
Barangkali
mereka sudi kucium
hingga keningnya bergambar bibir
2018
Laut
Aku adalah lelaki
sebagaimana matahari dan rembulan
atau bintang-bintang liar
diriku ngambang lalu berenang
Maka ibu
pelayaran ini karena putih pasir pantai
2018
Pulau
Pernah kuberlari dan andun masuk
hutan
karena lagu tentang perdu
tapi setelah selesai
dan kudengar
ternyata tentang ular
Namun.. Ya itulah
aku takkan pernah jelma pepohonan
karena ada yang marah
ketika berenang
ke pulau nun jauh di seberang
2018
Rantai
Seperti merpati menukik
dari ketinggian
walau ini sayap mengembang
tapi bagaimana berarah
jikalau betinanya dalam sangkar
Dan, bagai di puncak gunung hanya
bertemu perdu
hingga gatal
karena tubuh dikecup peluk nyamuk
Sedang kulihat sungai
ikan-ikan berenang
2018
Mawar
Ini jemari berdarah karena mawar yang
kau tanam liar karena hujan
sedang kau senyum memandang
kembang
hingga diriku merupa duri
Biar. Biarku menjadi pisau
kuingin belah daging
karena betapa lapar cacing
dalam perut
Tapi, jika belum kenyang
biarlah keroncongan
agar banyak
yang dengar ada nyanyian
2018
Asin
Tahu air laut asin masih kau cecap
garam apa lupa pada
bibir semanis madu?;
ingat kembali kumbang di pucuk
kembangagar engkau
lihat rembang petang
2018
Kekasih
Hujan telah usai
dan pelangi becermin
di kelopak mata
tapi mengapa
pucuk bebungaan
tak datang kumbang?
padahal senja sebentar lagi
dan bulan akan ngambang
lalu jangkrik berderik;
ah, pabila laut bergelombang
apakah harus ku andun masuk hutan?
2018