Mesatya, Mythomania, Kemolekan Landak, dan Lainnya

Puisi-puisi Warih Wisatsana (Kompas, 19 Mei 2018)

Evening Meditation ilustrasi Getarti Donny Nitisastro - Kompas.jpg
Evening Meditation ilustrasi Getarti “Donny” Nitisastro/Kompas

Kemolekan Landak

kepada Muriel Barbery

 

Sungguh tak ada nama kita di sini

Percuma merunut kata

hingga akhir cerita

 

Bukankah kita lalat tak ingin putus asa

berkali merabenturkan diri ke kaca

berulang terbangun dini hari

mencari padanan arti

menimang bunyi

 

Menemnkan goa tersembunyi dalam kata

dengan remang cahaya di ujungnya

Jalan berliku ke masa lalu

di mana kau dan aku meragu

bertanya selalu

Pada diri siapakah cermin ini terpahami?

 

Tapi semalaman tak kunjung kita temukan kiasan

bagi ular yang semusim melingkar di belukar

 

Atau buah a pel dalam ingatan

yang membusuk perlahan

di mana seekor ulat merelakan rumah raganya

sebelum terbang jadi lebah kasmaran

bercumbu sekali lalu mati sendiri

 

Semalaman tak juga kita temukan

pengandaian sempuma bagi sangjuru jaga

Landak molek

yang menyimpan duri dalam diri

menahun di batin tak tersembuhkan

 

Berulang kita menimbang

meluluhkan arti dan bunyi

agar kisah ini direnungi berkali

mengalir dari kamar ke kamar

bagai tulisan pesan orang mati

 

Mengalir seturut kelana kucing tua

yang tidur di sembarang taman

mengikuti dari kejauhan dua

perempuan paruh baya

terdiam

menyeberangi malam

 

Sungguhkah setiap hari menunggu

seseorang mengetuk pintu

sambil menghapal derik jengkrik

dalam haiku

yang tak kunjung

sehening petang

Seraya minum teh

meresapi kehampaan

 

Tapi tak ada yang menyadari

di lantai tertinggi gedung menjulang ini

seorang bocah melankolia

jemu pada ibu

Membayangkan bunuh diri setahun lagi

 

Tak kuasa ia melupakan bunga violet muda

hiasan aneka pakaian dalam

selembut jaring laba-laba

yang mengelabui mata

Sederas ingatan cemas

seharian menghanyutkan ibu ke dalam cermin

 

Ya. tak ada nama kita di sini

 

Percuma merunut kata

hingga akhir cerita

 

Semua ini bermula dari lelaki tua

berharap terlihat selalu bijaksana

dengan segala mungkin

ingin putri terkasihnya

menjelma si jelita panggung semalaman

 

Kiasan sempuma bagi landak molek

yang menyembunyikan duri dalam dirinya

 

2018

 

Sehari Saja Bebas di Jalan Bypass

 

Pertapa bisu. Serangga lemah

yang berumah di celah tanah

Lengkingkan lagi lagu riangmu

 

Gamang melaju di jalanan remang masa depan

jalan lurus bebas hambatan

Ayo, kita mabuk. Lupakan sejenak

apakah engkau segera akan tiba di tujuan

atau ringsek ditubruk nasib buruk

 

Ayo, kita mabuk. Siulkan lagi lagu riang

Pesta cahaya bulan di alang-alang

Musim kawin katak hijau. Atau nyanyi peri

hutan lindung masa kanak

 

Karena jagat raya ini tak bersebab

Sehari saja bebaskan diri dari tanya

Tak penting, apa kelak kita akan menitis

jadi makhluk mulia

atau cuma segumpal tanah liat

 

Sehari saja bebas

dari sebab dan jawab

Jangan tanya apakah

hanya dalam sebaris sajak

Sorga menjelma nyata di bumi

 

Ayo, kita mabuk. Bergegas di jalan lurus

Menjadi binatang usiran

yang dihinakan dan dilupakan

Pasrah berumah di celah dingin tanah

 

2017

 

Mesatya

 

(1)

Ini tarian terakhirmu yang indah

atau tubuh pas rail yang sedih

 

Penulis lakon itu mengelabuimu

membujukmu jadi sita yang setia

berserah diri

terjun ke unggun api

padahal aku bukan titisan rama

bukan pula samaran rahwana

 

Ia menjanjikanmu kisah abadi

tersurat prasasti di kaki candi

sebagai putri terpilih tak terganti

Seakan hari terlunasi dan tergenapi

 

Padahal semalaman

kita telah mengubah akhir cerita

pangeran itu mereguk secawan racun

menolak kutuk langit

yakin dirinya suci

tak akan mati hari ini

 

Adapun raja tua durjana tewas di pembaringan

dengan sehilah pisau tipis menembus jantung

 

Ia sempat memuji wangi tubuhmu

kemudian napasnya tersengal

menyadari ajal sejengkal dari sesal

 

(2)

Tapi semalaman di atas panggung

penulis lakon itu berulang membujukmu

meyakinkanku

bahwa wanita sempuma

sebagai mana sita setia tak ternoda

 

Tersurat segalanya pada cerita kitab lama

seturut riwayat dan bikayat

yang tak tercatat

Bahwa unggun api ini kekal dalam diri

terus menyala menguji hati sungguhkah suci

 

Bahwa tubuh perempuan yang bersalah

hanya akan menyisakan puing

hidup padam

segelap arang

 

(3)

Bukankah kita sepakat

mengelabui penulis lakon itu

di atas panggung pada akhir cerita

unggun api padam sebelum kau terjun

 

Tubuhmu seketika menderas hujan

luluh meremang

lalu payung payung

melayang turun perlahan

 

Kita sehening dinding

memandang ranjang

berangsur hilang

 

Tapi ini tubuh pasrah yang indah

atau tarian terakhirmu yang sedih?

 

(4)

Penulis lakon itu berkali meyakinkanmu

sita bahagia karena sungguh tak ternoda

 

Padabal ia sendiri mungkin tak percaya

 

2018

 

Mythomania

 

Yang paling jenaka adalah diriku

setiap petang mengunjungi semua orang

membayangkan mereka sebagai dinding

atau selembar cermin berbagi murung

 

Mereka merasa pangeran budiman

samaran rubah gunung yang lembut hati

Seakan sungguh dalam diriku

tersembunyi boneka kikuk terkasih

sepenuh hari ingin dilindungi dan dicintai

 

Berkali kukisahkan tupai sebatang kara

tertidur bahagia di pohon tua tepi belantara

dalam naungan rasi bintang cemerlang

yang tak pernah ingkar janji

mengelilingi bumi seratus tahun sekali

 

Bila mereka mulai sangsi akan ceritaku

seketika kutanyakan teka teki ini

Mengapa di segala cermin sekalian dinding

selalu berlapis bayang

tak dapat diterka wujud rupa sebenarnya?

 

Sungguhkah rubah yang sesat di pedusunan

akan jinak oleh belas kasih dan uluran kebaikan

seturut dongeng ibu yang dulu berkali dituturkan?

 

Mungkin mereka ragu atau bahkan haru

terkenang masa kanak berlimpali sukacita

melamunkan hari tua tak bahagia

Berpura memahami betapa setiap wajah

menyimpan wajah lain, muslihat atau siasat

tak lebih pemiainan jerat

tali temali nasib dan peruntungan

yang datang berulang

 

Tapi sungguhkah kita tak menyadari

kawan sepenanggungan setiap hari

mengandaikan diri

seekor ikan kecil

dalam botol kecil

hanya kuasa mengibaskan ekor sesekali

 

Yang paling jenaka adalah aku

setiap petang mendatangi cermin dan dinding

merasa bahwa wajah semua orang

tak lebih si culas nan cerdas

Ataukah si cerdik tak hendak licik, berlapis tipis

dalam remang pandang dalam samar bayang

Serupa tupai dan rubah yang bersembunyi dalam diri

 

2018

 

Warih Wisatsana tinggal di Denpasar, Bali. Kumpulan puisinya yang terbaru adalah Pualam Malam (segera terbit).

Arsip Cerpen di Indonesia