Mengapa Kamu Takut?

Sekolahnya juga tidak memakai seragam. Agar siswa bebas bermain tanpa takut kotor, tanpa takut dibedakan. Saya melibatkan penduduk sebagai guru pertanian, pertukangan, sampai kebijaksanaan hidup.

“Bubarkan! Bubarkan, sekolah teroris!” teriak mereka, ketika saya sampai.

Anak-anak berkumpul ketakutan di sisi kelas. Sebagian dari mereka segera dijemput orang tuanya. Saya bertanya mengapa orang-orang menuduh demikian jahat.

“Ini sekolah di kaki bukit,” ujar seorang dengan pedang. “Menepi, seperti latihan-latihan teroris. Juga gratis. Dana darimana kalau bukan dari teroris luar negeri, hah?!”

“O, begitu. Justru seharusnya sekolah itu di tepi. Jauh dari keriuhan dan isu-isu di kota atau di dalam televisi. Anak-anak harus belajar dengan tenang mengembangkan dirinya. Soal dana, kami punya kolam ikan banyak, lihat. Kami juga membuat kerajinan yang dilatih para pakar sekitar sini. Dan punya usaha lain. Ini sekolah untuk belajar hidup, bukan untuk gengsi. Kami belajar mandiri di sini.”

Tidak punya dalih lain, dia beranjak membawa teman-temannya menjauh dari provokasi, yang mengakibatkan warga ramai.

Mereka bubar dengan motor sambil berteriak promosi ke warga:

“Lebih baik sekolah di sana. Ini brosurnya. Ada diskon uang bangunan lima puluh persen untuk pendaftar pertama. Bonus kaos kaki, alat tulis, sepatu, dan bubur kacang ijo tiap hari Senin minggu pertama tiap bulannya. Ayo, ayo! Jangan sampai kehabisan kursi.”

 

(2018)

*) Eko Triono, pengajar dan penulis. Buku ceritanya, Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (Divapress, 2016) pemenang penghargaan Balai Bahasa Yogyakarta kategori sastra Indonesia (2017).

Arsip Cerpen di Indonesia